<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8007565526840934248</id><updated>2012-02-16T10:07:34.603-08:00</updated><title type='text'>Dandelion</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://beyondureyes.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8007565526840934248/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://beyondureyes.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Dandelion</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01021338332393636313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>18</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8007565526840934248.post-2555973624621039023</id><published>2008-10-20T08:28:00.000-07:00</published><updated>2008-10-20T08:30:44.593-07:00</updated><title type='text'>enambelas</title><content type='html'>Ponselku bergetar dan membuatku terbangun. Sebuah pesan singkat terpampang pada layarnya dan dengan pandangan yang setengah kabur aku membukanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold; color: rgb(153, 51, 153);"&gt;Bisakah kita bertemu sekarang? Aku di depan rumahmu…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan pesan itu dari Fred. Aku mengerjap-ngerjapkan mataku dan menegakkan badan, menggeliat dan menguap. Ini jam berapa? Dan saat kulihat jam di ponselku, disana ada angka 5.30 di layarnya. Apa dia gila?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku segera membuka jendela dan dia berdiri di bawah sana, sedang memandang ke atas dan dia memberi tanda padaku agar aku turun. Aku segera menutup tirai, mengganti piyamaku dengan sweater dan celana jins, menyikat gigi dan segera turun untuk bergabung dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa?” tanyaku sambil mengikat rambut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu, ayo..” dan dia membukakan pintu mobilnya untukku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa lagi sih ini? dan sambil menebak-nebak selama perjalanan dalam mobilnya aku merasa perasaan teraneh dalam hidupku dan itu dinamakan, rindu. Indah sekali rasanya. Dan selama perjalanan kami hanya bicara satu dua kata, aku sendiri lebih banyak melihat keluar jendela, melihat orang-orang mulai melanjutkan aktivitas mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini mobilnya merapat pada trotoar, matahari samar-samar muncul di ufuk timur dan burung-burung berkicau. Dia turun dari mobil dan aku mengikutinya, entah kami ada dimana yang jelas di depanku adalah sebuah gedung tua dan di sekitar gedung itu adalah beberapa orang sedang lari pagi sendiri atau dengan anjing mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengeluarkan sekerenceng kunci dan memasukkan salah satunya pada pintu depan gedung itu dan dengan bunyi ‘klik’ pintu itu terbuka. Dia membimbing jalanku melewati pintu depan gedung putih yang berwarna kecokelatan karena kotor itu. Ruangan di dalamnya bisa dibilang rapi namun tidak ada orang, sepi dan gelap. Aku punya perasaan tidak nyaman di dalam sini.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Ini adalah kantor Ayahku yang akan dijual karena akan berganti lokasi..” katanya dan dia menaiki tangga dan menyuruhku mengikutinya. Dan ternyata acara naik tangga berubah menjadi olahraga pagi karena tangga yang kami naiki rasanya tidak habis-habis.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Berapa banyak lagi sih tangganya? Aku mulai lelah.” Kataku memprotes dan dia hanya tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Beberapa.” Jawabnya singkat dan dia terus naik. Kakiku mulai sakit dan pegal saat akhirnya kami berhenti. Ini bukan lantai paling atas karena masih ada tangga lain yang menuju ke atas tapi dia membuka sebuah pintu dan memberi sinyal agar aku mengikutinya dan pintu ajaib itu, membimbingku ke tempat paling luar biasa dalam hidupku.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sinar-sinar hangat mentari menyentuh tubuhku dan saat itu kami berada di suatu tempat luas, mirip atap sekolah, namun dari tempat ini, kami bisa melihat gunung di kejauhan dan matahari yang melengkapi semua pemandangan indah di hadapan mata. Jajaran gunung berhimpit membentuk gugusan dari timur ke barat dan dari tempat ini kami bisa melihat setengah kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sinar matahari terpantul-pantul pada kaca mobil yang masih belum bergerak karena pemiliknya masih beristirahat, sinar matahari terpantul pada kaca-kaca gedung-gedung tinggi dan membuatnya terlihat seperti bercahaya, semuanya terlihat bercahaya dari atas sini.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ada perasaan bahwa tangan-tanganku yang kini terulur bisa memeluk semuanya dan setelah mengetahui bahwa aku tidak bisa maka aku hanya diam memandangnya, takjub oleh keindahan alam. Dan ini bukanlah kali pertama Fred menunjukkan keindahan padaku, dia sudah menunjukkan keindahan malam padaku dan kini keindahan mentari pagi yang baru terbit.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Indah..” kataku tanpa sadar dan dia tersenyum puas.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Sudah!” katanya tiba-tiba dan aku menoleh padanya, “apanya yang sudah?”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Terbayar sudah.” dan kini aku semakin bingung. “Sudah berminggu-minggu aku memikirkanmu dan bagaimana cara mengganti wajahmu yang sedih dalam kepalaku menjadi wajahmu yang bahagia seperti dulu. Dan aku tahu, mungkin pertemuan terakhir waktu itu adalah dengan hujan yang juga mempertemukan kita dulu…mungkin kau sudah lupa, tapi aku akan selalu ingat bagaimana kau menggigil kedinginan berjalan di trotoar dan membentakku saat kutawari tumpangan…” dia tertawa kecil dan aku merasa wajahku memerah, “ tapi kini aku ingin memulainya dari awal lagi, diawali dengan matahari terbit dan matahari akan selalu terbit setiap hari kan?” aku tidak percaya dengan perkataannya. Jadi dia membawaku kesini demi melihat reaksiku yang bahagia?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Aku akan pergi besok…” katanya tiba-tiba setelah diam beberapa saat. Aku merasa cekaman kesedihan dalam dadaku, namun kubiarkan dan kututupi dengan senyum. “Jam berapa?” tanyaku.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Jam 7 pagi.” Jawabnya singkat, matanya seperti selalu tertawa dan senyumnya bagaikan malaikat. Aku menolehkan pandanganku darinya pada pemandangan di hadapan kami. “Aku akan merindukanmu.” Kataku pelan dan kini mataku berair namun kuusap pergi. Aku tidak akan menangis pada hari seindah ini.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dan dalam sekejap kurasakan tangannya mendekapku dan kali ini aku tidak akan menepisnya. Dan saat matahari sudah terbit sepenuhnya, dengan demikian, tahun ajaran ini berakhir dengan seharusnya. Aku akan naik kelas dan melanjutkan hidupku dan Fred akan melanjutkan hidupnya di Amerika.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Aku tidak percaya ini akan berakhir.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sudah berakhir saat matahari keesokan harinya terbit. Saat jam menunjukkan pukul 7.00 keesokan harinya, aku mengirimkan pesan dari ponselku:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(204, 51, 204); font-style: italic;"&gt;take care…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan aku mendapatkan balasan cepat sekali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(204, 51, 204); font-weight: bold;"&gt;Goodbye Cres..thanks&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(204, 51, 204); font-weight: bold;"&gt;Take care..&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan aku membuka jendela kamarku dan menunggu. Menunggu hingga sebuah pesawat melintas di jendela kamarku dan aku sudah berjanji pada diriku untuk tidak menangis dan untuk alasan itulah aku tidak datang ke bandara, aku ingin melepasnya dengan rela, tidak dengan tangisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat sebuah pesawat putih melintas di langit pagi, dilatari sinar matahari pagi, aku menarik seuntai senyum dan melepas kepergiannya. Pesawat putihnya semakin tinggi dan tinggi, seperti bulu dandelion kecil yang terbang pergi. Selamat tinggal Fred, I’m going to miss you very soon…..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8007565526840934248-2555973624621039023?l=beyondureyes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://beyondureyes.blogspot.com/feeds/2555973624621039023/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8007565526840934248&amp;postID=2555973624621039023' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8007565526840934248/posts/default/2555973624621039023'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8007565526840934248/posts/default/2555973624621039023'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://beyondureyes.blogspot.com/2008/10/enambelas.html' title='enambelas'/><author><name>Dandelion</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01021338332393636313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8007565526840934248.post-6385668981849732879</id><published>2008-10-10T23:41:00.002-07:00</published><updated>2008-10-10T23:45:06.253-07:00</updated><title type='text'>limabelas</title><content type='html'>“Semuanya! Cepat!cepat! kita akan mulai dalam 5 menit!” suara Pak Didi membuat kami semua panik. Beberapa penari kalang kabut menyelesaikan dandanan mereka dan memakai topi mereka. “Bagaiman penampilanku?” tanya Erica dengan mata sungguh-sungguh padaku, aku yang sedang melamun langsung terkesiap, “Cantik!” kataku dan tepat saat itu tirai merah besar diangkat. Gemuruh tepuk tangan dari ratusan penonton membuat jantungku melompat-lompat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Begitu juga dengan yang lain. Perlahan musik mengalun lembut dari speaker-speaker besar hitam di pojok-pojok ruangan. Dengan segala keanggunan dan keindahan Casey melompat masuk ke atas panggung, memimpin penari lainnya yang muncul beberapa saat kemudian saat dia sudah menyelesaikan tarian balletnya. Aku tidak bisa berhenti memastikan pemain-pemain di adegan berikutnya sudah siap atau belum dan mereka sudah menyuruhku untuk tutup mulut karena membuat mereka gugup. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Aku pun gugup setengah mati, rasanya aku bisa pingsan kapan saja. Sungguh!&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Aku sudah memberikan mereka sinyal dengan tangan agar menaiki tangga yang akan membawa mereka ke atas panggung karena napasku mulai sesak, bukan karena panas di backstage, bukan karena bau kosmetik yang mengudara, tapi karena ini adalah suatu titik tolak besar dalam hidupku, pertama kalinya aku memimpin sesuatu yang benar-benar akbar.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mereka menaiki tangga dengan mulus dan Erica menguasai panggung saat musik sudah dimatikan. Aku segera berlari ke bagian pengurus speaker, memastikan mic jepit yang dipakai semua pemain bisa berjalan dengan baik. Lalu aku kembali ke balik panggung untuk melihat hasil latihan berbulan-bulan dari balik tirai hitam yang memisahkan backstage dengan panggung.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dekor yang luar biasa indah sudah terpasang dengan rapi di backgroundnya. Bahkan sebuah kastil raksasa yang terbuat dari sterofoam dan benar-benar bisa dimasuki sudah berdiri megah, mendominasi panggung.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Beberapa saat kemudian tibalah saatnya untuk Fred dan kawanan bangsawannya untuk berakting, aku sempat sekilas beradu mata dengannya, tapi seperti hari-hari sebelumnya, kualihkan pandanganku. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Ayo kalian pasti bisa!” bisikku menyemangati dan mereka membalas dengan senyum gugup dan aku tahu kegugupan di wajahku akan membuat mereka makin gugup, tapi Fred tentu tidak. Dia sudah sangat profesional dan hanya melemparkan senyum sungguhan dan memberi kata-kata penyemangat untuk kami semua. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka semua segera menaiki panggung dan secara tiba-tiba, cepat sekali, Derry jatuh terpeleset dan menimbulkan suara yang cukup besar, padahal saat itu mereka harusnya sedang berjalan dengan gagahnya memasuki ruang tengah rumah Freya, si putri bangsawan. Aku sungguh tak dapat menahan kakiku untuk segera melompat masuk ke panggung dan membantunya berdiri karena sekarang terdengar cekikikan kecil dari arah penonton, sebuah tangan besar menahanku untuk melompat naik, tangan Pak Didi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keringat dingin mengaliri pelipisku dan tanganku menutup mata. Dan tepat saat itu Fred membantu Derry berdiri dan melanjutkan akting, berpura-pura itu tidak pernah terjadi. Thanks god!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sisa drama itu kuhabiskan dengan keringat dingin yang tak habis-habis diproduksi kelenjar keringatku, para pemain sudah silih berganti keluar panggung dan mereka berganti kostum dengan cepat-cepat, aku selalu membantu apa saja yang kubisa bantu dan akhirnya Pak Didi menyuruhku duduk diam karena rasanya aku akan pingsan beberapa saat lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tibalah saatnya July untuk masuk panggung. Kostum besar yang dipakainya, lengkap dengan sepatu boot khas anak bangsawan, sudah mulai membuat dirinya basah oleh keringat. “Good luck!” bisikku padanya dan dia tersenyum, tangannya meremas tanganku lalu dengan mantap dia naik ke atas panggung dan lampu sorot berpindah dari Giselle ke July. Jantungku berdegup kencang. Baru sebulan yang lalu dia hendak bunuh diri dan dengan beruntungnya terselamatkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdengar suara July menggelegar dan dia berakting bagus sekali, menyaingi Fred. Aku tak bisa melepas pandanganku dari July dan tiba-tiba sesuatu mendorongku dari belakang, aku menoleh dan wajah kikuk Sierra terlihat di belakangku. Dia berusaha melihat ke panggung yang disirami cahaya lampu sorot karena kini semua kru memang sedang berdesakkan untuk melihat ke panggung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf..” gumamnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak apa-apa.” Jawabku. Aku dan Sierra sudah sebulan terakhir ini tidak bicara sejak kejadian di rumah sakit itu dan aku menyesalinya. Parahnya, July juga belum memberitahu kenyataannya pada Sierra, dan dia berkata akan mengatakannya sesegera mungkin. Sayangnya, aku pun terlalu sibuk dengan pementasan hari ini sehingga aku dan dia pun tidak merasa ada masalah bila tidak bertemu. Setidaknya, itulah yang kupikirkan pada awalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kali aku teringat pada Sierra, pikiran itu kubuang jauh-jauh. Aku tidak berkata aku akan melupakannya karena aku tidak bisa mendeskripsikan bagaimana aku merindukannya. Tawanya, suaranya, wajahnya yang berseri-seri bila sedang senang. Aku merindukannya, tapi kini kami berdua semakin menjauh, mungkin ini memang jalannya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara gemuruh tepukan tangan menyadarkanku dalam sekejap dan aku langsung fokus, para penari baru saja melewatiku satu per satu, naik ke atas panggung dan mereka lah yang menimbulkan semua tepuk tangan itu. Ya Tuhan, sebentar lagi pementasan ini akan selesai….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para penari bergerak dengan riangnya sesuai koreografi yang dibuat Casey dan tak lama kemudian semua pemain ikut berkumpul di atas panggung, ikut menari dan bernyanyi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“….Let me be your light for the night&lt;br /&gt;Let me be the song to your soul….&lt;br /&gt;Let me guide you through the day…&lt;br /&gt;Just hold my hands and we’ll hold the day&lt;br /&gt;Cause the miracle…..&lt;br /&gt;Can happen….&lt;br /&gt;If you believe………..”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dengan suara sopran, sopranino, dan alto, lagu The Miracle hasil aransemen Steve berakhir dan para penari dengan para pemain berpose sebagai pose akhir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sunyi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada suara, tak ada tepukan tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hatiku mencelos saat itu juga. Gagal kah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dalam hitungan detik kemudian, semua penonton berdiri serentak dan mereka bertepuk tangan dalam kesatuan yang membaur dan membuat bulu kuduk kami berdiri. Aku tidak bisa tidak menitikkan air mata dan saat itu juga sebuah tangan memelukku, tangan Sierra dan kami berdua berpelukan dengan tangis bahagia. Kru yang lain melompat-lompat dan berteriak kegirangan, dalam sekejap suasana backstage yang tegang berubah menjadi kegembiraan yang tak dapat dilukiskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semuanya berjalan dengan mulus!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih Tuhan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kira-kira 6 menit tepukan tak berhenti, Fred membuka mulut dan berbicara dengan jelas dan lantang, semua orang mendengarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Semua ini tidak akan terlaksana tanpa semua kru di belakang sana. Bisakah kalian semua keluar?” dan dia melemparkan senyum pada kami, para kru. Dengan kegugupan, kami melangkah naik dan mendapat tepukan keras lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fred kembali membuka mulut. “Kami hanya ingin mengucapkan terima kasih pada semua yang telah menonton, yang telah meluangkan waktu untuk datang dan duduk dan menonton kami berakting, kami harap anda tidak kecewa…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“tambahan lagi…” dia berkata lagi. “semua drama ini tidak akan terlaksana tanpa seorang pemimpin yang baik dan luar biasa sekaligus penulis skrip ini, Crescentia!” beberapa tangan saat itu langsung mendorongku dan kini aku berdiri di barisan paling depan dengan para pemain dan penari, tepuk tangan bergemuruh kembali dan saat itu semua kelelahanku mengurus semua pementasan ini terbayar sudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musik kembali mengalun dan kini dengan beat yang lebih cepat, kami semua berdansa dan bertepuk tangan, dan satu per satu penonton meninggalkan tempat duduk mereka dan kami masuk ke belakang panggung, senyum tersebar di setiap wajah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau luar biasa Cres!” kata beberapa orang sambil melewatiku dan aku hanya membalas dengan “terima kasih” dan sungguh, aku tidak bisa menghentkan senyuman di wajahku.&lt;br /&gt;Semua pemain segera melepas kostum mereka dan beberapa membersihkan make-up di wajah mereka. Saat itu, aku sekilas melihat July menarik Sierra ke luar, aku mengikutinya dengan diam-diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langit sudah gelap sepenuhnya di luar dan July melepas tangan Sierra yang semula ditariknya. Bau rumput basah mengudara dan angin dingin bertiup. July menarik napas dan membuangnya, lalu tak lama kemudian July berbicara, aku tidak dapat mendengarnya dengan jelas dan Sierra tampak mendengarkan dengan saksama.&lt;br /&gt;Aku bergeser sedikit ke belakang pohon terdekat dan berdiri mematung disana, menahan napas, mendengar pengakuan July.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku…..aku tidak seperti yang kau kira, dan kumohon, jangan marah pada Cres, dia tidak salah apa-apa. Semua memang bermula dariku..” katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak akan menyalahkanmu kok. Aku sudah tahu sejak sebulan yang lalu, ternyata &lt;br /&gt;Cres dan kau sudah jadian, normal kok..” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa? Jadi dia pikir aku dan July berpacaran?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan! Aku dan dia tidak pacaran! Kau salah paham..” kata July, napasnya terengah-engah dan terdengar jelas pada malam se sepi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu apa?” tanya Sierra sambil melipat tangan. Ayo Jul! kau harus bisa! July menarik napas lagi dan kini kediaman yang menyelimuti sudah semakin tebal, kau harus segera mengaku Jul!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku….” Dia terbata. “Aku transgender.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sierra terdiam sesaat, memandangnya dalam diam, masih dengan pandangan yang penuh tuntutan. Bukan reaksi yang kuharapkan. “Lalu?” tanyanya. July menatapnya, serasa tidak percaya dengan apa yang didengarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku perempuan, Si. Aku perempuan dalam tubuh laki-laki. Kau tidak akan pernah mengerti…dan Cres sudah mengetahuinya sejak lama, dia seorang sahabat yang baik dan selalu setia saat aku butuh.” Katanya. Sierra kini melepas tangannya yang semula terlipat, membiarkan keduanya jatuh pada sisi-sisi tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau bercanda?” tanyanya dengan tatapan sangsi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku serius!” July menatapnya dengan tatapan sungguh-sungguh. Dan Sierra menatapnya balik, “Itu kah penyebab dansa anehmu kemarin itu waktu pesta piyama?” tanya Sierra dan July mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sierra mengulur senyum tipis namun menyedihkan. “Maaf…” kata July padanya dan dalam lubuk hati Sierra, dia sudah memaafkannya sejak dulu, sejak sebelum dia mengetahui kebenarannya, semua orang memaafkanmu, Jul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak apa-apa..” jawab Sierra dan kini terlihat jelas wajahnya antara shock dan kecewa yang amat sangat. “Aku sudah ingin memberitahumu sejak dulu tapi selalu tidak pernah punya nyali. Aku memang payah. Maaf. Mungkin agak aneh untuk pertama kalinya menganggapku seorang cewek, sama sepertimu, tapi inilah kenyataannya, maaf sekali lagi…” katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sierra hanya terdiam dan tanpa mengatakan apa-apa dia beranjak pergi, meninggalkan July, dan masuk ke backstage setengah berlari. Aku keluar dari tempat persembunyianku dan melemparkan senyum menyemangati pada July sebelum mengikuti &lt;br /&gt;Sierra masuk ke backstage. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Backstage yang penuh sesak membuatku hampir tidak mungkin menemukannya dan kini sekelompok cewek-cewek anak baru yang menjadi penari baru saja selesai mengepak barang-barang mereka, mengganti kostum dengan jaket dan celana jins dan berpamitan padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat jam menunjukkan pukul 10 malam, backstage tampak lengang, hanya ada beberapa pengurus inti, sedang menikmati beef burger gratisan dari Bu Tracy sebagai hadiah dari kerja keras kami. Memang beef burger sangat tidak sebanding, tapi bila beef burger diberikan dengan ketulusan dan pujian, rasanya menjadi lebih enak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku baru saja menggigit gigitan pertama beef burgerku ketika Haylie buka mulut, “Malam yang indah.” Katanya dan kami semua menyetujuinya, kami makan dalam diam karena kami tidak membutuhkan kata-kata untuk membicarakan semua yang ingin kami bicarakan, tentang bagaimana akhirnya The Miracle berjalan dengan sukses dan kami senang dan tentunya, masih setengah tidak percaya. Perasaan yang hebat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sierra yang terlihat jelas habis menangis kini menatap mataku dan dia menguraikan senyumnya, aku juga membalasnya, dan persahabatan kami yang sudah kembali seperti semula tanpa kata-kata akan menjadi lebih indah dari sebelumnya. &lt;br /&gt;Dan kini Sierra menyandarkan kepalanya pada kepalaku. Aku merindukanmu Si.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8007565526840934248-6385668981849732879?l=beyondureyes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://beyondureyes.blogspot.com/feeds/6385668981849732879/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8007565526840934248&amp;postID=6385668981849732879' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8007565526840934248/posts/default/6385668981849732879'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8007565526840934248/posts/default/6385668981849732879'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://beyondureyes.blogspot.com/2008/10/limabelas.html' title='limabelas'/><author><name>Dandelion</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01021338332393636313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8007565526840934248.post-7451326047737939915</id><published>2008-10-10T23:41:00.001-07:00</published><updated>2008-10-10T23:48:13.398-07:00</updated><title type='text'>...........</title><content type='html'>Sebulan kemudian......&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8007565526840934248-7451326047737939915?l=beyondureyes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://beyondureyes.blogspot.com/feeds/7451326047737939915/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8007565526840934248&amp;postID=7451326047737939915' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8007565526840934248/posts/default/7451326047737939915'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8007565526840934248/posts/default/7451326047737939915'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://beyondureyes.blogspot.com/2008/10/sebulan-kemudian.html' title='...........'/><author><name>Dandelion</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01021338332393636313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8007565526840934248.post-9183790971043746141</id><published>2008-10-10T23:34:00.000-07:00</published><updated>2008-10-10T23:39:35.027-07:00</updated><title type='text'>empatbelas</title><content type='html'>Hujan turun deras sekali saat aku sudah kembali masuk sekolah. Saat aku menapakkan kaki di dalam kelas yang pertama kulihat hanya wajah Fred di ujung kelas dan dia hanya menatapku, ada sesuatu dalam tatapannya, seperti sedih, menderita, atau apapun dan aku tidak mau melihatnya maka kubuang wajahku. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pelajaran demi pelajaran berlalu hingga jam istirahat. Aku sudah menunggu Sierra di depan kelasnya untuk bersama-sama pergi ke kafetaria, tapi tiba-tiba aku merasa bodoh menunggunya. Dia pasti marah padaku dan aku akan dilewati begitu saja seperti orang yang tidak terlihat. Aku memutar kakiku dan berjalan sendiri ke kafetaria. Aku tidak bisa menjelaskan bagaimana rasa kesepian tiba-tiba menyergapku saat aku menghela napas di salah satu bangku kosong di meja terpojok di kafetaria. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mengapa semua jadi serumit ini?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;July masih terbaring di rumah sakit, Sierra marah padaku, dan Fred…..aku bahkan tidak mau memikirkannya karena setiap kupikir namanya saja sudah menimbulkan perasaan tidak nyaman dalam hatiku. Aku melebihi kecewa padanya, kecewa lebih dari apapun, tapi entah mengapa perasaanku tidak berubah, sedikitpun.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dan saat kugigit gigitan pertama roti isi dagingku, aku melihat secara tidak sengaja sepasang mata di ujung ruangan satunya yang sedang memperhatikanku lekat-lekat, sepasang mata bundar kecokelatan yang selalu seperti tertawa, mata Fred. Betapa aku sangat merindukan mata itu….&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Namun akhirnya kubuang wajahku, aku sungguh tidak mau melihatnya lagi seumur hidupku kalau bisa. Biarlah dia menghilang ditelan bumi, agar semua kenangan hanyalah kenangan, seolah tidak pernah ada.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sisa hari ini ditutup dengan latihan rutin The Miracle yang tidak pernah menjadi sesedih ini. 30% anggota drama sudah tahu tentang July dan mereka tidak bisa merasakan hal lain selain sedih dan tentunya kehilangan yang amat sangat karena July juga pemain utama dalam pementasan drama lagi. Belum lagi ditambah Sierra dan aku yang diam saja dan Clarissa dan Haylie sudah mulai menyadarinya dan berusaha membuat kami berbaikan. Mereka tidak mengerti bahwa persoalannya lebih rumit dari sekedar rebutan baju diskon di toko mahal. Ini soal perasaan, membohongi, merasa bersalah, merasa dikhianati, dan aku benci ini. selama ini aku dan Sierra selalu baik-baik saja. Tidak pernah ada yang sesalah ini.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Kalian kok diam saja sih?” tanya Casey saat sedang istirahat. Aku rasanya tidak ingin menjawab karena aku tidak tahu jawabannya, tapi akhirnya kujawab juga, “tidak tahu.” Sebuah jawaban orang yang tersudut dengan keadaannya. Menyedihkan sekali.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dan tampaknya Casey mengerti bahwa kami sedang menghadapi krisis persahabatan yang terancam dan dia memilih tidak ikut campur dan aku merasa senang dengan pilihannya itu. Sierra dengan wajah yang sama kusutnya denganku sejak tadi memotong-motong kain tanpa suara dan aku pun mengurusi kostum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Aku memutar gagang pintu dan masuk ke dalam. Sebuah sosok yang terbaring di atas ranjang kini sedang tersenyum pada Ayahnya, aku langsung menghambur kepadanya dan memeluknya. “Akhirnya sadar juga kau!” kataku. July tersenyum lemah, wajahnya pucat. Kebahagiaan terpancar dari wajah Ayahnya yang dengan senang hati memberikan waktunya untukku dan July.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Apa sih yang kau pikirkan Jul?makan semua pil-pil itu?” tanyaku dan dia terdiam beberapa saat, tatapannya kosong. “Aku merasa tidak berguna, Cres.” Katanya. Oh tidak. Jangan mulai lagi!&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Kau ini kenapa sih Jul? kau sudah diberi hidup oleh Yang Diatas, seharusnya kau bersyukur..” kataku, tak sanggup menahan hatiku yang miris melihatnya seperti ini.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Untuk apa hidupku Cres? Aku sangat tidak berguna. Aku ini transgender, tidak akan pernah bahagia.” Katanya pelan. Aku setengah setuju dengan itu. Maksudku, akankah ada seseorang di luar sana yang bisa menerimanya apa adanya seperti aku menerimanya? Jawabannya, aku rasa tidak.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Tapi Jul, kau tidak mengerti, berapa banyak orang yang berharap mereka bisa hidup. Di satu ujung dunia sana, ada orang-orang yang menderita penyakit yang sangat parah, mereka tahu mereka akan mati, ada juga orang yang ingin hidup tapi karena tidak ada air dan makanan, dia tidak bisa hidup.” Kataku panjang lebar. “kau tidak tahu betapa sebuah hidup sangat berharga..” kataku mengakhiri. July terdiam dan perlahan sekali, air matanya jatuh, mengaliri pipinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku ingin menukarkan hidupku untuk mereka, Cres. Aku ingin memberikan hidupku ini untuk mereka Cres. Aku akan sangat senang bila aku bisa berada di posisi mereka, paling tidak melakukan sesuatu yang berguna….” Aku terkesiap mendengarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“APA KAU GILA?” aku habis kesabaran, “Kau sungguh orang yang paling tidak menghargai hidup yang pernah kukenal. Bila kau merasa tidak berguna, maka hidup itulah satu-satnya yang kau miliki, dan kau malah menyia-nyiakannya. Hidup adalah kesempatan dan hanya akan ada sekali. Kau tidak tahu bahwa Tuhan sudah memberikanmu hidup agar kau berkarya, bukan malah ingin mengakhirinya! Kau…kau tidak tahu….” Kini bibirku bergetar.. “..kau tidak tahu bahwa kau sangat berharga…” kataku pelan dan aku tidak bisa menahan semua luapan kemarahan dalam dadaku, sehingga aku ikut menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dan dia hanya mengalirkan air mata dalam diam, dibawah temaram lampu kamar rumah sakit. Dia menghapus air matanya dan aku hanya menunduk. “Mungkin kau benar, Cres…” katanya dengan suara serak. “Terima kasih sudah mau menjadi sahabatku.” Katanya. Dan aku hanya mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku sedang berantem dengan Sierra..” kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa? Pasti karena aku kan? Iya kan?” tanyanya dengan suara bersalah. Aku mau tidak mau menjawab, “Mungkin iya. Dia ingin tahu yang sebenarnya dan aku berkata tidak bisa memberitahunya. Dia marah dan tentunya kecewa.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya ampun! Aku memang bodoh. Aku akan segera memberitahunya kalau aku bertemu dengannya nanti.” Katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebaiknya cepatlah kau sembuh, kau sudah beberapa hari ini melewatkan latihan The Miracle, pertunjukkan sebulan lagi..” ujarku mengingatkan dan dia mengangguk. Dan dengan itu aku berpamitan padanya karena masih banyak tugas dari sekolah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8007565526840934248-9183790971043746141?l=beyondureyes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://beyondureyes.blogspot.com/feeds/9183790971043746141/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8007565526840934248&amp;postID=9183790971043746141' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8007565526840934248/posts/default/9183790971043746141'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8007565526840934248/posts/default/9183790971043746141'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://beyondureyes.blogspot.com/2008/10/empatbelas.html' title='empatbelas'/><author><name>Dandelion</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01021338332393636313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8007565526840934248.post-2736004690726333326</id><published>2008-10-09T08:40:00.000-07:00</published><updated>2008-10-09T08:47:42.987-07:00</updated><title type='text'>tigabelas</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku mencintaimu dengan sederhana. Dengan kata-kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu; dengan isyarat yang tak sempat ditunjukkan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada”- Sapardi Djoko Damon&lt;/span&gt;o&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan paginya aku terbangun bahkan saat matahari belum terbit sepenuhnya untuk mengetahui bahwa semua kejadian kemarin adalah nyata. Dia tidak bohong, dia sungguh akan pergi bulan depan. Dia akan meninggalkanku, bukan, bukan meninggalkanku tapi meninggalkan keluarganya. Aku memang tidak pernah menjadi bagian dari hidupnya dan aku baru menyadari itu. Dia tidak merasakan hal yang sama dengan yang kurasakan padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku turun dari ranjang saat matahari samar-samar merentangkan sayap-sayap keemasannya pada langit fajar yang merekah oranye. Kepalaku sedikit berputar saat aku masuk ke dalam kamar mandi dan melihat cermin. Terbentuk garis-garis hitam di sekitar mata dan wajahku terlihat sangat sendu. Aku rasa aku tidak sanggup masuk sekolah hari ini. aku tidak akan pernah sanggup bertemu dengan seorang Fred lagi. Tidak akan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kembali ke kamar dan duduk di atas ranjang lalu diam. Hanya diam dan diam untuk bermenit-menit. Untuk pertama kalinya dalam hidupku aku menyadari betapa aku sangat menyayanginya, bagaimana aku sangat memerlukannya dan dia sudah menjadi bagian dari diriku untuk waktu yang sangat lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu juga aku mengerti bagaimana menyesakkannya mengetahui akan ditinggalkan seseorang yang sangat berarti dan aku tidak berdaya untuk mengubahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lil dan Mama mengetuk-ngetuk pintuku bergantian, menyuruhku bangun tapi aku pun hanya diam saja. Saat jam menunjukkan pukul 7, Lil sudah pergi dengan setengah mengomel karena aku tidak bangun-bangun. Mama kembali ke depan kamar dan mengetuk pintuku, memanggil namaku, namun aku hanya diam saja, memandangi pintu kamar karena di seberang papan cokelat itu, Mama berada diluar sedang berusaha membuatku menyahut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam menunjukkan pukul 9 saat aku keluar dari kamar, sudah mandi dan memulas sedikit foundation agar lingkaran hitam lebam mataku disamarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bangun juga kamu akhirnya! Sudah terlambat sekali ini! kenapa kamu nggak bangun Ti?” tanya Mama dan aku pun tidak sampai membuka mulut untuk menjawab. Tenggorokanku kering. Dan aku menghempaskan badanku diatas sofa. Kak Jojo sedang keluar untuk mengurus dekorasi dan catering pestanya yang akan diadakan minggu depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menghabiskan hari itu dalam diam selain saat Mama menanyakan ada apa dan aku menceritakan semuanya. Mama mendengarkan dengan penuh perhatian lalu memelukku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu juga nggak bisa berpikiran seperti itu dong Ti. Kalian kan masih SMA, pantasnya memang fokus ke pendidikan. Dan menurut Mama Fred tidak salah kok..” kata Mama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak salah gimana?” tanyaku dengan suara berat dan serak karena rasanya aku terkena flu. “Ya tidak salah lah. Dia memang ingin mendapatkan beasiswa itu dan Mama sebagai orang luar yang melihatnya salut padanya. Dia punya keinginan untuk diwujudkan dan kamu juga tidak punya hak untuk melarangnya…” kata Mama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“…tapi Ma, Tia merasa dia tuh seperti mempermainkan Tia, Ma. Seharusnya dia sadar kalau ini akan menyengsarakan Tia. Dia harusnya bisa jaga jarak sejak awal, jangan sampai membuat hubungan semakin rumit dan menyakitkan buat kita berdua…” kataku membela perasaanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memangnya hari-hari yang kemarin itu kamu ingin pisah dari dia? Tidak kan? Dia juga seperti itu.. Dia sayang kamu Ti, dia nggak ingin menghadapi kenyataan kalo dia akan berpisah dari kamu,” kata Mama. Detik itu juga aku seperti tersadarkan kata-kata Mama. Aku berpikir lamat-lamat dalam diam. Menimbang-nimbang semua kemungkinan-kemungkinan, berusaha melihat dari sisi pikirannya.  Namun otakku mulai lelah dan tidak bisa berpikir. Aku terlalu sedih untuk berpikir, untuk bicara, untuk melakukan apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat jam menunjukkan pukul 5 sore, ponselku berdering, Sierra menelepon. Aku sangat tidak ingin menjawabnya. Aku hanya diam memandangi layar ponsel dan mendengar ringtonenya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama suara riang itu hilang, Sierra sudah mematikan sambungan. Tak sampai 2 menit, Sierra menelepon lagi dan kali ini sambungannya tak diputus. Akhirnya kutekan tombol hijau dan mendekatkannya ke telingaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Halo?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Creeesss! Kemana saja kauu???” suara Sierra terdengar jelas di telingaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada kok di rumah. aku sedang tidak ingin masuk.” Ujarku dengan nada tak bersemangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cres! Ada berita heboh hari ini!” jantungku berhenti berdetak saat itu juga. Aku tahu ini pasti tentang July, tidak mungkin yang lain. Ya Tuhan! Aku takut sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“A….apa?” tanyaku berusaha menyembunyikan ketakutanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katanya Julian berusaha bunuh diri kemarin dan sekarang ada di Rumah Sakit. Aku akan menjenguknya 15 menit lagi. Kalau kau sedang tidak sakit, mau tidak ikut?” tanyanya. Dan saat itu aku seperti tidak sadarkan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunuh diri? Rasanya kepalaku pusing seketika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;July? Bunuh diri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini lebih parah dari perkiraanku tentang jati dirinya yang diketahui semua orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ok! Aku akan segera ke rumahmu! Tunggu!” lalu aku segera mematikan sambungan dan berlari ke bawah, memakai jaket dan memakai sepatu. “Kamu mau kemana? Ini sudah hampir malam..” kata Mama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Temenku masuk Rumah Sakit, Ma. Aku dan Sierra mau datang menjenguk!” kataku sambil meraih gagang pintu lalu menutupnya dan berlari seperti orang kesetanan sampai halte bus. Saat aku sudah tiba di rumah Sierra, dia sedang menutup pintu depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah kau datang juga akhirnya! Ayo!” katanya lalu tanpa beristirahat sedikitpun kami berlari untuk mengejar bus berikutnya yang menuju Rumah Sakit Omni International, tempat July berada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bus aku dan Sierra tidak banyak bertukar kata. Aku melihat keluar jendela dengan cemas dan Sierra menggenggam tangannya erat sekali. Aku tidak tahu bagaimana rasanya menjadi Sierra. Bagaimana jika aku diberi kabar Fred mencoba bunuh diri dan ada di rumah sakit?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;July….ada apa lagi sih? Kenapa kau begitu bodoh untuk memilih jalan seperti ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bus yang kamu tumpangi akhirnya merapat ke sisi trotoar dan kami segera turun. Perjalanan dengan kaki harus kami tempuh 10 menit sebelum akhirnya sampai di Rumah Sakit Omni International. Tanpa basa-basi, kami segera menuju resepsionis dan menanyakan nomor kamar July.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Julian Sapta Rajasa?” tanya si suster memastikan, kami mengangguk bergantian. “Kamar 206. blok E, lantai 3.” Katanya sambil tersenyum. Kami tak sempat membalas senyumnya karena kaki-kaki kami sudah berputar menuju lift dan menekan angka 3 besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat lift terbuka dengan bunyi dentingan kecil, bau khas Rumah Sakit menguar dan menusuk hidung kami. Seorang bapak tinggi besar sedang memeluk istrinya yang menangis tak kunjung henti di salah satu bangku untuk menunggu. Saat itu beberapa perasaan menelusup dalam hatiku. Apakah Papa dan Mama July sudah menjenguk? Apakah Mamanya bahkan mau peduli padanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah kami berhenti di depan kamar bertuliskan 206. Dengan mantap, aku memutar gagang pintunya, berharap apa yang kulihat seperti yang kuharapkan. Ruangan di dalamnya terlihat terang saat kami memasukinya, hanya ada sebuah ranjang, meja kecil, kamar mandi, dan 2 buah bangku sederhana. Langit-langitnya cukup tinggi dan jendelanya besar, ditutupi tirai tipis berwarna putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah sosok tergeletak lunglai di atas kasur dengan seprai yang juga putih. Rasanya tidak percaya melihat July disini, dalam kamar Rumah Sakit ini, tergeletak kehabisan tenaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa basa-basi, Sierra langsung berjalan menuju tepi ranjang dan memanggil nama July.&lt;br /&gt;“Julian?” panggilnya. Sosok itu diam saja., tak bergerak. “Julian?” panggilnya lagi. Tangannya menggenggam tangan July dan matanya tak lepas dari wajah July.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada tanda-tanda luka pada pergelangan tangannya ataupun lehernya. Kini aku mulai berani berjalan mendekatinya, matanya tertutup rapat dari cahaya kamar dan bibirnya pucat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia hidup kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pintu ruang rawat terbuka dan seorang suster masuk membawa nampan berisi suntikan dan berbagai obat-obatan. “Sus, sejak kapan dia disini?” tanya Sierra, mendahului mulutku. Suster itu meletakkan nampannya dan berkata, “baru jam 2 tadi. Ayahnya yang membawanya kesini..”&lt;br /&gt;“Lalu sus? Dia mencoba bunuh diri memangnya?” tanyaku masih memastikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya. Dia minum beberapa pil berbahaya yang seharusnya diminum sesuai anjuran. Pil itu seharusnya untuk menenangkan syaraf saat sedang tegang, tapi tampaknya dia meminumnya terlalu banyak sehingga menyebabkan overdosis. Kondisinya buruk sekali sewaktu baru sampai, tapi setelah ditangani Dokter, keadaannya sudah lebih membaik. Namun dia masih belum sadar, mungkin akan sadar 2 atau 3 jam lagi, tapi masih harus dirawat disini sekurang-kurangnya 4 hari karena racun yang ada di dalam tubuhnya perlu perawatan intensif…” Katanya menjelaskan lalu dia mengeluarkan papan kayu kecil yang berisi data July dan berjalan mendekati July, memeriksa suhu tubuh dan membuka matanya dengan jarinya, lalu ia menuliskan sesuatu di atas kertas yang diselipkan di papan kayu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh, Jul. aku tak habis pikir dengan perbuatanmu. Aku tahu kau meminumnya dengan sengaja, bukan karena ketidaktahuan. Entah apa yang kau pikirkan..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu Ayahnya kemana sekarang?” tanyaku lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada. Mungkin sedang bicara dengan Dokter Daniel.” Jawab Suster itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu Sus, apakah Ibunya atau adiknya sudah menjenguk?” tanyaku lebih jauh, tak bisa menahan rasa keingintahuanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“umm…rasanya belum, sejak tadi pagi hanya ada Ayahnya dan kalianlah pengunjung pertama.” Katanya lagi. “sekarang maaf, saya harus permisi. Masih ada beberapa pasien lagi.” Katanya lalu berjalan keluar melewati kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah Sierra pucat pasi dan tatapan matanya tak lepas dari tubuh July yang terkulai lemas. Aku merangkul Sierra dan dia menyandarkan kepalanya pada bahuku. “Cres, kenapa? Kenapa Julian mau bunuh diri?” tanyanya pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak tahu.” Jawabku seadanya. Lalu Sierra mengangkat kepalanya dan matanya menatap mataku lurus-lurus. “Kau tahu….” katanya tiba-tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa maksudmu? Aku tidak tahu mengapa dia ingin bunuh diri.” Jawabku, aku tahu Sierra akan sadar lambat laun bahwa ada sesuatu yang sejak lama disembunyikan dan aku tidak bisa menyembunyikannya dari dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau kan dekat dengan Julian, Cres. Kau pasti tahu. Dan kau sudah memelihara tatapanmu itu selama berbulan-bulan terakhir ini, Cres. Aku tahu itu tatapan apa….itu tatapan orang yang berbohong dan menyembunyikan sesuatu!” katanya lagi, kini lebih memaksaku membuka rahasia July. Aku menggigit jari, mataku bertumpu pada sepatu kuningku dan pada lantai rumah sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak bisa memberitahu Sierra karena July sudah berjanji akan memberitahu Sierra semuanya secepatnya, tapi sekarang Sierra meminta kejujuran padaku, pada saat yang seperti ini. “Aku…aku memang menyembunyikan sesuatu…” kataku jujur. “…tapi aku tetap tidak bisa memberitahukannya pada siapapun juga, termasuk padamu, Si. Maaf..” kataku menyelesaikan semua kalimat yang dengan susah payah kurangkai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kini Sierra terdiam seribu bahasa. Selama ini aku dan dia selalu bertukar semua rahasia, tidak ada yang tersembunyi dan kini aku menyembunyikan sesuatu darinya dan ini sungguh tidak adil baginya. Dan kini matanya berair… Ya Tuhan, apakah aku baru saja melukai sahabatku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pintu kamar rawat terbuka dan seorang Bapak bertubuh tinggi dan kurus seperti July masuk. “Sore Om..” sapaku dan dia terlihat terkejut mendapatiku dan Sierra disana. “Oh ada kalian…kalian siapa ya?” tanyanya terlihat bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya Crescentia dan ini Sierra, kami teman satu klub Julian.” Jawabku dan dia mengangguk-angguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gimana keadaan Julian, Om?” tanyaku memecah kecanggungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, kata dokter akan segera membaik asalkan dia sudah melewati masa kritisnya tapi karena obat yang diminumnya terlalu banyak, dia akan banyak kekurangan sel darah putih dan kemungkinan untuk kembali ke rumah masih sekitar 4 sampai 5 hari lagi.” Katanya. Aku mengangguk-angguk. Sierra diam sejak tadi dan aku benar-benar merasa bersalah padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf Om, rasanya kita harus pulang sekarang. Sudah malam..” ujar Sierra tiba-tiba setelah diam beberapa saat. Papa July mengangguk-angguk dan kami berpamitan. Segera setelah kami menutup pintu kamar Sierra melesat ke lift, meninggalkanku sendirian aku pun tidak berusaha mengejarnya, aku tahu ini pasti menyakitkan tapi aku pun tidak bisa melakukan apa-apa.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8007565526840934248-2736004690726333326?l=beyondureyes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://beyondureyes.blogspot.com/feeds/2736004690726333326/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8007565526840934248&amp;postID=2736004690726333326' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8007565526840934248/posts/default/2736004690726333326'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8007565526840934248/posts/default/2736004690726333326'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://beyondureyes.blogspot.com/2008/10/tigabelas.html' title='tigabelas'/><author><name>Dandelion</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01021338332393636313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8007565526840934248.post-4491161212640822067</id><published>2008-09-30T01:06:00.000-07:00</published><updated>2008-09-30T01:15:35.594-07:00</updated><title type='text'>duabelas</title><content type='html'>Hari Minggu pagi yang santai. Setelah melepas kepergian semua teman-temanku yang semuanya harus pergi karena ada urusan, aku menghempaskan diri di atas sofa ruang tengah. Siang nanti, Kak Sean dan keluarganya akan melamar Kak Jojo di rumah Oma yang terletak di Perumahan Alam Sutera di pinggir Jakarta. Tangerang tepatnya. Aku sudah menyiapkan baju rapi untuk acara ini: kaos dan tubedress. Kak Jojo sendiri sudah hampir gila memikirkan semua persiapan pernikahannya, termasuk baju untuk acara lamaran ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bukan Kak Jojo namanya kalau tidak bisa menemukan baju untuk hari ini dalam waktu semalam. Dia sudah menyiapkan baju berupa dress cantik yang bermotif lengkap dengan sepatu high heelsnya. Pesta yang akan digelar jam 1 nanti sebenarnya lumayan besar karena menyangkut keluarga dua belah pihak. Oma sendiri sudah masak dari kemarin dan yang selalu aku tunggu-tunggu dalam setiap pertemuan keluarga adalah buah atep buatan Oma yang direndam air gula dan selalu empuk dan manis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berangkat dari rumah beserta Kak Jojo sejak jam 11.30 karena dengan perkiraan kemacetan di Jakarta, mungkin kita akan tiba 45 menit kemudian dan Kak Jojo akan bersiap-siap dan mengurusi pesta ini lagi sesampainya di rumah Oma. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mama, Papa, aku dan Lilian juga tidak keberatan datang lebih awal untuk mengantarkan Kak Jojo dan menemaninya bersiap-siap. Kegugupan dan rasa tegang mulai merambati perutku saat kami sudah sampai di depan rumah Oma. Rumah yang biasanya selalu menonjolkan kebunnya yang rapi kini sudah ditutupi tenda sampai ke jalanan dan bunga-bunga lebih banyak dari biasanya. Terlihat sekali bahwa akan ada pesta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana meriah semakin didominasi oleh bunga-bunga yang menggantung di langit-langit teras dan bunga-bunga lainnya yang menjadi hiasan dalam rumah. Oma masih dengan dasternya, sedang menata berpiring-piring kue di atas meja panjang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Omaaa!!!” aku segera berlari ke arah beliau dan air mukanya langsung berubah ketika melihat kami sekeluarga yang sudah tiba di rumahnya. Kami berpelukan dan mencium pipi Oma. Kulitnya yang berkeriput karena dimakan usia tak bisa menyudahi senyuman bahagianya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mana nih cucu Oma yang mau dilamar?” goda Oma pada Kak Jojo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah! Oma bisa saja!” ujar Kak Jojo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benar-benar ya! Rasanya baru kemarin kamu main masak-masakan di rumah Oma dan menumpahkan sepanci kuah karena main dengan masakan Mbok di dapur!” ujar Oma bersemangat, Kak Jojo tersipu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setengah jam kemudian, saat bau masakan sudah semakin bermain di udara dalam rumah, keluarga Kak Jojo akhirnya tiba. Tante Tuti, Om Raka, dan Nadia bergantian mencium pipi Oma. Selanjutnya, satu demi satu keluarga datang dan berkumpul, tidak akan melewatkan kesempatan melihat Josephine kecil mereka akan dilamar. Hampir semua orang tua yang sudah datang tak henti-hentinya menggoda Kak Jojo dengan mengingat berbagai kenakalan-kenakalan Kak Jojo dan aku tahu pasti perasaan Kak Jojo yang kesal bukan main karena bila mereka sedang mengungkit kenakalan waktu aku kecilpun aku sebal sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal selanjutnya yang akan kami lakukan adalah menunggu. Menunggu si calon suami untuk melamar. Kak Jojo sejak tadi sudah bolak balik ke kamar mandi, merapikan dandanan, lalu saat dia kembali ke Ruang Tengah, pasti akan di nasihati Tante Tuti berulang-ulang soal kerapian dan menjaga sopan santun. Panas dalam rumah semakin menjadi-menjadi saat jam dinding menunjukkan angka 1 dan itu berarti keluarga Kak Sean bisa datang sewaktu-waktu sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penantian kami akhirnya terbayar saat sebuah mobil Honda Civic merapat dan berhenti di depan rumah Oma. Semua langsung terdiam, merapikan dandanan dan melongok-longok keluar jendela, ingin melihat rupa di calon suami. Tak lama kemudian pintu-pintu mobil itu terbuka dan pada saat yang bersamaan, sebuah mobil Gallant ST juga berhenti tepat di belakang si Civic hitam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang laki-laki yang tadi duduk di bangku depan penumpang kini berdiri sepenuhnya di depan mobil. Jas hitam sebagai luaran kemeja putih dan dasi merah terpadu rapi dengan celana hitam. Tubuhnya tinggi semampai, kulitnya agak kecokelatan dan rambutnya dicukur rapi. Matanya setajam elang dan hidungnya mancung, dia tersenyum pada beberapa sepupu kecilku yang sedang bermain di taman. Benar-benar calon menantu impian semua mertua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mobil Gallant dibelakangnya terbuka dan seorang Ibu dan Bapak yang sudah cukup tua dengan tatapan ramah yang diwariskan ke anaknya itu keluar dari mobil si Ibu yang sudah setengah baya itu mengepit tas jinjing kecil yang dihiasi bunga palsu dan bedaknya rasanya terlalu banyak karena wajahnya kini terlihat seperti badut.&lt;br /&gt;Si pria saleh itu mengetuk pintu dan kami segera membukanya, orang tuanya berdiri rapi di belakangnya. Mereka mengirimkan senyum ramah khas “calon mertua yang anaknya akan bertunangan dalam beberapa menit” Dan hal selanjutnya yang aku tahu adalah Kak Jojo dan Kak Sean sudah bertunangan! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semuanya terjadi cepat sekali, setelah mereka dipersilakan duduk dan berbasa-basi dalam kegugupan akhirnya mereka menjalankan upacara lamar-melamar yang disaksikan semua anggota keluarga. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sejak tadi mataku tidak lepas-lepas pada sosok Kak Sean yang tampak berwibawa dan mantap itu. Di sebelahnya, Kak Jojo tertawa lepas karena sesuatu yang dibisikkan Kak Sean pada Kak Jojo. Di hadapan mereka adalah para mertua yang sedang mengobrol dengan asiknya. Kegugupan dalam wajah Tante Tuti sudah berkurang, begitu juga dengan besannya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sisa anggota keluarga kini sedang menikmati berbagai hidangan yang lezat-lezat itu. Aku sendiri sudah menghabiskan lebih dari 3 gelas buah atep dan aku masih ingin 1 gelas lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semuanya tampak indah saat itu sampai aku benar-benar lupa pada persoalan yang akan kuhadapi hari Senin besok. Persoalan yang entah kenapa meresahkanku padahal sama sekali tidak ada hubungannya denganku.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pagi ini aku bangun seperti biasa. Menyeduh secangkir teh dan menghangatkan almond tart pemberian Oma kemarin sebelum pulang. Lil hari ini libur dan itu berarti aku harus pergi sendiri ke sekolah. Rumah sepi bukan main. Kak Jojo juga belum bangun karena kemarin malam ia bangun sampai larut sekali dan harus membereskan meja dan peralatan makan. Kak Sean dan keluarganya juga ikut membantu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lorong sekolah dipenuhi anak-anak yang berlalu lalang, mengambil buku di loker pada detik-detik terakhir sebelum bel berbunyi dan tepat saat bel berbunyi aku sudah tiba di dalam kelas. Pelajaran awal-awal sangat normal walaupun jantungku berdegup kencang, sejak pagi aku takut akan mendengar berita tentang Julian yang gay atau lebih parahnya lagi kalau gosip itu sudah beredar dan sudah berganti menjadi “Julian operasi kelamin”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bel istirahat berbunyi seperti lonceng kematian. Aku segera berjalan menuju kantin tanpa sepatah katapun. Sierra mengejarku dan napasnya terengah-engah saat sudah tiba di sampingku.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Kau ini kenapa sih? Sejak pagi aneh sekali?” tanyanya. Aku tahu Sierra tidak pernah bisa dibohongi. “Tidak. Omong-omong, kau lihat Julian tidak?” tanyaku, mataku mendelik ke kiri dan kanan, kemana saja berpura-pura mencari July sekaligus menghindari mata Sierra yang menuntutku memberitahu yang sebenarnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Tidak.” Katanya akhirnya. “Dia tidak terlihat sejak pagi tadi.” Jawabnya singkat. Dengan reflek aku langsung menghembuskan napas lega walaupun dalam hati aku bertanya-tanya kenapa dia tidak masuk. Dia selalu masuk. Selalu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Ada apa ya denganny kemarin itu?” tanya Sierra secara tiba-tiba. Aku tidak menjawabnya. “Dia aneh sekali kemarin itu. Tidak seperti dia.” Lanjutnya “dan dia tidak masuk lagi hari ini. padahal pertandingan akan dimulai 3 hari lagi. Semua tim basket kan akan dilatih intensif sejak hari ini.” katanya lagi. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Aku hanya diam walaupun dalam hati aku membenarkan kata-katanya tapi aku sungguh tidak peduli. Sejak July memberi pengakuan padaku, hidupku berubah dan tidak akan pernah sama lagi. Waktuku rasanya didominasi oleh pikiran-pikiran tentang dia, aku sudah tidak punya privasi. Aku ingin kehidupan lamaku.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ruang Teater sudah penuh saat aku tiba untuk menjalankan latihan seperti biasanya. Hari ini, semua tim dekorasi akan memulai kerjanya menghias panggung dan aku juga ikut membantu. Aku, Sierra, Haylie, dan Clarissa duduk bersila mengelilingi potongan-potongan sterofoam dan mulai mengecatnya. Steven membawa segulung bahan masuk dan menunjukkannya padaku.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Apa itu?” tanyaku sambil meraba tekturnya yang lembut.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Ini bahan yang akan dipakai untuk background di adegan keempat. Rencana sih akan dihias dengan bintang-bintang dari kertas lipat yang berkilat itu.” Katanya. Aku mengangguk-angguk lalu duduk kembali di antara Sierra dan Haylie. Kami tidak berani membuka pembicaraan tentang July lagi walaupun aku tahu topik itu akan diangkat cepat atau lambat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tepat saat aku sudah mengikat layar background di atas panggung, pintu terbuka dan Fred masuk. “Maaf terlambat.” Katanya sambil meletakkan tasnya di lantai dan menghampiriku.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Aku harus apa?” tanyanya. Aku berusaha menahan derap jantungku setiap kali bertemu dengannya. “Ambil skrip mu dan berlatih lah. 15 menit lagi kita akan segera memulai latihan semua adegan dari awal sampai akhir.” Kataku dan dia membelalakkan matanya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Apa? Semua adegan?” dan aku menjawabnya dengan anggukan singkat sebelum menuruni tangga dan melompat ke lantai kayu yang sudah ternoda berbagai warna cat. &lt;br /&gt;Semuanya tampak berjalan lancar. Bu Tracy sedang di sudut, melatih semua anak-anak, memperbaiki posisi berdiri dan intonasi dan dia tampak tidak senang ketika melihat Fred baru datang bergabung langsung di adegan keenam. Casey dan kelompok penari-penarinya kini semakin bagus. Apalagi suara Wenda memang tak perlu diragukan lagi, dia sudah pernah memenangkan berbagai perlombaan menyanyi dan dialah penyanyi dan pengaransemen semua lagu-lagu untuk drama ini. Clarissa juga membawa contoh kostum dan menunjukkannya padaku. Aku setuju dan dia berkata akan membawakan semua kostum untuk semua pemain hari Jumat ini. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Aku kembali memposisikan diriku di lingkaran “penghias sterofoam” dan saat itulah, saat jarum panjang di angka 4 dan jarum pendek di angka 3, topik itu diangkat. Dimulai dari Haylie yang berkata, “Kau lihat Julian tidak hari ini?” dan Clarissa menjawab, “Dia kan tidak masuk.” Dan pembicaraan langsung menjadi tebakan-tebakan mengapa dia tidak masuk. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Menurut Clarissa July tidak masuk karena terkena sakit tipus secara tiba-tiba, menurut Haylie July tidak masuk bukan karena penyakit, tapi karena ada urusan keluarga. Sierra dan aku tidak berkomentar apa-apa. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Dia itu agak aneh atau kenapa ya? Kenapa dia aneh sekali Sabtu kemarin itu dan sekarang dia tidak masuk. Dia ikut tim basket tapi ikut drama juga. Pendiam tapi murah senyum. Sungguh tidak mudah ditebak.” Kata Clarissa.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Iya. Dia itu kenapa ya kemarin Sabtu itu?” Haylie mulai menekankan pada “kejadian hari Sabtu”. Aku tidak mau mendengarnya sehingga aku berkata ingin mengawasi latihan akting. Entah apa yang mereka bicarakan selama aku sudah menghindar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Latihan selesai saat langit sudah gelap dan mendung. Aku segera mengambil tas dan menuruni tangga, sebentar lagi hujan dan itu berarti aku tidak bisa pulang. Tepat saat itu Fred memanggilku. “Cres!” aku menoleh.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Bisa ikut sebentar?” tanyanya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Ok.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lalu dia memimpin jalan ke atas. Ke lantai 4 lantai teratas. Dia membuka pintu atap dan aku mengikutinya. Masih segar di ingatanku bagaimana dia menunjukanku tempat indah ini dan kami berbincang banyak tentang dia dan keluarganya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dia berjalan sampai ke pembatas tembok. Langit semakin mendung dan petir mulai terbentuk di langit yang mahabesar. “Ada apa?” tanyaku sambil menghampirinya. Angin berhembus semakin keras, pertanda hujan akan turun sebentar lagi.&lt;br /&gt;Dia menghela napas. “I…..have fallen in love…” kini matanya menatapku lekat, “….to an amazing girl name Crescentia.” Dan detik berikutnya aku merasakan bibirnya hangat dan lembap di bibirku. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Perlahan, rintik hujan membasahi bahuku dan bahunya. Hujan semakin deras dan petir menyambar dari berbagai sisi tapi sungguh aku tidak peduli.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“I love you too.” Bisikku dan dia membentuk sebuah senyum. Sore itu, langit dan hujan menjadi saksi kami dan aku tidak akan pernah menyesal bertemu dengan seorang Frederick.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tetes demi tetes hujan membasahi namun kami berdua tidak ada yang berlindung, tidak ada yang berusaha berlari. Dia menggenggam tanganku erat. “Kau wanita yang sangat luar biasa Cres.” Aku hanya terdiam, tidak tahu harus menanggapi apa.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Mungkin kau tidak secantik cewek-cewek lain tapi sungguh, tidak pernah aku bertemu dengan sebuah sosok yang sangat kuat dan rapuh sekaligus. Yang membuat kepalaku berputar setiap melihatnya dan senyumnya tidak pernah lepas dari otakku.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Tidak pernah aku bertemu dengan seorang wanita yang hatinya penuh kasih dan sangat tegar. Sepertimu..” katanya mengakhiri kata-katanya dan kami berpelukan dalam diam. Saat itu aku merasa bahagia. Sangat bahagia, dan tidak mengetahui apa yang akan terjadi berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tidak akan meninggalkanku kan?” kalimat itu meluncur begitu saja dari bibirku dan aku tidak tahu mengapa. Tanganku erat menggenggam tangannya dan ada suatu perasaan lain yang perlahan menyelinap dalam hatiku. Seperti perasaan takut, kehilangan, dan sendirian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini dia menatapku. Bibirnya bergetar. “Cres. Ada yang ingin kubicarakan..” Dia terhenti dan aku menatapnya terus. “….aku akan pergi ke Amerika bulan depan.” Dia mengakhiri kalimat itu dan aku hanya mematung. Hujan kini sudah tumpah ruah sepenuhnya pada bumi dan tetes-tetesnya mengalir dengan alami. “Itulah sebabnya tadi aku terlambat ke latihan drama. Aku pergi mengurus visa sampai tadi sore….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak tahu harus merasa apa. Aku seperti beku, hilang ditelan hujan. Mungkin langit lebih tahu perasaanku sekarang lebih daripada diriku sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suaraku makin menghilang, tersedak saat aku berkata, “Indah ya..” sambil memejamkan mata dan merentangkan tanganku, berputar-putar dibawah siraman hujan. Aku tidak peduli pada sepotong informasi itu, sungguh aku tidak peduli. Itu hanya sebuah informasi tak berguna dan aku tak memerlukannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak mau mendengarnya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setengah sadar bahwa aku akan kehilangan orang yang paling membuatku bahagia, orang yang sebegitu berartinya untukku sehingga aku menghabiskan banyak waktuku untuk memikirkannya, untuk memandanginya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cres! Dengarkan aku!” katanya dan aku tetap memejamkan mata, berputar lagi dan lagi. Air mataku bercampur dengan hujan dan semua sesak tangisku terbawa angin yang berhembus dari barat. “Indah…” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“….aku tidak ingin meninggalkanmu. Sungguh! Tapi aku sudah sejak lama menginginkan beasiswa ke sana dan bulan kemarin audisinya…” Katanya setengah berteriak, melawan deras hujan yang menenggelamkan suaranya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak tahu akan bertemu denganmu!” teriaknya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak sanggup terus bertumpu pada kakiku. Kakiku lemas, bergetar dan akhirnya aku terduduk di lantai. Tanganku memeluk lutut dan seluruh tubuhku bergetar. Dia segera menghampiriku dan memelukku tapi aku menepisnya. Bukankah semuanya sudah berakhir? Untuk apa dia masih disini? Aku dan dia memang hanya cerita dongeng. Seharusnya aku sudah tahu sejak awal.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Kau bohong!” teriakku padanya dan dia terlihat sangat tidak berdaya saat itu. “Kau pembohong!” teriakku lagi dan aku segera bangkit berdiri dan berlari keluar, meninggalkannya sendirian. Samar namun aku mendengarnya, dia meneriakkan namaku. Namaku yang keluar dari bibirnya, tapi aku sungguh tidak peduli. Aku lelah….&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Semua hal yang telah kulewati dengannya berlalu lalang dalam otakku, cinderella, tatapan matanya, surat yang melayang jatuh dari lokerku, kelompok kimia, genggaman tangannya, kata-katanya yang meyakinkanku untuk melompati gerbang, kaki-kaki yang berlari ke lantai paling atas, langit yang penuh bintang, senyuman dan tawa, permen karet, taman bermain, kertas lipat…..ahh, semuanya ternyata hanya dongeng…dan air mataku semakin memburamkan pandanganku dan aku lelah…..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8007565526840934248-4491161212640822067?l=beyondureyes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://beyondureyes.blogspot.com/feeds/4491161212640822067/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8007565526840934248&amp;postID=4491161212640822067' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8007565526840934248/posts/default/4491161212640822067'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8007565526840934248/posts/default/4491161212640822067'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://beyondureyes.blogspot.com/2008/09/duabelas.html' title='duabelas'/><author><name>Dandelion</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01021338332393636313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8007565526840934248.post-1507327255823067739</id><published>2008-09-29T21:05:00.002-07:00</published><updated>2008-09-29T21:13:46.754-07:00</updated><title type='text'>sebelas</title><content type='html'>“Pesta piyama? Wah! Pasti seru!” begitulah komentar Kak Jojo saat kuberitahukan padanya besok teman-temanku akan datang untuk pesta piyama. Tanggapan Lil beda lagi, “Hah! Kau akan mengadakan pesta piyama! Aduh! Pasti nanti ribut! Jangan coba-coba ambil kuteksku dan jangan coba-coba masuk kamarku!” katanya dengan mengancam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu aku membereskan ranjang dan mendekornya sedikit dengan tirai-tirai tidak terpakai dan menyiapkan bantal-bantal yang kuambil dari kamar tamu lalu kuberi sarung. Meja belajar juga sedikit kurapikan dan aku turun lagi ke lantai bawah, mengecek apakah DVD player masih bekerja dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya pesta piama yang sudah ditunggu-tunggu kami berempat dengan resmi dibuka setelah Haylie, Clarissa, dan Sierra menapakkan kaki dalam kamarku yang sudah kuhias-hiasi dengan kain warna-warni dan bantal-bantal untuk setiap orang. Seprai juga kuganti warna pink ungu agar terkesan “cewek”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Waw! Kau apakan kamarmu?” decak kagum Haylie membuatku senang. Mereka segera meletakkan semua barang bawaan mereka. Barang terbanyak dibawa Clarissa, dia seperti membawa satu toko kosmetik, mulai dari mascara sampai lotion wax dan tisu beberapa kotak. Siap dan lengkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ok! Kita mulai pestanyaaa!” Teriak Sierra kesenangan, “ok kita mulai darimana nih? Aku sudah lama sekali tidak pesta piama.” Katanya lagi. Maka Clarissa yang baru 2 bulan lalu melakukannya memberi instruksi jadwal sederhana yang diyakini kami berempat tidak akan berjalan sesuai rencana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disana tertera bahwa sekarang ini, jam 4 sore ini, kami seharusnya berada di deretan toko-toko di Pasar Baru. Dan itu membuat kami melongo. “Pasar Baru? Kenapa harus pasar baru?” tanyaku seakan menyuarakan pertanyaan setiap kepala disini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Umm..maksudku sih intinya belanja, dan saat aku memikirkannya yang ada di kepala ya hanya pertokoan Mangga Dua dan Pasar Baru.” Katanya polos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aduh, kalau belanja sih bisa dimana saja! Oh iya, aku tahu tempat bagus dan murah!” ujar Haylie tiba-tiba dan ternyata yang dimaksudkan adalah e-bay! Akhirnya jadwal belanja kami dirubah menjadi “Membidik baju di e-bay” dan kami sungguh-sungguh melakukannya hingga jam 6 sore. Jam 6 sore menunjukkan bahwa itu adalah waktu kami saling berdandan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami mandi bersih bergantian dan sambil saling menunggu, yang tidak mandi merapikan botol-botol dan wadah-wadah kosmetik yang dibawa Sierra. Aku agak bingung dengan banyaknya produk perawatan bibir yang bernama depan “lip”, dari lipgloss, lipbutter, lipice, lipstick, lipbalm, sampai lipliner. Maksudku, sebanyak itukah produk untuk merawat bibir? Dan aku juga tidak bisa membedakan yang berawalan “body” yaitu body butter, body lotion, body cream, dan body-body lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara mendandani yang tak pernah kulakukan ternyata mengasyikan. Sambil mengepang rambut Clarissa, Sierra mengecat kuku-kuku kakiku dan Haylie menyiapkan wax untuk kami semua. Inilah yang namanya simbiosis mutualisme. Lalu setelah setengah jam, keadaan akan diputar, Haylie akan dimake-up oleh Clarissa dan aku akan mengecat kuku-kuku Sierra dan menghiasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh omong-omong, kau tahu tidak Erica sedang mengejar Julian?” tanya Haylie tiba-tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu sih semua orang juga tahu!” timpal Sierra sambil meniup-niup kuku kakinya dan menyerahkan kuku tangannya padaku. “Bukan itu saja! Kabarnya dia juga pernah tidur seranjang dengan Willy!” ujar Haylie dan Clarissa mengeluarkan menghirup napas tertahan, “Masa? Gila apa dia?” tanya Clarissa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memang dia gila sejak dulu! Aku yakin 150% Julian tidak akan mau dengannya!” komentar Sierra berapi-api. Dan pada saat itu Haylie berputar menghadap kaca, “Wow! Clarissa ternyata jago memake-up orang!” pujinya dan aku juga menimpali pujian itu karena wajah Haylie dengan matanya yang kecil kini terlihat eksotis dengan perpaduan warna-warna cerah seperti bunga-bunga musim semi dan Clarissa juga melukis ukiran warna biru laut dari ujung mata lancip Haylie, membuatnya terlihat seperti akan tampil di panggung akrobatik Cina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Omong-omong, sebenarnya aku sering bingung Julian itu dalamnya seperti apa. Dia polos tapi dingin. Dia pendiam tapi murah senyum. Menurutmu bagaimana Cres?” tanya Clarissa dan aku yang tadi sedang melumuri tubuhku dengan body butter rasa mangga langsung terfokus, tubuhku seperti disengat kejutan listrik. Clarissa ingin mendengar pendapatku tentang July.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Uh…aku tidak tahu. Ya, maksudku, dia memang seperti itu.” Jawabku. Sebuah jawaban yang perlu dipertanyakan dan meragukan karena kebohongan yang tersimpan di dalamnya terlalu dalam untuk diungkit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau kan lumayan dekat dengannya Cres. Bahkan dulu anak-anak mengira kau sudah jadian dengannya.” Ujar Haylie memojokanku. Aku tidak sanggup melihat mata Clarissa dan Haylie yang menyorotiku, seperti berkata, “kau pembohong besar”. Mataku terpaku pada kakiku yang sebenarnya sudah kuoles bodybutter berulang-ulang sampai bau mangga memenuhi kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yah, aku memang dekat dengannya, tapi sejak dulu ya memang begitu-begitu saja. Dia agak…..pendiam..” ujarku. Mulutku rasanya akan masuk neraka karena berdosa terlalu banyak. Terkadang kebohongan baik dan jahat itu sulit dibedakan dan membuat pelakunya terperangkap perasaan bersalah. Jantungku sejak tadi sebenarnya sudah berdegup kencang namun tidak ada yang tahu. Aku tidak sanggup melirik ke arah salah satu dari mereka, bahkan ke arah Sierra karena disitulah investasi kebohongan terbesarku tersimpan, di dalam persahabatanku dengan Sierra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu…bagaimana dengan love lifenya?” tanya Haylie setelah diam beberapa saat. Love life? Oh… itukah tujuan utama mereka mengajakku berpajamas party? Agar bisa mengorek informasi soal July?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Love Life apaan?” tanyaku pura-pura tidak tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya kehidupan cintanya. Kau tahu tidak cewek yang dia suka, atau apalah…” pancing Haylie lebih dalam. “kami tidak bermaksud mengorek informasi darimu loh Cres. Kalau memang itu rahasia juga tidak apa-apa.” Lanjut Haylie. Dan aku jadi merasa tidak enak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia tidak banyak bicara. Yang kutahu dia suka sekali makan waffle dan suka bermain drama. Dia banyak mendengarkan musik-musik aneh yang aku tidak pernah tahu judulnya ataupun penyanyinya.” Jawabku seadanya. Dia memang tidak banyak bicara tapi tanpa dia membuka mulut pun aku sudah tahu dia tidak menyukai siapa-siapa. Harapannya akan cinta dari orang lain sudah lama pupus dan tak akan kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami selesai bermake-up dan berdandan saat jam menunjukkan pukul 9 malam, molor jauh dari jadwal yang dibuat. Kami segera berlarian ke bawah, menata diri di atas sofa empuk yang sudah ditinggalkan Lil, Mama, dan Kak Jojo untuk memberi kami kesempatan menonton 13 going on 30&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak mau menonton 13 Going On 30!” Clarissa berkata tiba-tiba. “aku sudah menontonnya berkali-kali dan aku bosan. Bisa nggak kita nonton Bratz saja?” tanyanya memohon. Sierra menggeleng, “sayangnya tidak tuan putri, karena kami bertiga belum menontonnya.” Jawabnya dan itu membuat Clarissa mengerucutkan bibirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pizza American Original yang kami pesan tiba tepat waktu, saat filmnya hampir mulai. Wajah Haylie yang dipenuhi masker rumput laut membuatnya sulit makan tanpa memakan olesan maskernya karena sangat dekat dengan mulut. Sementara aku, Sierra, dan Clarissa makan dengan lahap, menyisakan 2 potong untuk Haylie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang film berlangsung, Clarissa tak berhenti mengeluh dan mengeluh sehingga akhirnya dia kembali naik ke kamarku dan memilih membaca setumpuk majalah yang sudah kutelantarkan di sebelah komputer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika akhirnya film yang kami tonton selesai, Clarissa segera turun dari lantai dua. “Bisakah kita memulai acara ramal meramal sekarang?” tanyanya. Terlihat jelas bahwa dia bosan sekali tadi dan dia bahkan sudah membawa kartu tarotnya ke lantai bawah dan meletakkannya di karpet, di antara kaki-kaki kami yang bersila membentuk lingkaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ok. Bisakah kau meramalkan nasibku Madame Sierra?” tanyaku meledek. Dia menjulurkan lidah dan akhirnya meraih setumpuk kartu itu. Mengocoknya dan mengaturnya lalu membolak-baliknya, menutupnya, melebarkannya, dan aku sama sekali tidak mengerti yang sedang dia lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk. Dengan malas aku bangkit dari lingkaran ramal-meramal dan berjalan menuju pintu depan, memutar kuncinya dan membukanya. Sosok tinggi semampai itu berdiri menunduk depan pintuku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mau apa kau?” bisikku pada July. Dia mengangkat wajahnya dan menatapku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Boleh ikut pesta piyama?” tanyanya dengan polos dan jelas terlihat bahwa dia juga tahu itu pertanyaan bodoh. Entah Tuhan berkata apa padanya, yang jelas dia sekarang tampak tidak seperti dirinya. Karena dirinya yang sebenarnya pasti sudah sadar kalau dia sedang lepas control bahkan ketika sedang menapakkan kaki di teras rumahku. Tapi toh akhirnya dia berhasil mengetuk pintunya dan berbicara denganku. “Menurutmu?” tanyaku balik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tahu ini terdengar bodoh. Tapi aku sangat ingin ikut. Aku sudah membawa DVD dan baju-baju terbaikku. Jadi?” matanya penuh harap, seperti anak anjing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak!” jawabku ketus. Aku tahu itu melukainya, tapi aku lebih tak sanggup jika harus melukainya dengan celaan orang lain dan pandangan menghina dari gossip yang akan segera menyebar jika dia ikut pesta piyama kami. Entah apa yang akan dia lakukan nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa?” tanyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena kau akan mengacau,” jawabku. Mataku melirik sekilas pada tas kantong yang dia bawa, di dalamnya dijejalkan berbagai baju-baju berbahan sutera dan linen, berenda-renda, dan berwarna merah atau pink muda. Aku merinding seketika itu juga membayangkan July memakai baju seperti itu jika dia sedang ingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu baju siapa?” tanyaku sambil mengarahkan mata pada kantong yang dibawanya. “Bajuku.” Jawabnya singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau beli dari mana?” tanyaku lebih jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seorang transgender yang berjualan di e-bay. Dia menjualnya dengan harga murah sekali.” Jawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hey Cres! Ini sudah giliranmu! Sedang apa sih kau?” panggil Clarissa dan langkah kakinya sedang mendekati kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cepat pergi!” aku mendorong July dan membuatnya terhuyung menuruni 3 anak tangga dari teras. Terlambat, Clarissa sudah di sebelahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau sedang ap…..” kata-katanya terputus di tengah. Matanya tertuju pada July yang hendak pergi. “Eh Julian! Kau datang rupanya! Ayo ikut kami ramal-meramal!” panggil Clarissa dan July terdiam di tempat lalu perlahan memutar badannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Boleh?” tanyanya. Dia tahu saat itu dia menang telak dariku. Dia akan segera bergabung dengan kami. Dan itulah kejadian yang terjadi berikutnya. Dia duduk diantara aku dan Sierra. Aku agak sedikit mual bila melihat wajah Sierra yang berbinar-binar kesenangan. Ini sih bukan Pesta Piyama! Ini pesta untuk Sierra, Clarissa, dan Haylie. Sama sekali bukan untukku!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Julian, ada apa kau datang malam begini?” tanya Sierra sambil mengocok kartu. Kantong yang dibawa Julian sudah kujejalkan dalam lemari dapur, satu-satunya tempat yang terpikir di otakku sebelum akhirnya berjalan kembali ke ruang tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku sebenarnya ingin meminjami kalian DVD, dan sekalian ngomongin soal The Miracle sama Cres.” Ujarnya berbohong. Semua dahi berkerut mendengarnya. Jelas saja, semalam ini datang dan berkata ingin membahas The Miracle denganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Meminjamkan DVD? Sayang sekali kami baru selesai nonton. Tapi kalau kau bawa, kita bisa kok nonton lagi..” kata Haylie yang sudah menghilangkan maskernya ketika tahu Julian datang dan bergabung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya Jul, kau bawa DVD apa? Coach Carter, Little Man, atau Scary Movie?” tanya Sierra lebih rinci sambil menyebutkan judul-judul film yang paling mungkin di tonton cowok. July menelan ludah sebelum menjawab, “Umm, When Harry Met Sally, The Princess Bride, License to Wed, She’s The Man, dan Hairspray.” Jawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlihat jelas bahwa Clarissa heran. “Wow! Aku belum pernah tahu kau juga suka film seperti itu. Maksudku, itukan film cewek.” Katanya. Aku harus bertindak cepat sekarang karena wajah July sudah memerah. “Well, bagaimana kalau sekarang kita berdansa saja? Membuang lemak Pizza?” tanyaku dan langsung disambut baik oleh semuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sierra, Haylie, dan Clarissa sedikit “flirting” dan “caper” dengan mengajak July berdansa sementara aku memilih satu dari sekian banyak CD lagu untuk berdansa dan memutarnya dalam Audio Player. Dentuman keras lagu Wanna Ride yang menjadi soundtrack Take The Lead menggema di ruang tengah. Kami, cewek-cewek yang awalnya canggung akhirnya bergerak bebas, menghancurkan lemak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami bergerak seperti orang baru bebas dari penjara, menunjukkan kemampuan terbaik mereka. Aku juga tidak akan melewatkan kesempatan berdansa seperti ini, sudah lama sekali aku tidak sebebas ini. Lagu Wanna Ride yang bertempo cepat seperti membawaku menjelajahi festival keglamoran di negara Latin karena liriknya didominasi dengan lirik Spanyol. Merasa kami sudah terbebas dari jerat keragu-raguan, tak lama kemudian July juga ikut bergabung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia berdansa seperti akan mati besok. Dan parahnya, rasanya dia tidak bisa berdansa karena dia bergerak bukan seperti cowok, lebih cocok disebut goyang penyanyi dangdut. Gerakan demi gerakan yang meliuk, lepas, menyentakkan pinggul dan memutar tangan semakin banyak ditunjukkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku rasa dia sudah hilang kendali. Bahkan aku takut menegurnya, aku terlalu takut mengganggu dia dalam dunianya yang sudah lama disembunyikan. Dia berputar dengan bebasnya di tengah ruangan, menepukkan tangannya dan menyentakkan pinggulnya lagi dan lagi, memutarnya dan melepas semua beban dalam dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama, bukan hanya aku saja yang menyadarinya, Sierra, Clarissa, dan Haylie perlahan mengurangi kecepatan dansa mereka. Insting cewek mereka siaga, merasa ada makhluk sejenis lain yang bergerak lebih indah dari mereka. Mereka akhirnya benar-benar berhenti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimulai dari Clarissa yang langsung mendatangiku dan bertanya, “Dia kenapa?” aku mengangkat bahu, tidak berani berkomentar. Lalu Sierra juga mendekatiku bertanya July kenapa dan aku berpura-pura tidak mendengarnya, berpura-pura suaranya tak terdengar karena musik yang terlalu keras. Dia mengulang pertanyaannya sampai tiga kali dan aku berpura-pura tidak mendengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haylie berjalan ke arah Audio Plyar dan secara tiba-tiba menghentikan musiknya. Musik berhenti dan menyentakkan July kembali ke dalam dunia nyata. Dia berhenti. Memandangi kami yang juga sedang memandanginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa itu?” tanya Clarissa dengan suara sedikit parau. Aku kembali teringat pertanyaan yang dilontarkan Fred pada July saat dia sedang berdandan di Ruang Kostum. Kini, hari itu serasa setahun yang lalu tapi saat Clarissa menanyakan pertanyaan itu, aku langsung teringat, bagaimana Fred bertanya dengan suara jijik, “Siapa kau?” semuanya seperti terulang lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;July memandangi kami. Lekat dan lama. “Dansa?” ujarnya sambil mengangkat bahu. “Bukan! Itu bukan dansa! Kau gila!” bentak Haylie yang masih berdiri di depan Audio Player yang distop tiba-tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;July terlihat menderita saat itu. Dia lumpuh tak berdaya, mengetahui jati dirinya sudah terbongkar perlahan-lahan walaupun Clarissa, Sierra, dan Haylie belum mendapatkan gambaran penuhnya. Tapi matanya terlihat tegar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Detik itu juga aku tahu mengapa dia datang. Mengapa dia dengan anehnya menawarkan dirinya untuk dikenal dan diketahui. Bukan hanya alasan klise karena dia ingin bersenang-senang dan merasa seperti cewek sungguhan, tapi lebih kepada alasan untuk membongkar jati dirinya kepada publik. Dia ingin orang-orang tahu jati dirinya, dia sudah terlalu lelah berpura-pura. Terlalu lama. Dan dia sudah merencanakan ini matang-matang dan untuk itulah dia membawa DVD dan baju-bajunya sekalian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan Jul. kau akan melukai dirimu sendiri. Batinku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa?” tanyanya lagi. Tidak ada yang menjawab pertanyaan itu. Sierra yang sejak tadi mengidolakan July kini hanya bisa terdiam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami akhirnya meninggalkannya satu per satu. Naik ke lantai atas dan jelas July tidak diundang. Aku sempat mengucapkan “Sorry” padanya dengan bahasa bibir dan ia hanya tersenyum penuh simpati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sisa malam itu kami habiskan dengan sedikit kecanggungan. Sierra lah yang paling pendiam, mengetahui bahwa Julian, idolanya, bisa jadi sedemikian mengerikan baginya. Aku pun tak berani menjawab atau menimpali berbagai komentar yang keluar dari mulut Haylie ataupun Clarissa. Seluruh otakku hanya berpikir dan berpikir dalam ketakutan. Apa yang akan terjadi bila Senin datang dan apa yang akan dilakukan July jika semuanya sudah tersebar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang ada dalam otaknya sih? Dasar bodoh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia seperti domba yang menyerahkan diri ke serigala untuk dicabik-cabik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku benar-benar tidak habis pikir.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8007565526840934248-1507327255823067739?l=beyondureyes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://beyondureyes.blogspot.com/feeds/1507327255823067739/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8007565526840934248&amp;postID=1507327255823067739' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8007565526840934248/posts/default/1507327255823067739'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8007565526840934248/posts/default/1507327255823067739'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://beyondureyes.blogspot.com/2008/09/sebelas_29.html' title='sebelas'/><author><name>Dandelion</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01021338332393636313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8007565526840934248.post-1648199998552421834</id><published>2008-09-27T23:58:00.000-07:00</published><updated>2008-09-28T00:00:29.101-07:00</updated><title type='text'>Sepuluh</title><content type='html'>Dandelion namanya  Nama tumbuhan yang sedang dipegang July. “Lihat deh, dandelion ini kecil banget ya.” Katanya sambil memutar-mutar dandelion putih kecil di tangannya. Bulu-bulu mungilnya terbang dengan ringan, mengikuti arah angin.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Aku memperhatikannya lekat-lekat. “Lalu?” tanyaku masih tidak mengerti poin yang ingin dibicarakannya sore ini sampai aku bela-belain datang ke sekolah lagi padahal langit mendung sekali.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Coba tiup.” Perintahnya. Aku memandanginya sebentar lalu merapatkan jaketku. Kucondongkan badanku ke dekat jari July dan kuhembuskan angin lembut pada tumbuhan mungil tak berdaya ini. Dalam sekejap, bunga putih yang sedari tadi bulat tiba-tiba pecah dan bulu-bulu yang membentuk dandelion mungil itu terbang ke segala penjuru arah. Mengikuti angin dan mereka akan tertancap entah dimana lalu mengembangkan dandelion-dandelion baru.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mereka adalah tumbuhan liar yang indah. Mereka cepat sekali berkembang hanya oleh tiupan angin. Aku memperhatikan salah satu anak dandelion yang terbang ke angkasa, indah dan anggun. Dilatari langit yang berwarna kemerah-merahan dan biru gelap. Aku memandanginya kagum. Dandelion itu ternyata indah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Indah ya. Padahal dia tumbuhan liar yang bisa tumbuh dimana saja.” Komentar July dan aku menyambutnya dengan anggukan. Kami menyaksikan mentari sore itu terbenam dan menghilang, digantikan dengan bintang-bintang tak terhitung jumlahnya lalu mereka tersapu awan pekat dan gerimis mulai membasahi bumi. Saat itulah aku baru sampai rumah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segera kukeringkan rambut dengan handuk dan menjawab pertanyaan Lil yang bertanya aku darimana. Aku tidak bisa mengelak kan? Tapi jawabannya memang jelek sekali, “Melihat dandelion.” Jawabku. Dan dia menoleh menatapku, membiarkan Hannah Montananya berlangsung di TV, “Apa?” tanyanya seakan tidak yakin pada pendengarannya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Melihat dandelion.” Ulangku sambil mengambil cangkir kopi dan mulai menumpahkan kopi bubuk pada dasarnya yang dangkal. “Dandelion? Tumbuhan yang di samping sekolah itu? Yang kalau di tiup terbang-terbang?” tanyanya memastikan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Iya.” Jawabku.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Ngapain ngeliatin dandelion? Penelitian?” tanyanya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Ngga, menjadi saksi keindahan.” Jawabku singkat dan dia melongo mendengar jawabanku seolah aku menjelaskan teori geometrikal atau semacamnya. “Ok.” Katanya sambil memutar posisinya pada Hannah lagi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Aku membawa kopiku naik ke kamar lalu mengecek ponselku. Disana sudah ada beberapa pesan. Kebanyakan dari kru The Miracle dan sisanya dari Fred yang menanyakan apa yang sedang kulakukan. Aku sendiri heran aku sedang apa, maka kubalas aku sedang meminum kopi dan sedang menyalakan komputer karena memang itu yang sedang kulakukan, hujan semakin deras di luar. Entah apa yang terjadi pada dandelion-dandelion mungil itu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tak lama kemudian Fred membalas dengan sederet puisi yang membuatku tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Hari ini hujan membasahi bumi&lt;br /&gt;Persis seperti pertemuanku dengannya&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sayang sekali&lt;br /&gt;Parasnya yang sempurna disembunyikan dengan topeng keangkuhan&lt;br /&gt;Tak ada senyum saat kutawarkan teduhan dari air mata awan sore itu&lt;br /&gt;Hanya ada mata yang penuh kasih&lt;br /&gt;Namun sayang, disembunyikan dengan kata-kata pedasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau menarik seuntai senyum saat kuantar kau dengan selamat&lt;br /&gt;Di depan pintu rumahmu, senyum malu-malu yang kutunggu&lt;br /&gt;Tetes demi tetes air mengiringi lambaianmu&lt;br /&gt;Dan aku menanti&lt;br /&gt;Menanti hujan agar bertemu denganmu lagi….&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku membaca puisi itu berulang-ulang. Meneliti kata demi kata yang begitu jujur menceritakan kisah pertemuanku dengannya dan semakin aku membacanya, semakin aku mengerti bagaimana dia melihatku dari sudut pandangnya. Aku? Penuh kasih dan berparas sempurna? Ah bisa saja dia!&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kupandangi layar komputer yang kata-katanya tak dapat kucerna. Pikiranku melayang ke berbagai hal, Fred, July, Sierra, The Miracle. Rasanya hidupku tidak pernah serumit ini. Aku menengadahkan kepalaku pada sandaran kursi putar, memejamkan mata dan mengingat bagaimana bebasnya sewaktu kecil. Tidak ada masalah, sama sekali bebas, bermain sepanjang hari. Tapi sekarang, semuanya tampak rumit dan merepotkan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Jumat selalu menyenangkan dan hari Minggu selalu buruk, begitulah teori July. Hari Jumat rasanya semua beban terangkat, mengetahui bahwa besok adalah hari libur, yang artinya waktu jalan-jalan, waktu bersantai di rumah, sedangkan hari Minggu adalah hari yang tidak menyenangkan. Hari dimana kita harus memusingkan tugas untuk besok dan memikirkan seminggu ke depan yang akan sangat melelahkan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Kau sudah memberitahu Sierra?” tanyaku pada July saat kami sedang meneliti budget dekorasi di hari Jumat yang menyenangkan ini. “Belum, aku tidak tahu bagaimana memberitahunya.” Katanya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Memang butuh waktu yang tepat dan keberanian untuk mengungkap jati diri sendiri. “Kau mau aku yang beritahu?” tanyaku dan July menggeleng, “Jangan, aku saja yang beritahu.”.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Ok.” Jawabku singkat. Lalu kami kembali meneliti rincian budget yang akan dikeluarkan untuk pementasan ini lalu aku kembali mengerjakan skrip adegan terakhir dan membagikannya bagi para pemain.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei yang hitam! Kalau tidak bisa menari keluar sajalah!” bentak Cassie dengan kasar pada seorang anak baru yang mendapat peran sebagai orang-orang kerdil yang menari-nari sambil bernyanyi. Drama musikal memang tidak pernah mudah dan walaupun aku merasakan tusukan perasaan iba, aku yakin Cassie bisa mendidik dengan caranya sendiri, karena hasil dari arahan Cassie selalu bagus.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Cassie! Kau terlalu kasar!” protes Clarissa yang sedang mengukur panjang tangan dan lingkar pinggang semua pemain untuk pembuatan kostum. Cassie memutar bola matanya seolah berkata, “oh please!”.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Mereka ini kalau tidak dikeraskan seperti akan main-main seumur hidupnya. Mereka tidak punya bayangan tentang seberapa banyak 500 orang itu dan setiap gerak gerik mereka akan diperhatikan. Akan dikritik kalau jelek dan salah gerakan, dan tidak akan dipuji kalau semuanya sukses. Semua penonton itu jahat. Mereka harus belajar menerima kenyataan!” kata Cassie panjang lebar.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku diam-diam menyetujuinya. Penonton tidak tahu betapa sulitnya mengatur semua ini dan mereka hanya menginginkan hiburan terbaik untuk kepuasannya. Kalau bagus ya ditepuki, kalau jelek akan dihina habis-habisan dan menjadi topik selama seminggu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Eh! Kita buat pesta piyama yuk di rumah siapa gitu!” usul Clarissa tiba-tiba saat kami, pengurus inti, sedang membantu pengurus dekor membuatkan dekor panggung. “Wah boleh juga!” sambut Haylie tanpa menolehkan pandangannya dari sterofoam yang sedang dicatnya, tangannya kotor oleh cat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Kapan, kapan? Aku sudah lama sekali tidak mengadakan pesta piyama. Terakhir kali mungkin kelas 6 SD!” sambut Sierra kesenangan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Bagaimana kalau Sabtu ini? aku kebetulan tidak ada tugas apa-apa.” Usul Haylie. Dan kami semua setuju. Kami yang dimaksudkan adalah aku, Sierra, Haylie, dan Clarisssa. Sayangnya Cassie, Sammy, dan Giselle tidak bisa ikut. “Kok aku tidak diajak?” tanya Steve sambil nyengir dan kami secara kompak melemparkan barang padanya dan dia tertawa.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Jadi? Di rumah siapa?” tanyaku. Kami semua saling pandang. “Kenapa tidak di rumahmu saja Cres?” tanya Haylie.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Um…” aku baru akan memprotes ketika Sierra malah menimpalinya, “Iya, kamarmu kan nyaman sekali Cres!” dan akhirnya toh aku tidak punya pilihan kan?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Jangan lupa siapkan DVD dan popcorn bebas lemak ya!” pesan Clarissa dan kami tertawa.&lt;br /&gt; “Kalau butuh bantuan aku bisa kok membantu!” ujar July tiba-tiba. Kami mencibir padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin kami bisa jadi membutuhkanmu Jul, kalau-kalau DVD player kami rusak kau akan membetulkannya.” Kata Haylie dan kami semua tertawa.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Benar nih? Aku boleh ikut? Aku punya DVD bagus loh!” kata July bersemangat. Pada tahap ini aku sudah pada posisi siaga satu. Takut kalau tiba-tiba July kumat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Tentu saja tidak bodoh! Cakep-cakep kok bodoh? Pesta piyama kan cuma untuk cewek. Dan kami akan membahas masalah cewek. Pokoknya intinya bersenang-senang. Saling mendandani, bercerita, menonton DVD, berdansa…” kata Clarissa dan kami menyambutnya dengan tawa, July tampak tersinggung dibilang bodoh. Aku tidak mau merasakan jadi July saat ini. aku tidak berani mencoba merasakan rasanya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Akhirnya pesta piyama ditentukan hari Sabtu di rumahku. Clarissa bertugas membawa peralatan dandan, aku bertugas menyiapkan tempat, DVD, dan popcorn, Sierra menyiapkan kartu tarot untuk acara ramal-meramal dan cemilan, Haylie bertugas membawa lagu-lagu dansa dan bantal-bantal lucu. Tugas untuk semua: cerita!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8007565526840934248-1648199998552421834?l=beyondureyes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://beyondureyes.blogspot.com/feeds/1648199998552421834/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8007565526840934248&amp;postID=1648199998552421834' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8007565526840934248/posts/default/1648199998552421834'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8007565526840934248/posts/default/1648199998552421834'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://beyondureyes.blogspot.com/2008/09/sepuluh.html' title='Sepuluh'/><author><name>Dandelion</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01021338332393636313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8007565526840934248.post-6571613214039812719</id><published>2008-09-27T01:57:00.000-07:00</published><updated>2008-09-27T02:01:05.113-07:00</updated><title type='text'>Sembilan</title><content type='html'>July menggoyang-goyangkan kepala sesuai dengan musik yang bermain dalam telinganya, kakinya dientak-entakkan pada lantai semen sederhana di lapangan basket. Headset terpasang pada mp3 nya dan bermuara di telinganya. Dia tampak menikmati musik yang sedang didengarkannya dan sayang sekali, aku harus mengganggunya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Aku berjalan menghampirinya dan dia langsung melepaskan headsetnya, mengakhiri keasikannya mendengarkan musik pada jam istirahat di hari Senin ini. “Eh kau Cres! Ada apa?” tanyanya saat aku sudah duduk di sampingnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Umm..sebenarnya aku cuma ingin bertanya, apa yang kau lakukan setelah pergi dari toko donat?” tanyaku blak-blakan. Dia mengerucutkan bibirnya, berusaha mengingat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Well, kami berlari-lari seperti orang gila dan berhasil tiba di toko buku Jendela yang di ujung jalan itu tepat pas kaca tokonya akan ditutup. Lalu aku menunjukkan buku Laskar Pelangi dan Sierra membelinya…”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Lalu..?” tanyaku lagi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Dia mengajakku ke rumahnya dan dia meramalku dengan kartu tarotnya. Aku tidak tahu dia bisa meramal, dan dia menunjukkan situs website favoritnya dan kita berbicara tentang penyanyi kesukaan kita…..” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku sungguh tidak mengerti jalan pikirnya. Jalan pikir July. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Dan kau belum memberitahunya soal identitas dirimu yang trans itu?” tanyaku langsung pada pokok persoalan yang ingin kubicarakan. Dia tertegun. Seolah baru sadar bahwa itulah yang seharusnya dia lakukan. “Haruskah?” tanyanya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Tidak. Tapi aku tidak mau melihat teman baikku terluka.” Jawabku. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Terluka kenapa?” tanyanya. Dan aku baru tahu dia sebodoh ini.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Karena dia…..” aku tidak tega mengatakannya, tapi mau bagaimana lagi? Haruskah aku berpura-pura pada kenyataan? “…ok. Sudah waktunya…” aku menghela napas, “..dia suka padamu.” Kataku akhirnya, menumpahkan 3 kata yang sudah ada di ujung lidah dan memenuhi otakku.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Suka padaku?” dia mengulang kata-kataku dan aku mengangguk. “Aku harus bagaimana?” tanyanya tiba-tiba, seperti tersadar pada semua inderanya dan berada dalam posisi siap untuk mendengar.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Aku juga bingung. Aku tidak mau rahasiamu semakin menyebar, tapi aku juga tidak tega melihat Sierra seperti ini terus.” Kataku dengan jujur. Dia melihatku dengan sungguh-sungguh. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Aku tidak mau melukai orang lain.” Katanya hampir seperti untuk dirinya sendiri dibandingkan untukku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Ok. Aku akan memberitahunya.” Ucapnya dengan tiba-tiba, membuat keputusan yang belum dipikirkan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Kapan?” tanyaku.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Secepatnya.” Jawabnya dengan suara yang penuh tekad. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;July, July, apakah pikiranmu sama sepertiku? Sekalipun Sierra teman baikku, entah mengapa aku ada perasaan kekhawatiran dan perasaan protektif terhadap July daripada Sierra. Aku tidak mau dia terluka, dan aku tidak mau luka yang sudah ada bertambah parah. Aku sudah pernah bercerita ribuan rahasia pada Sierra tapi entah mengapa untuk kali ini, aku merasakan keraguan bersembunyi, menyelinap di balik kulitku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langit sore itu seumpama kupu-kupu beraneka warna. Sebelah barat dan timurnya berbeda warna dan bulan mungil sudah muncul di satu ujungnya yang entah dimana. Langit bersih, tak berawan, sangat kontras dengan perasaanku sekarang yang seperti benang kusut, awut-awutan dan tidak tahu ujungnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah kaki Sierra disertai senandung kecil dari bibirnya sore ini. Jelas bahwa dia sedang dalam perasaan bahagia dan setidaknya sudah 8 kali dia bercerita tentang malam minggu yang dia habiskan dengan July. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengulangnya lagi dan lagi dan dalam setiap pengulangan, dia semakin membuat ceritanya detail dengan menambahkan ini dan itu, bagaimana perasaannya, bagaimana July tertawa saat diberitahu nasibnya di kartu tarot, bagaimana dia merasa beruntung bisa meramal dengan kartu tarot, tentang bagaimana dia berlari dan tertawa sepanjang jalan menuju toko buku, bagaimana dia belum membaca selembarpun Laskar Pelangi, bagaimana dia mengeluarkan 60.000 rupiah untuk membeli buku itu agar dia bisa bersama July.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya menanggapinya dengan kepura-puraan seorang pemeran Cinderella di atas panggung dengan berekspresi tidak percaya, ekspresi tertarik, dan aku akan mengatakan itu mudah dibuat tapi tidak mudah berkompromi dengan hatiku yang menolak mentah-mentah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebenarnya Si….” Aku memulai pembicaraan. Dia tampak tidak fokus beberapa saat, terbawa perasaan senangnya tapi lalu tersadar bahwa aku berbicara padanya. “ya?” tanyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“…kau yakin dengan perasaanmu terhadap Julian?” tanyaku. Dia memandangiku seperti orang aneh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa tidak?” tanyanya balik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yah, siapa tahu kau hanya sekedar…..umm…..mungkin mengaguminya.” Aku berusaha berbelit dengan kata-kata yang pas, agar terkesan tidak mencurigakan. Soal jati diri July sebenarnya, biarlah July sendiri yang beritahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, nggak ah. Ya mungkin saja sih, tapi aku tidak mau memikirkannya.” Katanya sambil lalu. Dan aku tahu apa yang ada dalam otaknya, pasti dia sedang curiga apakah aku menyukai July juga dan dia berpikir bahwa aku sedang aneh. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ti, sini deh.” Panggil Kak Jojo saat aku baru masuk rumah. Aku segera meletakkan tasku dan melepas sepatuku lalu menghampiri arah suara Kak Jojo di kursi taman belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Liat deh, menurut kamu warna serbetnya krem atau pink?” tanyanya sambil menyodorkan 2 buah kain serbet berbentuk persegi lebar. Aku memikirkannya sebentar lalu memutuskan memilih krem dan dia setuju. “Nah sekarang, coba liat deh, menurut kamu bagusan bunga yang ini atau ini?” tanya Kak Jojo menunjukkan 2 tangkai bunga berbeda. Yang satu aster dan yang satu mawar. Aku memilih aster. “Ok. Pilihanmu bagus. aduh Ti, Kakak pusing sekali nih mikirin pernikahan.” Keluh Kak Jojo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Emangnya Kak Sean nggak dateng ke Jakarta buat bantuin?” tanyaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Minggu depan dia akan datang, sama keluarganya juga. Dan akan ada acara lamaran dulu di rumah Oma, aduh Kakak sampai lupa menyiapkan bajunya.” Katanya. Terlihat bahwa Kak Jojo memang sedang sibuk mengurusi “big day” nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara teriakan Lil melebihi apapun di dalam rumah ini, dan saat ini dia berteriak memanggilku, “Kak Tiaaaaa! Ada telepon!” katanya. Dan aku segera berjalan ke ruang keluarga, tempatnya sedang nonton Hannah Montana (lagi) dan memakai celana balon berwarna-warni. Terkadang aku bingung dia umur berapa tapi kalau ditanya orang aku selalu menjawab dia umur 10 tahun dan dia akan memprotes dan berkata dia berumur 13 tahun. God! She’s 13! And I’m 16! Kenapa dia punya babyface yang membuatnya semakin kekanak-kanakkan itu sih?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku segera meraih gagang telepon dan suara Bu Tracy terdengar dari seberang sana, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cres, ini Bu Tracy.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, iya kenapa Bu?” tanyaku, langsung mengisyaratkan Lil agar mengecilkan volume TV nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ibu sudah buatkan surat ijin menggunakan panggung di auditorium itu untuk pertunjukkan kita dan Ibu yakin akan diijinkan. Kamu sendiri sudah mendapatkan desain kostum belum? Dan bagaimana dengan latihan-latihannya?” tanyanya.&lt;br /&gt;Oops. Aku benar-benar sudah melupakan The Miracle selama berhari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau desainnya sih belum Bu, tapi kalau penjahitnya sudah kok. Kalau untuk pemainnya, kemarin saya sudah memberikan kopian skrip adegan pertama.” Kataku berbicara apa adanya. Lalu Bu Tracy menyuruhku mengadakan latihan sesering mungkin lalu dia menutup sambungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku segera menekan nomor Clarissa, pengurus kostum. “Hey! Kenapa Cres?” tanyanya saat telepon sudah tersambung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau sudah membuat desain kostum belum? Bu Tracy baru saja meneleponku dan aku langsung meneleponmu. Aku benar-benar gila rasanya selama beberapa hari lalu karena aku tidak melakukan pertemuan sama sekali!” kataku stress.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wow! Tenang Cres! Aku sudah membuat beberapa desain, besok akan kubawakan.” Katanya. Dan aku menghembuskan napas lega. “Ok. Lega sekali rasanya mendengarmu sudah mempersiapkannya.” Kataku dan dia tertawa kecil. Setelah sambungan Clarissa dan aku terputus, aku segera menelepon Haylie, si pengurus dekorasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana dekornya?” tanyaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aduh! Maaf Cres! Aku benar-benar lupa memperbaiki rincian biayanya!” katanya.  Oh sama dong, batinku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Besok aku akan ada pertemuan di Ruang Teater. Kalau bisa sih kau merundingkannya dengan serius dan hari Jumat nanti paling tidak sudah ada gambaran besarnya.” Kataku. Dia mengiyakan dan kami menutup telepon. Aku segera mengeluarkan sepeda dari garasi dan mengayuhnya sampai tukang fotokopi terdekat dan mengkopi skrip semua adegan yang sudah kubuat. Setidaknya aku sudah membuat sampai adegan keempat dan itu berarti aku harus membuat 2 adegan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Selasa sore, aku sudah sampai di Ruang Teater paling pertama dan aku merapikan dan memisahkan skrip-skrip adegan dan tak lama kemudian pintu Ruang Teater terbuka dan setidaknya 15 orang mulai mengisi ruangan ini dan semakin lama semua telah sampai dan berkumpul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah! Aku meminta maaf karena sepanjang minggu ini aku tidak mengadakan pertemuan dan kemarin saat aku sedang terbaring diatas ranjang, aku mulai berpikir bahwa pertunjukkan kita akan diadakan 3 bulan lagi dan kostum dan dekorpun belum siap. Apalagi para pemainnya. Oleh karena itu, kupikir kita akan melakukan latihan intensif setiap hari.” Kataku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdengar beberapa suara keluhan tapi aku tidak peduli. Aku tahu 3 bulan itu singkat dan belum lagi persiapannya masih berantakan begini. Aku segera menginstruksikan mereka mengambil skrip yang sudah kususun berderet dan kuminta mereka berlatih sendiri, sementara seksi kostum akan berkumpul dan seksi dekor juga akan berkumpul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Clarissa memberikan satu file penuh berisi desain-desain baju yang sudah dibuatnya. Aku melihatnya sekilas-sekilas dan semuanya tampak indah. Dan aku segera ikut nimbrung di bagian diskusi seksi dekor. Aku meminta mereka mulai memikirkan bahan-bahan apa saja yang akan mereka keluarkan, beserta bujetnya karena Haylie belum merincikan biayanya setelah dihemat jauh dengan penggunaan sterofoam daripada kayu sungguhan, dan penggunaan lem fox daripada aica aibon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini memang bukan pekerjaan yang mudah, mengingat bujet yang dikeluarkan akan sangat besar dan untuk itu, setiap tahun selalu diminta tiket masuk bagi yang mau menonton. Dan penontonnya pun bebas, tidak hanya anak-anak sekolah kami. Biasanya sih, uang yang terkumpul dari penjualan tiket benar-benar pas-pasan untuk menutup pengeluaran atau bahkan mungkin kurang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, bagian promosi, yaitu Demi dan Flo bekerja sangat keras tahun ini untuk memenuhi target yang sudah kutetapkan, yaitu setidaknya ada 500 orang yang datang. Itu berarti akan terkumpul uang sebesar Rp 25.000.000,-, itu saja belum mencukupi biasanya karena dekorasi umumnya mengeluarkan banyak biaya dan belum lagi untuk urusan tetek-bengek lainnya. Konsumsi lah, make-up lah, dan masih banyak lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak heran Geraldine dulu sering membentak-bentaki kami yang bertanya pertanyaan-pertanyaan bodoh dan mendasar soal adegan-adegan padanya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8007565526840934248-6571613214039812719?l=beyondureyes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://beyondureyes.blogspot.com/feeds/6571613214039812719/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8007565526840934248&amp;postID=6571613214039812719' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8007565526840934248/posts/default/6571613214039812719'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8007565526840934248/posts/default/6571613214039812719'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://beyondureyes.blogspot.com/2008/09/sembilan.html' title='Sembilan'/><author><name>Dandelion</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01021338332393636313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8007565526840934248.post-964403243903532884</id><published>2008-09-19T01:13:00.000-07:00</published><updated>2008-09-19T01:21:07.209-07:00</updated><title type='text'>Delapan</title><content type='html'>“Cres……”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Hah?” &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Liat deh…..Julian cakep banget yaa…” pandangan mata Sierra menyorotkan kekaguman dari deret paling belakang bangku penonton di lapangan basket. &lt;br /&gt;Matahari menyorot tanpa ampun dan aku menemani Sierra menontoni July berlatih basket dengan timnya di jam istirahat seperti ini! Sesungguhnya ini sangat konyol, aku sejak tadi hanya berkutat pada soal-soal fisika di buku PRku sementara Sierra? &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sejak tadi hanya menulis “Jawaban” yang diberi tanda titik dua dan digaris bawahi dan 15 menit selanjutnya dihabiskan dengan menontoni July dan mengomentarinya. “Ga secakep itu ah,” tanggapku dengan tidak konsen karena sekarang otakku serasa diperas untuk mengerjakan soal-soal ini.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Hey! Lagi ngapain?” tiba-tiba wajah July sudah di depan mataku, keringatnya bercucuran. “Mengerjakan PR fisika,” jawab Sierra sambil merapikan rambutnya dengan reflek.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Ko…kok nggak main?” Tanya Sierra setengah salting.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Lagi istirahat. Aduh panas sekali sih!” gerutu July sambil mengipasi dirinya dengan bajunya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“A…aku ingin membeli limun disana, mau ikut?” Tanya Sierra tanpa basa basi padanya. Aku meliriknya sekilas, wajah Sierra memerah dan dia tampak gugup, tangannya di silangkan di belakang punggungnya, namun July tidak bisa melihat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Boleh.” Jawab July sambil mengikuti Sierra turun dari bangku penonton menuju penjual limun. Aku sebenarnya tidak bisa tidak peduli. Sierra dan July adalah dua sahabat baikku, dan aku tidak bisa mengkhianati keduanya, tapi sampai kapan Sierra harus dibohongi terus?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tak lama kemudian July dan Sierra kembali dengan gelas limun di tangan mereka dan mereka tertawa-tawa. “Eh, Cres! Tahu ngga, Erica akan merayakan ulang tahunnya Sabtu nanti, kau ikut?” Tanya July sambil memposisikan dirinya di sampingku. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Memangnya siapa yang peduli? Lagipula aku kan nggak diundang,” jawabku dengan cuek. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kata siapa kau nggak diundang? Pasti kau belum melihat papan pengumuman di Ruang Teater deh,” kata July.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Memangnya ada apa?” tanyaku sambil menengadahkan kepala, mulai tertarik.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Aduh Cres! Dia pasang pengumuman soal pestanya itu. Dan kau tahu ngga, pestanya akan di adakan di Newton’s Club! Ya ampun Cres! Kita harus datang! Harus!” sambung Sierra berapi-api. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menunggu July mandi kilat, aku, July dan Sierra segera menuju Ruang Teater untuk melihat pengumuman itu, dan ternyata memang ada! Tertempel jelas di papan pengumuman dengan kertas pink nge”jreng” dan disana juga disebutkan tempat dan waktu pesta itu akan diadakan, yaitu hari Sabtu ini di Newton’s Club. Semua anak yang tergabung dalam klub drama turut diundang.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Memangnya kita sudah boleh masuk?” tanyaku tiba-tiba. Dan saat itu kata-kataku seperti baru menyadarkan mereka. “maksudku, kita kan umur 16, bukannya harus umur 18 baru boleh masuk?” tanyaku lagi. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Wah, kau benar, jadi bagaimana?” Tanya Sierra. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Mendingan kita langsung tanya dia tentang ini.” kataku. Lalu kami bertiga segera menuju ruang kelas karena pelajaran akan segera dimulai. Fred sudah berada di dalam dan dia melemparkan senyum kilas padaku, aku pun membalasnya lalu segera mengamil tempat duduk di sampingnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Kau ke ulang tahun Erica?” bisikku padanya saat Bu Francis sedang menulis soal di papan. “Mmm…mungkin…kau mau aku jemput?” tanyanya langsung tanpa basa-basi. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Memangnya kita sudah boleh masuk Newton’s Club?” tanyaku lagi padanya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Well, kenapa tidak? Kau belum pernah?” tanyanya. Dan aku menggeleng pelan. Terserah dia mau menganggap aku apa, tapi jelas aku tidak tertarik dan tidak pernah ke club manapun. Pernah sih satu kali, itupun dengan Lilian dan Mama dalam rangka merayakan ulang tahun teman baik Mama dan akhirnya aku dan Lil juga tidak tahan dengan suasananya dan akhirnya kami berjalan-jalan sekitar club itu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Oh, gampang kok. Kau cuma perlu memakai jaket panjang dan sepatu boot atau sepatu hak tinggi, mungkin itu bisa mengelabui si penjaga pintu, atau lebih baik kau Tanya Erica.” Katanya. Aku mengangguk. “Ok.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelajaran matematika adalah pelajaran selanjutnya. Aku segera menyempatkan diri ke meja Erica yang sudah dikerumuni cowok-cowok.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Uhmm..tentang pesta ulang tahunmu itu… bagaimana sebenarnya kita bisa masuk club?” tanyaku langsung. Dia sesaat tampak heran, “Ada apa dengan cara masuknya?” tanyanya balik.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Bukankah kita tidak boleh masuk club?” tanyaku. Ada jeda 1 detik sebelum dia tertawa terbahak-bahak. “Cres…Cress…kau belum pernah? Hahahahahahahha…”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Oh well. Seharusnya aku tidak bertanya padanya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Gampang sekali kok. Sekali-sekali kau berdandan lah, pasti langsung boleh masuk. Masak begitu saja tidak tahu? Pakai make-up dan sepatu hak tinggi. Kalau perlu pakai jaket disainer terkenal, pasti langsung boleh masuk.” Katanya dengan enteng. Ya jelas saja dia bisa langsung masuk, mungkin dia bahkan menggoda si penjaga pintu!&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Um..ok.” kataku singkat lalu segera kembali ke meja, tepat saat pelajaran matematika mulai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau mau jujur, ini sudah kesekian kalinya dalam pelajaran matematika ini aku memikirkan akan memakai baju apa dan make-up apa. Aku tidak punya satupun baju disainer dan kebanyakan isi lemariku adalah jeans dan kaos, atau mungkin memang ada beberapa atasan lucu, tapi itu sangat tidak “dewasa”! &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mungkin aku akan bertanya pada Kak Jojo, atau mungkinn…..July?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“July!”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Cres! Kecilkan suaramu!” bentak July. Aku segera menutup mulut dengan reflek, beberapa orang yang sedang sibuk mengurus loker mereka menoleh padaku. Aku baru saja memanggil July dengan nama kecilnya! Dasar bodoh!&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Apa?” tanyanya sambil memasukkan buku-bukunya ke dalam loker.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Bagaimana caranya dandan agar terlihat dewasa?” July hampir menjatuhkan bukunya mendengar pertanyaanku. “Kenapa kau bertanya padaku?” tanyanya heran.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Well, karena kau kan lebih mengerti soal dandan dan baju yang keren daripadaku.” Kataku jujur. Dia memutar bola matanya dan akhirnya mengiyakan permintaanku. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dia akhirnya menemaniku ke rumah dan melihat isi lemari pakaianku (dan untungnya Mama akan pulang malam untuk malam ini dan Kak Jojo dan Lilian sedang melihat-lihat gaun pengantin). “Wow!” dia tercengang-cengang waktu aku membuka lemari pakaianku yang ternyata di luar dugaaannya. “Ehm, maaf, aku memang tidak rapi.” Kataku, tiba-tiba merasa lemari bajuku memang berantakan sekali.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Aku tidak membicarakan lemarimu yang berantakan….pakaianmu…..” dia berusaha menemukan kata yang pas, “….tidak seperti cewe.” Oh aku sudah tahu komentar yang ini. memang kalau baru dibuka yang kelihatan hanya kaos dan jins, beberapa terbalik dan tergantung asal-asalan dan beberapa berserakan di dasarnya. Tutup tong baju kotor juga sudah tidak bisa menampung. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Jadi…?” tanyaku. Dia menaikkan alisnya. “Ok. Aku akan berusaha.” Dan dia mulai membongkar lemariku habis-habisan. Setelah setengah jam dia membongkarnya dan mencoba me “mix and match” hampir semua bajuku dia akhirnya terduduk di sebelahku yang sudah merebahkan diri sejak tadi di atas ranjangku, menggigit kitkat simpananku di laci samping tempat tidur.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Bagaimana?” tanyaku sambil menegakkan badanku menjadi posisi duduk.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Aku sudah melihat-lihat dan well, aku sudah mendapat ilham… lihat ini.” dia mengacungkan t-shirt biasa warna putih, agak ketat, dan sangat biasa. “inilah yang akan kau pakai nanti..”.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Apa? Aku tidak mau memakai itu, itu sudah sangat kekeci….” Aku sudah membuka mulut memprotes dan dia memotong protesku, “…dengan jaketku.” Dia menambahkan. Dan aku semakin tercengang. Jaketnya? Aku tidak akan memakai jaket cowok!&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“A..apa? pakai jaketmu?” tanyaku tidak percaya. “Jangan bayangkan jaketku yang biasa, ini jaket luar biasa, aku yakin kau akan terlihat keren nanti!” katanya. Aku hanya memandangnya dengan tatapan setengah-setengah. Maksudku, pestanya adalah Sabtu ini dan dia masih berusaha mengusulkan agar aku memakai jaketnya! Jaketnya yang aku belum tahu bentuknya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Sabtu cepat sekali datang. Tiba-tiba ini sudah hari Sabtu dan aku sedang menunggu July yang akan datang untuk membawakan jaket yang dimaksudkannya. Ini sudah KitKat ketigaku dan aku sudah mulai bosan membrowsing internet, rasanya semua situs yang kuinginkan sudah kukunjungi. Aku mengklik 2 kali pada horoskopku hari ini dan disana tertulis”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Senyum cerahmu akan menjadi lebih berpengaruh pada hari ini, lebih dari yang pernah kau bayangkan. Bila kau sudah berkata “ya” pada sebuah pesta, jangan sia-sia kan kesempatan untuk bersosialisasi lebih luas. Orang-orang akan tertawa mendengar leluconmu dan kau akan menjalani…..” Tiba-tiba pintu kamar terbuka, kepala Kak Jojo nongol dari pintu,&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Ti, ada teman kamu tuh di bawah,” katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ok.” Aku segera menutup situs horoskop tadi dan bangkit dari kursi putarku.&lt;br /&gt;July sudah duduk di sofa bawah dengan kantung plastic di tangannya. “Nih, liat deh, kau akan suka.” Katanya sambil menyerahkan kantung plastic yang berisikan jaketnya, aku melongokkan kepalaku ke dalamnya dan menariknya keluar. Bahannya terasa lembut di tanganku dan kulebarkan dan kugantung di tanganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah jaket kulit berwarna pink pucat panjang terurai perlahan dari lipatannya dengan mulus. Untuk beberapa saat aku tak bisa berkata apa-apa. Maksudku, ini keren…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Waw! Darimana kau dapatkan jaket ini?” tanyaku heran. Maksudku, ini kan jaket cewek. “Ya beli.” Katanya enteng lalu tampaknya dia membawa ekspresi heranku dan akhirnya menjelaskan jaketnya dia beli lewat situs e-bay dan tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya. Rasanya saat itu dia sangat menginginkannya sehingga tidak memperdulikan berapa harganya atau bagaimana supaya tidak ketahuan orang tuanya, tapi yang jelas setelah dibeli dia sendiri bingung harus pakai kemana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Buatmu saja tuh!” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Waw! Berapa harganya?” tanyaku masih mengagumi jaket panjangnya. “Gratis kok,” katanya sambil tertawa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hah gratis? Nggak ah, aku bayar aja. Berapa?” tanyaku masih bersikeras membayar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Serius nggak usah…” katanya dengan sungguh-sungguh,”…ok, kalau masih mau bayar, traktir teh botol di kantin saja, ok?” tanyanya. Aku tercengang. “Mana bisa begitu? Teh botol kan harganya cuma 2 ribu, sementara jaket ini? Rp 500.000 juga ada…” kataku masih bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya nggak apa-apa lah. Udalah nggak usah dipikirin, pokoknya malam ini kau akan keren! Oh iya, jangan lupa pakai boot ya!” katanya lalu dia berpamitan karena harus pergi menjemput Papanya dari bandara. Aku menutup pintu sambil menghembuskan napas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sendiri tidak tahu mengapa aku menghembuskan napas lalu melangkahkan kaki menuju kamarku untuk memandangi jaket itu. Sempurna!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sedang membongkar lemari sepatu untuk mencari sepatu boot saat Kak Jojo bertanya, “Kakak udah nemuin tanggal loh!” aku segera menoleh padanya, tangannya memegang selembar kartu dan senyum tersebar di seluruh wajahnya. “Kapan?” tanyaku sambil mendekatinya intuk melihat isi kartu yang dipegangnya, dia menyerahkan kartunya padaku dan aku membacanya dengan senyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu adalah sebuah kartu undangan yang akan disebarkan untuk para undangan dan disana tertulis dengan jelas. Tanggal 13 Januari 2008 dan bertempat di Hotel Nikko di Jakarta, ballroom B jam 6 sore. Aku menatapnya dan dia mengangkat alisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di Jakarta?!” tanyaku setengah tidak percaya. Kupikir dia akan merayakannya di Solo! Kak Jojo mengangguk sambil tersenyum, aku tidak bisa menahan senyum dan memeluknya. “Waah! Akhirnya! Tapi Kak, kenapa nggak di Solo aja?” tanyaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kata Oma di Jakarta aja, soalnya saudara-saudara kan kebanyakan di Jakarta,” katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Waaah! Bagus kalau begitu!” kataku. Kak Jojo menyambutnya dengan anggukan lalu dia berjalan menuju ruang tengah untuk memberitahu Lilian yang sedang nonton Hannah Montana sambil makan popcorn buatannya sendiri. Dan aku kembali mengaduk-aduk lemari sepatu, mencari sepatu boot Mama. Seingatku masih ada disini. Ah itu dia!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku segera mengambil sepatu boot itu dengan susah payah karena sudah tertimbun banyak dus-dus sepatu lain dan menepuk-nepuknya sedikit karena sudah sangat berdebu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir kali Mama memakainya sekitar 2 tahun yang lalu saat berlibur dengan rekan kerja Papa ke Eropa. Dan maklum saja, karena belum pernah pakai sepatu boot, Mama sangat tidak terbiasa dan memutuskan untuk memakai sepatu keds, dan akhirnya sepatu bootnya di telantarkan begitu saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku segera mandi saat jam menunjukkan pukul 5 sore. Fred akan menjemputku nanti jam 6 dan aku harus bersiap sekarang. Setelah mandi dan memakai yang sudah diinstruksikan July aku berkaca sekali lagi. Wow! Aku memang terlihat lebih dewasa dengan jaket pink panjang dan legging hitam yang menutup sampai mata kakiku dan dipadukan dengan sepatu bot. Menurut July, kalau nanti aku ingin turun dansa disana, aku tinggal buka jaket dan berdansa dengan kaos putih itu. Jelas dia bercanda, tapi memang kalau bukan aku yang memakai mungkin akan begitu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fred tiba di rumahku jam 6.10 sore dan aku segera berlari ke bawah, berpamitan pada Mama, Lil, dan Kok Jojo lalu menitipkan pamitku untuk Papa yang pulangnya masih malam nanti. “Wow! Kau tampak cantik dan……umm…dewasa.” Komentar Fred saat aku sudah masuk dalam mobilnya dan aku hanya melemparkan senyum kecil. Aku memang memulas sedikit foundation dan lipgloss dan sedikit eyeshadow warna pink, yah well, mungkin sedikit pemulas pipi agar tampak meyakinkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalanan tampak lebih padat dari biasanya karena ini malam minggu dan dimana-mana banyak pasangan-pasangan berlalu lalang, menikmati udara malam. Untunglah Newton’s Club tidak begitu jauh, cuma saja, ramai. Setelah memarkir mobil di tempat yang aman, aku dan Fred segera turun dan siap berjalan masuk. Seorang penjaga bertampang sangar dan berbadan besar menggenggam detektor di tangannya dan memeriksa semua tas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang perempuan baru saja melewati penjagaannya dan saat dia membuka pintu, musik dengan volume yang bisa memecahkan gendang telinga terdengar dan di dalamnya setidaknya ada 200 orang, dilihat dari siluet-siluet yang berjejal-jejal, sedang berdansa. Aku mengeluarkan sedikit keringat dingin dan Fred menggenggam tanganku erat, dan pada saat itu aku berjalan melewati si penjaga, sedikit membuang muka dan berpura melihat ke arah lain dan untunglah dia tidak sepintar wajahnya karena aku langsung lolos dengan mudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fred membuka pintu masuk dan saat itu aku serasa memasuki dunia baru yang lain. Semua orang berdansa dengan bebas dan mereka tidak peduli pada luas lantai dansa yang tampak tak mencukupi. Saat itu mataku serasa dibutakan oleh kegelapan dan lampu-lampu disko, bau minuman keras langsung tercium dan aku harus berdesakkan agar bisa mencapai meja-meja yang sudah di pesan Erica untuk para undangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Erica duduk disofa tengah dengan baju yang sangat minim, hitam, ketat dan kelihatan mahal dengan batu-batu mahal melumuri bajunya, teman-temannya mengelilinginya tapi mataku tak menangkap sosok Sierra atau pun July. Maka, setelah mengucapkan selamat ulang tahun pada Erica dan memberikan kado dariku, aku segera menarik Fred ke meja bar, sekedar untuk menarik napas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mau dansa?” tanya Fred dengan suara yang hampir teriak dan aku memandangnya sesaat, ragu-ragu namun akhirnya aku menggeleng. Mataku masih mencari-cari July ataupun Sierra dan tampaknya Fred menyadarinya, dia menanyakannya padaku dan aku mengiyakan. Dia pun membantuku mencari kedua orang itu, mata kami memicing mencari orang yang mirip dengan mereka di lantai dansa, tapi rasanya hampir tidak mungkin ada mereka di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya pencarian kami berhenti pada segelas cola, kami melakukan toast kecil dengan gelas plastik itu dan menenggaknya. Keringat mulai menuruni pelipisku dan make-upku rasanya mulai luntur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat saat itu aku melihat Erica berdansa dengan semangatnya dengan teman-temannya dan tak lama kemudian tubuhnya sudah ditelan keramaian malam. Tiba-tiba Fred menunjuk ke satu arah dan aku menoleh pada arah itu, disana Sierra dan July, berdua sedang minum di bar, bar dengan meja yang bundar dan berseberangan dengan kami. &lt;br /&gt;Aku segera menghampiri mereka dan mereka tampak senang, tidak perlu dibahas air muka mereka yang kusut dan tampak sama sepertiku. Mereka sudah menghabiskan 2 gelas liquor dan berniat pergi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hey! Kalian! Kemana saja?” tiba-tiba Erica muncul di sebelah July dan jelas dia berusaha menarik perhatian July.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Disini!” balas July sambil berteriak juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo berdansa!” ajaknya sambil menarik July. Sierra tampak tak senang dan berbisik padaku bahwa dia ingin membunuh Erica. Julu menolaknya dengan halus dan tepat saat itu seorang cowok yang entah siapa mengajak Erica berdansa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku, Fred, Sierra dan July akhirnya keluar dari Newton’s Club, merasakan udara yang bebas dan melegakan. Aku menghirupnya dalam-dalam dan membuangnya. “Aku tidak bisa bernapas di dalam sana!” kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku juga! Dan lagi aku tidak menemukanmu, akhirnya aku bertemu July dan akhirnya kami malah mengobrol dengan teriak-teriak!” tambah Sierra. “Senangnya bisa bicara normal!” katanya lagi. Dan kami berempat akhirnya berjalan-jalan dan berakhir di café donat dan kami memesan kopi dan donat. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kami sudah tidak peduli lagi pada acara puncak ulang tahun Erica yang katanya akan menghebohkan dengan mengundang DJ terkenal dan kue ulang tahun yang sangat besar. Oh siapa yang peduli kalau bernapas saja tidak bisa?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Kalian datang jam berapa?” tanya July sambil mengunyah donat cinnamonnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Baru kok. Ya kira-kira baru ada di dalam sekitar 45 menit-an dan untungnya kita ketemu,” kataku. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Cheers!” ucap kami berempat sambil mengangkat gelas kopi kami, merayakan malam ini yang seharusnya menjadi pesta pora sampai pagi tapi malah menjadi meeting empat sahabat. Well, mungkin Fred dan July tidak terlalu “sahabat” apalagi sejak Fred tahu jati diri July dan aku merasakan tatapan aneh Fred jika ia sempat yang ditujukan untuk July. Aku tahu, July pasti tahu bahwa dia sedang di perhatikan, sudah terlalu sering ia dianggap aneh dan mungkin dia sudah kebal dengan tatapan semacam itu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Untuk pertama kalinya dalam malam ini, aku menyadari bahwa Sierra tampak cantik malam ini. Dia mengenakan gaun pendek halterneck dengan motif, aku tidak terlalu bisa mendeskripsikan bajunya, tapi yang jelas dia tampak cantik. Aku tidak tahu mengapa. Mungkin karena malam ini dia memakai sedikit make-up, atau mungkin karena dia mengenakkan kalung dengan bandul S berukir yang tergantung manis di lehernya atau mungkin karena dia senang bisa bersama July malam ini.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Kau sudah baca Laskar Pelangi belum?” tanya July tiba-tiba, entah padaku atau Fred atau Sierra atau kami bertiga. Tapi toh kami menjawabnya bergantian. Dan semuanya menjawab “Belum.” Kami semua bahkan tampaknya belum pernah mendengar judulnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Itu buku best-seller lho! Kemarin aku baru ke toko buku dan aku melihatnya di rak best-seller dan aku membelinya.” Kata July terlihat bersemangat. Rasanya topik tentang buku bukan topik yang bagus saat ini, aku pun tidak melihat ketertarikan, bahkan pada wajah Sierra, tapi July tidak menyadarinya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Oh ya? Ceritanya tentang apa?” tanyaku, berusaha terlihat tertarik. July kemudian mengoceh isi cerita Laskar Pelangi yang semakin lama terdengar menarik di telingaku. Ceritanya diangkat dari kisah nyata seorang laki-laki dari pinggiran desa yang bersahabat 11 orang dan ceritanya diawali dengan pertemuan mereka di dalam sebuah sekolah kecil yang terancam ditutup karena kekurangan murid.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Selama 15 menit kami hanya mendengarkannya bercerita dan kami tidak memberikan selaan topik baru sampai akhirnya July lelah dan berhenti bercerita. “Ceritanya bagus! mungkin akan kubeli nanti,” kata Sierra “bagaimana kalau kita beli sekarang?” tanyanya setelah diam beberapa saat. “Memangnya toko buku masih buka?” tanyaku dan dia melirik jam tangannya, “Ini baru jam 9 kok! Pasti masih sempat!” katanya bersemangat “tapi kalau kau tidak mau ya tidak apa-apa, kau saja yang temani aku, Julian.” Ucap Sierra dengan tatapan “kepengen” dan tampaknya Fred juga sudah menyadarinya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Ok. Aku dan Cres akan disini saja. Kalian saja berdua,” kata Fred pada Sierra dan July. July sesaat tampak ragu tapi karena melihat tatapanku yang artinya “cepat pergi! Ini waktuku dan Fred!” maka akhirnya dia ikut Sierra walaupun terpaksa. Aku dan Fred melihat mereka di balik belokan dan itulah perpisahanku dengan mereka untuk malam ini, karena aku dan Fred akan menghabiskan malam ini hanya berdua, sampai pagi kalau bisa.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Jalan yuk!” ajakku pada Fred dan dia menyetujuinya. Langkah kaki kami bahkan mencerminkan kegugupan kami dan sejak tadi sudah 2 kali tangan kami bersentuhan tapi tidak berani menggenggam. Sesekali aku merapat padanya, lalu terpisah jarak lagi dan begitu seterusnya. Aku tidak bisa begini terus! Kita harus duduk dan bicara dengan normal.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Lihat!” seru Fred tiba-tiba sambil menunjuk rak permen di salah satu mini market di pinggir jalan. Aku ikut melihatnya dan tidak menemukan yang dia maksudkan, disana hanya ada permen dan permen dan permen dengan berbagai merek dan rasa.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tapi akhirnya mataku tertuju pada apa yang dimaksudkannya, permen karet tanpa merek dengan kotak putih kecil dan bergambar buah-buahan yang menggambarkan rasa permen di dalamnya. Kotak itu begitu sederhana dan tak bermerk. “Ya ampun! Masih ada yang jual?!” kataku hampir tak percaya dan kami tak perlu disuruh dua kali untuk masuk ke dalam dan membeli permen yang hampir punah itu. Permen karet itu sudah jarang dijual dan semasa aku SD, itu lah satu-satunya merek permen karet seantero kota. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami masing-masing membeli 2 kotak, aku membeli rasa stroberi dan anggur dan Fred membeli rasa jeruk dan mangga. Kalau dibandingkan Wrigley’s sih rasanya gak ada apa-apanya, tapi senang sekali rasanya merasakan rasanya jadi anak-anak lagi. Dan permen tak bermerk itulah yang mengantar kami ke sebuah taman bermain di pinggiran kota, satu-satunya taman kota waktu jaman 90an, dan kami berdua mengaku dulu sering bermain disana, sayangnya kami tidak bertemu waktu dulu. Mungkin bertemu tapi sudah serasa beratus-ratus tahun lamanya dan PUFF tiba-tiba kami sudah sebesar ini. Mungkin taman itu bisa bercerita apakah kami pernah bertemu atau tidak, sayangnya taman tidak bicara.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saat kami tiba disana, sungguh tidak ada yang berubah kecuali lumut yang tumbuh di panjat-panjatannya dan karat yang menambah warna pada ayunannya dan besi patah di bagian bawah jungkat jungkitnya. Sayang sekali taman ini sudah tidak terurus. Kami akhirnya duduk di bangku panjang yang dingin dan lapuk.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Diam menyelimuti udara malam itu dan kami hanya terbenam dalam kenangan-kenangan masa kecil sambil mengunyah permen tak bermerk itu. Suara malam itu hanyalah suara jangkrik yang tampak semangat bersuara dan suara mobil di kejauhan, selebihnya, tidak ada.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Ayo main!” kata Fred tiba-tiba. Aku memandangnya lamat-lamat. Main? Apa maksudnya? &lt;br /&gt;“Ayo!” katanya sambil meraih tanganku dan memposisikan diriny sendiri di atas ayunan berkarat itu. Aku mengikutinya dan duduk di ayunan sebelahnya. “Jangan berayun!” kataku mengingatkannya. “Kenapa?” tanyanya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Karena kalau kau mengayun, kemungkinan ayunan ini roboh besar sekali.” Kataku dan dia mencibir. “Kau suka main apa waktu kecil?” tanya Fred padaku. Aku berpikir untuk beberapa waktu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Congklak, ular tangga, petak umpet, sambung kata, ayunan, prosotan, kejar-kejaran, masak-masakan, main hujan, kertas lipat, apa saja sungguh!” kataku. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Hmm…ayo kita main kertas lipat.” Katanya lalu dia mengeluarkan dua buah kertas tiket masuk ke Newton’s Club yang sudah tampak kucel dari kantung jaketnya. “Kau bisa melipat apa?” tanyanya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Hmm…” aku berusaha mengingat sambil tanganku mulai melipat dan tanpa sadar tanganku melipat bentuk burung. “Ini!” kataku dengan bangga. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Ok, giliranku.” Lalu dia melipat sesuatu, cukup lama dan diulang-ulang. “Ok. Aku tidak bisa melipat apa-apa.” Katanya mengaku akhirnya. Aku tertawa mendengarnya. Tapi lalu tangannya hanya menekuk bagian-bagian ujung kertas dan membentuk bentuk hati yang sangat buruk.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Ok. Aku bisa bikin bentuk ini.” katanya. Aku memandang karyanya yang disodorkan padaku. Aku setengah ingin mengambilnya, setengah ingin mengajarinya melipat burung. Dan akhirnya toh kami bertukar karya lipat dan aku mendapat bentuk hati yang dari awal kubilang buruk itu. Setelah dilihat-lihat tidak seburuk itu sih.. kau tahu kan maksudku..&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Oh bagus sekali!” kataku pura-pura terkejut.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Kalau kau tidak mau, sini lah!” katanya balik meledek dan hendak merebut kertas itu dan kutarik balik. “Aaah! Aku cuma bercanda sungguh!” kataku dan dia berusaha mengejarku, aku berlari memutari taman itu. Taman masa kecilku.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tangannya akhirnya berhasil merengkuh pinggangku dan dia tertawa, aku pun tak bisa menahan tawa. Dan dia mengangkatku beberapa senti dari tanah lalu mengembalikanku ke bumi lagi. Kami terduduk di tanah dan tergeletak tak berdaya, berdampingan, kepala menghadap langit, tangan kami masing-masing memegang karya lipat yang ditukarkan. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Wow! Kita sudah besar…”bisikku padanya. Dia hanya mengiyakan dengan ber’he eh’. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam ini terlalu indah untuk dirusak apapun juga. Sempat terbersit di kepalaku saat itu gambaran aku dan Fred, memakai baju pengantin di depan altar, dan aku memakai baju seperti baju yang ada di halaman-halaman mahal majalah baju pernikahan punya Kak Jojo. Tapi aku menepisnya. Itu pikiran gila. Walaupun aku sempat menemukan diriku tersenyum saat membayangkannya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8007565526840934248-964403243903532884?l=beyondureyes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://beyondureyes.blogspot.com/feeds/964403243903532884/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8007565526840934248&amp;postID=964403243903532884' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8007565526840934248/posts/default/964403243903532884'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8007565526840934248/posts/default/964403243903532884'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://beyondureyes.blogspot.com/2008/09/delapan.html' title='Delapan'/><author><name>Dandelion</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01021338332393636313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8007565526840934248.post-7334290284905327965</id><published>2008-09-15T04:32:00.000-07:00</published><updated>2008-09-15T05:39:16.606-07:00</updated><title type='text'>Tujuh</title><content type='html'>Ruang Teater tidak terlalu terang tapi lampu panggungnya menyala. Suara kaki kami terpantul pada lantai kayu di bawah. Aku berlari menuju panggung, menaikinya dan berputar-putar, memberi hormat bak putri raja seperti saat tahun lalu aku menjadi Cinderella. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fred tiba-tiba melompat naik juga dan berkata, “Maukah kau berdansa denganku?” tanyanya sambil membungkuk, mengulang adegan drama tahun lalu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tentu,” jawabku sambil menyambut tangannya yang terulur lalu merendah, memberi hormat. Dia menggenggam tanganku erat dan kami mulai bergerak, mencoba mengingat-ingat gerakan dansa tahun lalu. Gerakan yang membuatku jatuh cinta pertama kalinya padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tunggu! Aku akan menyalakan lagu!” kataku lalu berlari ke balik panggung, mengobrak-abrik kotak disc dan menyalakan sound systemnya. Lagu cinderella mengalun di ruangan luas itu. Hanya ada aku dan Fred, berdansa di bawah sinar lampu sorot panggung, matanya menatapku dengan pandangan yang tidak bisa kuartikan apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo kita pakai kostum tahun lalu!” usul Fred, aku setuju. Maka kami pun menuruni tangga yang langsung menuju ruang kostum. Aku tersenyum saat itu, aku tahu aku bersama dengan orang yang tepat saat ini, tidak akan ada yang bisa merusaknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruang Kostum leaknya bersebelahan dengan panggung namun kami perlu menuruni tangga dulu untuk mencapainya. Tiba-tiba terdengar suara-suara aneh saat kami akan membuka pintu ruang kostum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara orang! Suara itu datang dari dalam ruangan kostum, orang itu sedang bersenandung lagu yang aku tak tahu apa. Siapakah yang mungkin berada di dalam ruang teater semalam ini? Adakah orang lain yang juga memanjat gerbang sama seperti kami? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa itu?” bisikku setengah takut.&lt;br /&gt;Fred menempelkan telinganya ada pintu untuk mendengar lebih jelas lalu mengangkat bahu. Tangannya mantap memegang gagang pintu dan memutarnya perlahan, tidak ada suara yang ditimbulkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemandangan terlihat di bawah temaram lampu putih meja rias adalah ada sebuah sosok sedang berdiri di depan cermin. Meja rias sudah berantakan, lipstik, eyeshadow, bedak tabur yang keluar isinya, mascara yang belum ditutup, dia bersenandung sambil menatap dirinya sendiri di cermin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosok itu tinggi semampai, langsing, dan memakai kostum yang kukenali sebagai kostum cinderella ku! Dia juga memakai wig. Dan tiba-tiba senandungnya berhenti, tampaknya dia menyadari pintu ruang kostum terbuka, mungkin dia melihat kami lewat cermin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa itu!” bentak Fred. Dan tiba-tiba hatiku mencelos menyadari kemungkinan sosok itu, menyadari siapakah dia bahkan sebelum dia berputar atau menjawab. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kumohon jangan berbalik, jangan berputar kumohon!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlambat, dia berputar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tersedak, setengah ingin berlari keluar, setengah ingin berjalan ke arahnya dan melepaskan semua properti itu. “Siapa kau?” bisik Fred, mulutnya terbuka, terperangah. Aku tahu dia tahu itu siapa. Itu Julian. Tanganku gemetar melihatnya, seluruh tubuhku gemetar melihatnya. Eyeshadownya terlalu tebal, lipsticknya berantakan, tapi dia sudah berusaha sebaik yang dia bisa untuk memulaskan make-up pada wajahnya. Aku tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada keheningan yang menyesakkan menunggu July menjawab pertanyaan singkat itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku July.” Jawab July akhirnya dengan suara parau. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau Julian..” ujar Fred tiba-tiba seperti baru menyadarinya. Tanpa kusadari, aku berjalan ke arahnya, meraih apa yang bisa kuraih untuk kulepaskan dari tubuhnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubuka wignya, kucopot sepatu cinderellanya, apa saja, apa saja yang bisa kuraih, aku berusaha membuka baju cinderellaku darinya, berusaha menghapus semua make-up di wajahnya, tapi tidak berhasil. Tanganku gemetar. Air mataku sudah tak tertahankan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang kau pikir kau lakukan?” tanya Fred pada July, dia masih berdiri di depan pintu, setengah sadar akan apa yang dia lihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Merias diri,” jawabnya dengan suara yang setengah tersedak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia temanmu kan Cres?” tanya Fred dengan nada bingung. &lt;br /&gt;Dan itulah kata-kata terakhir untuk kudengar sebelum aku berbalik dan berlari. Berlari keluar. Dan air mataku berlinang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak mau tahu, aku tidak akan berbalik, aku tidak akan berhenti walaupun suara Fred jelas di telingaku, memanggil namaku. Aku segera memanjat gerbang dan melompat turun, memanggil taksi dan pulang. Aku hanya ingin pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa marah seakan meluap-luap dalam diriku. Tega-teganya kau July! Kau menghancurkan malam yang kupikir sempurna dan kau menghancurkan dirimu sendiri! Aku tidak henti-hentinya terisak dan mengeluarkan air mata. Semua yang kulewati bersama dengan Fred seperti kaset rekaman, kembali terputar dalam otakku yang lelah.&lt;br /&gt;Ini adalah malam yang panjang. Dan aku lelah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terbangun keesokan harinya dengan mata lebam karena menangis semalaman. Ada setidaknya 12 misscalls di ponselku yang langsung kumatikan saat aku keluar sekolah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak mau mengangkat telepon dari siapapun, tidak juga dari Fred. Ada setidaknya 6 pesan yang masuk dan aku membacanya satu per satu. 4 message dari Fred, menanyakan aku kemana, kenapa pergi, dan maaf, dan maaf  lagi. 2 pesan dari July, hanya berisikan, “Maaf Cres..” dan satunya berisi “Aku tahu aku tidak berguna Cres. Maaf..” aku menutup pesan darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa-bisanya dia meminta maaf. Dia memang tidak berguna. Apa yang dia pikirkan saat itu sih? Berdandan di ruang kostum? Sekarang keadaan tidak akan pernah sama lagi, tidak akan! Fred sudah tahu jati diri July dan Fred tidak akan pernah dekat denganku lagi. Kenapa? Karena aku temannya July! Teman seorang Julian yang ternyata transgender!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mencuci mukaku dengan air yang terasa dingin di wajahku lalu mengelapnya dengan handuk kecil. Lilian dan Kak Jojo sedang menonton TV saat aku turun dan membuat kopi. Aku selalu membuat kopi saat sedang pusing atau banyak masalah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh Kak! Siang amat bangunnya!” ujar Lilian. Aku benar-benar tidak ingin menjawabnya namun pertanyaan itu kujawab juga, “Iya, ngantuk.” Jawabku seadanya lalu berjalan dengan cangkir kopi di tanganku menuju taman belakang yang lebih hening.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuhempaskan badanku ke bangku dengan bantalan empuk di teras taman belakang. Suara percikan air dari air mancur buatan membuat pikiranku melayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan Fred dan July semalam?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang terjadi setelah aku pergi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah Fred marah padaku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana keadaan July sekarang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua pertanyaan-pertanyaan itu tiba-tiba berkelibat dalam pikiranku. Aku memang membenci July, sangat membencinya setelah kejadian semalam, tapi aku tidak bisa mengatakan bahwa aku tidak peduli padanya. Aku peduli padanya. Aku peduli pada keadaannya, aku ingin membantunya, menjadi teman baginya, seolah seperti merengkuhnya dan memberikan hangat padanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuseruput kopiku yang masih hangat dan memejamkan mata. Bagaimana kalau kutelepon sekarang? Tapi aku tidak ingin berbicara dengan salah satu dari mereka, setidaknya tidak saat ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tiaaa! Ayo cepet sini bantu Mama!” suara Mama terdengar dari arah dapur. Aku segera meletakkan cangkir kopi yang isinya baru kuminum setengah dan berjalan ke dapur. Disana Mama sedang memecah-mecahkan telur untuk makan siang. “Coba kamu itu potongin bawang,” ujar Mama saat aku sudah memasuki dapur lalu dia menengadahkan kepalanya menatapku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Astaga Ti! Kenapa itu mata kamu?” tanya Mama kaget. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ga papa kok Ma. Cuma kemaleman tidur.” Jawabku singkat sambil mulai meraih pisau untuk memotong bawang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kemaleman tidur gimana? Sana cepat ke kamar, tidur lagi!” perintah Mama dengan suara yang tidak bisa dibantah, maka akupun berjalan menuju kamar lagi dan hendak tidur ketika ponselku berbunyi nyaring.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Halo?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cres, ini July..” aku terdiam, tidak tahu harus berkata apa, tidak tahu harus marah atau lega.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf soal kemarin. Sekarang kau tahu kan? Aku sangat mudah lepas kontrol, dan aku benar-benar ingin meminta maaf atas kejadian kemarin....Cres, kau masih disitu kan?” tanyanya. Aku hanya terdiam sejak tadi. Beberapa pilihan berputar dalam kepalaku. Antara mematikannya atau bertanya semua yang ingin kutanyakan padanya, dan aku memilih pilihan ke dua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“oh...ya...nggak apa-apa kok,” jawabku walaupun kami berdua tahu itu sebuah kebohongan besar, bagaimana mungkin “tidak apa-apa” kalau temanmu yang transgender itu berdandan di ruang kostum dan merusak malam yang indah bersama orang yang disuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kemarin...gimana setelah aku pergi?” tanyaku, dia terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab, “Umm, dia lari mengejarmu, lalu dia sempat menyorotkan pandangan yang tidak menyenangkan padaku sebelum berlari keluar,” katanya dengan nada yang tampak biasa-biasa saja. Tidakkah dia mengerti bahwa itu pasti menyakitkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf..” aku mendengar diriku berbicara demikian. Mengapa aku meminta maaf? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tidak salah sama sekali kok,” balasnya, dan aku tahu dia tersenyum walaupun aku tidak melihatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“well, aku meninggalkanmu sendiri kemarin dan aku merasa bersalah jadi aku meminta maaf,” ujarku mengatakan yang sebenarnya. Dan dia tidak menanggapinya, lalu dia mengganti topik mengenai research terbarunya tentang transgender yang dia temukan di google. Aku sebenarnya tidak terlalu tertarik, tidak pernah tertarik malahan, tapi toh aku tetap mendengarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam beberapa minggu selepas perkenalan jati dirinya yang singkat itu aku bisa menyebutkan hampir semua tentang July dan Julian dan apa bedanya. Baginya, Julian hanyalah peran yang dimainkannya setengah hari dan setengahnya lagi dia akan menjadi July. Di depan Papa dan Mamanya pun dia berusaha menjadi Julian, namun sulit baginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya aku merasa tidak bisa bertatapan muka dengan Fred, tidak akan sanggup. Dia berusaha memanggilku dan berbicara padaku seusai pelajaran olahraga, toh tetap aku biarkan. “Kenapa kau ini? Tadi kan Fred manggil?” tanya Sierra sambil menyuapkan sesendok nasi ke dalam mulutnya. Kami berdua sedang duduk di ruang makan saat jam istirahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berpura-pura sedang mengunyah sambil otakku berpikir jawaban yang tepat. “Oh ya? kapan?” itulah akhirnya tanggapanku, berpura-pura tidak tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cres! Aku serius! Aku tahu kau mendengarnya dengan jelas tadi!” bantahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oops. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“aku sedang tidak ingin berbicara dengannya,” jawabku tidak meyakinkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa?” aku tahu dia akan bertanya begitu dan aku sudah memikirkan jawabannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena dia menjengkelkan.” Jawabku singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menjengkelkan bagaimana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya pokoknya menjengkelkan dan aku tidak mau membicarakannya.” Ujarku menutup pembicaraan. Sierra tampak tidak senang dan tidak puas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat saat itu sebuah suara memanggilku, “Cres!” aku menoleh dan melihat Fred berjalan ke arahku. Oh sial! Aku segera mengambil barang-barangku dan hendak pergi ketika dia menggenggam tanganku erat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku perlu bicara!” ujarnya dengan suara tegas. Niatku untuk menghindar pupus saat itu juga dan kini semua mata memandang ke arah kami. Oh bagus. Aku memang tidak punya pilihan lain kan selain mengikutinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tetap memegang tanganku erat sepanjang koridor, seolah takut aku akan kabur begitu dia melonggarkan pegangannya. Kakinya berhenti berjalan saat kami berada di sebuah lorong yang cukup sepi. Dia menatapku lekat. “Kau ini kenapa?” tanyanya akhirnya setelah diam beberapa saat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak apa-apa.” Jawabku sambil menundukkan kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak apa-apa? Oh hebat. Kalau begitu kenapa kau menghindariku sejak tadi?” tanyanya dengan jelas. Aku tidak bisa berkelit lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebab kau membenciku,” jawabku apa adanya. Dia terlihat bingung beberapa waktu, kehabisan kata-kata. “Membencimu bagaimana?” tanyanya dengan nada suara yang terdengar jelas kebingungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tahu kan siapa Julian sekarang? Dan aku tahu kau tidak akan mau dekat dengan orang yang temannya....temannya...” aku kehabisan kata-kata “..orang aneh!” ujarku akhirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia terdiam. Sangat tidak mengenakkan membahas kejadian waktu itu, apalagi setelah mengetahui jati diri Julian dan akupun yakin dia sudah punya gambaran yang hampir sempurna tentang Julian yang transgender.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia bukan gay.” Bisikku dengan nada suara yang setengah takut setengah penuh harap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan? Lalu apa?” tanya Fred. Aku sudah menyangka ini. Fred pasti mengira July gay.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia transgender. Kumohon jangan sakiti dia.” Pintaku dengan mata yang tidak sanggup menemui matanya yang membesar dengan rasa ingin tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku...aku tidak akan menyakitinya..aku juga tidak akan membencimu..” ujarnya akhirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tidak membenciku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Untuk apa? Karena temanmu......apa tadi? Transgeneratif itu?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Transgender” ujarku memperbaiki kata-katanya. “Ya, apalah itu, aku tidak akan membencimu. Tentu tidak. Dan aku tidak akan menganggu Julian. Aku hanya akan....” dia berhenti sebentar, berusaha menemukan kata-kata yang pas, “...akan meninggalkannya dengan keadaannya dan berpura-pura malam itu tidak pernah ada.” Katanya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Perasaan lega mengalir ke dadaku seperti air yang menyegarkan. Fred tidak membenciku! Dan dia tidak akan menyakiti July! Bukankah itu bagus?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Ayo! Sudah waktunya pelajaran Kimia,” ujarnya sambil menggenggam tanganku, tidak erat, tapi lembut. Aku tersenyum sepanjang jalan. Aku suka kimia. &lt;br /&gt;Dan reaksi kimia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana? Sudah ketemu?” tanyaku pada Clarissa selaku pemimpin seksi kostum dan properti saat pertemuan anggota The Miracle di Ruang Teater hari Rabu sore.. “Aku sudah bernegosiasi dengan pembuatnya dan mereka setuju sepotong baju seharga Rp 200.000,-. Bagaimana menurutmu?” tanyanya padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bolehlah. Termasuk murah itu. Dimana?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dekat jembatan yang dekat sekolah, dekat halte bus.” Ujarnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Kau sendiri? Sudah menyelesaikan skrip belum?” tanya Gerald.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Hampir jadi. Tenang saja! Hari ini aku membawa skrip adegan pertamanya dulu. Cuma Freya dan para bangsawan yang bermain. Tolong dihapal,” ujarku sambil membagikan fotokopian skrip pada pemain adegan pertama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Erica mengambil skrip dari tanganku dengan tangan yang sok manis dan dia sempat melemparkan senyum pada July sewaktu baru masuk tadi. “Oh aku ingin itu Ayah! Aku tidak suka yang ini!” suara Erica yang memuakkan terdengar jelas di seluruh ruangan. Dia membaca satu baris dialognya dalam skrip, berusaha melafalkan intonasi yang tepat dan membuat beberapa pasang mata kagum, tapi ternyata July tidak. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Mereka tidak membiarkanku Ayah! Mereka sangat jahat! Ayah bisa kan membuatkan yang baru?” suaranya kini dibuat-buat dan disertai gaya layaknya putri bangsawan. Oh aku benci dia! Dan kini July menoleh dan dia sempat-sempatnya tersenyum pada July yang disambut dengan senyum normal lalu melanjutkan latihan dialognya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Dia kira dia pintar, dia kira dia manis, dia kira dia hebat!” gerutuku sambil mengambil posisi di sebelah July. “Loh? Ada apa ini?” tanya July yang ternyata mndengar gerutuanku.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Lihat saja lagaknya! Seakan dia yang paling cantik dan berkuasa!” gerutuku lebih jelas.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Siapa? Erica?” July tertawa.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Ya iya!” ujarku. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Cres! aku ingin bicara denganmu sebentar!” ujar Haylie, pemimpin dekorasi. Aku segera berdiri dan mengikutinya sampai beberapa meter jauhnya dari semua anak-anak yang lain. “Aku sudah membuat konsep dekorasi yang bisa digunakan di beberapa adegan...” ujarnya. Aku mengangguk dan dia mengeluarkan beberapa lembar kertas dari dalam amplop cokelat dan menunjukkan gambarannya akan setting panggung The Miracle.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dia berceloteh tentang biaya yang akan dikeluarkan dan bagaimana pembuatannya, tapi tampaknya pikiranku tidak pada kata-katanya. Sejak tadi mataku hanya memperhatikan Fred. Fred pangeranku. Dia tampak lebih ganteng dari hari-hari biasanya. Kemampuan aktingnya memang tidak bisa diragukan, sejak pertama dia latihan dia selalu memperbaiki bahasa tubuhnya dan terlihat semakin baik saja.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Cres!” suara Haylie membuatku tersadar. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Oh apa?” tanyaku. Haylie tersenyum penuh arti sebelum berkata, “Julian ganteng ya?” ujarnya meledekku. Ternyata dia mengira sejak tadi aku memperhatikan July! “Ah apa maksudmu?” tanyaku.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Ah! Kau tidak usah menyembunyikan lah! Sebagian besar anak-anak juga sudah tahu hubunganmu dengan Julian!” katanya sambil terkikik. Apa yang dia bicarakan?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Hubungan apa?” tanyaku lebih lanjut.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Kau dan dia....sudah...” lalu Haylie membuat tanda yang berarti aku dan July sudah jadian! Pacaran! &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;TIDAAAK.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Apa? Tidak! Aku tidak pacaran dengannya!” bantahku keras. Dia hanya tersenyum dan mengiyakan tapi aku tidak yakin dia sungguh-sungguh percaya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8007565526840934248-7334290284905327965?l=beyondureyes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://beyondureyes.blogspot.com/feeds/7334290284905327965/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8007565526840934248&amp;postID=7334290284905327965' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8007565526840934248/posts/default/7334290284905327965'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8007565526840934248/posts/default/7334290284905327965'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://beyondureyes.blogspot.com/2008/09/tujuh.html' title='Tujuh'/><author><name>Dandelion</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01021338332393636313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8007565526840934248.post-2048827278750347411</id><published>2008-09-11T05:20:00.000-07:00</published><updated>2008-09-11T05:29:23.748-07:00</updated><title type='text'>Enam</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link style="font-family: arial;" rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5COwner%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Blueberry muffin kesukaanku baru saja keluar dari oven, “Waah! Bagus jadinya!” komentar Kak Jojo sambil meletakkan loyang penuh blueberry muffin. “Kayaknya aku mencium bau blueberry muffin deh!” ujar Lilian sambil menuruni tangga. Rambutnya diikat dua dengan pensil terselip di telinganya dan buku sudoku di tangannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;“Lil! Pokoknya jatah kamu cuma dua. Tadi dah aku itung!” ujarku memperingatkannya karena seringkali dia memakan jatahku!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;“Hah? Kok cuma dua? Dikit amat! Ayolah Kak! Kak Tia kan dah gendut! Liat tuh perut kakak!” katanya memohon.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Eh enak aja! Sana ngaca!” balasku sambil menjulurkan lidah. Tepat saat itu ponselku berdering keras.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;“Cie! Si cowok yang kemaren nelpon kali tuh!” ledek Lilian. Aku memelototinya sebelum berjalan meraih ponselnya dan menekan tombol hijau.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;“Halo?” sapaku sambil meraih sepotong blueberry muffin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;“Umm.. Ini Crescentia?” aku hampir tersedak muffin. Fred menelepon!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;“Eh, iya..” jawabku singkat, terbatuk-batuk sedikit.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;“Ini Fred..umm..aku ingin menanyakan tentang..mm...dekorasi The Miracle.” Katanya terbata-bata.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;“Ada apa?” tanyaku sambil menggigit potongan muffin dan mengunyahnya dengan nikmat dalam mulutku. ‘bodoh, bodoh!’ desisnya pelan, namun aku bisa mendengar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;“Oh well...tidak ada apa-apa..” jawabnya “maukahkaunontonbersamaku?” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;“Hah? Apa? Maaf, aku tidak dengar dengan jelas.” Kataku. ‘bodoh, bodoh!’&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;“Maukah..kau pergi nonton bersamaku?” tanyanya dengan lebih jelas. “..yah sekalian memperbaiki acara minum kopi kita yang kemarin belum selesai...” ujarnya mencari-cari alasan. Aku tersenyum mendengarnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;“&lt;i style=""&gt;Sure! When&lt;/i&gt;?” tanyaku masih dengan senyum. Kulihat Lilian memandangiku dengan tatapan ingin tahu dan saat tatapan kami bertemu, alisnya dinaikkan. Aku segera masuk ke kamarku agar mendapatkan lebih banyak privasi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Umm. Malam ini?” tanyanya. Aku berpikir.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;“Ok!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;“Jam 7. ok?” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;“Ok!” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;“&lt;i style=""&gt;Well then, see ya later&lt;/i&gt;!” katanya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Rasanya seluruh tubuhku dirambati perasaan senang, rasanya seperti ingin melompat-lompat! Dan hal itulah yang kulakukan berikutnya!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;“Siapa itu?” tanya Lilian begitu aku keluar kamar, wajahnya penuh rasa ingin tahu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;“Mau tahu saja!” tandasku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Ternyata malam cepat sekali datang, jam dindingku sudah menunjukkan pukul 6 sore. Setengah jam sudah berlalu sejak kubuka lemariku tadi. Tidak ada baju yang bagus untuk kupakai! Kenapa tidak ada sih?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;“Ti, menurut kamu bagusan yang mana?” Kak Jojo tiba-tiba masuk ke dalam kamar, di tangannya terdapat 2 lembar foto kue. Dia terdiam, tercengang melihat semua kamarku yang berantakan. “Kamu ngapain Ti?” tanyanya sambil berjalan mendekat, melangkahi beberapa potong baju.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;“Aku akan pergi jam 7 nanti dan aku tidak punya satu potong baju pun yang bagus!” keluhku sambil memposisikan diriku di atas ranjang. Dia meletakkan dua gambar kue perkawinan di sebelahnya lalu tangannya meraih dress merah terdekat dan menelitinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;“Ini bagus kok,” katanya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Tidak. Terlalu ‘merah’. Kau tahu kan maksudku?” ujarku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Uh-uh. Bagaimana dengan yang ini?” tanyanya meraih halter neck berpotongan rendah warna oranye dengan punggung terbuka, “tidak terlalu oranye kan?” tanyanya mengikutiku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;“Uh, tidak sih, tapi aku tidak mau memakai itu. Seperti “cewek nggak bener”,” kataku sambil membuat tanda petik di udara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;“Kenapa kau membelinya kalau begitu?” tanyanya dengan wajah heran.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;“Well, Rosy membelikannya untukku saat dia berlibur ke Hongkong tahun lalu. Sudah tidak musim lagi sekarang.” Jawabku. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;“Ini?” tanya Kak Jojo sambil memungut sebuah atasan berwarna ungu gelap dengan kerah V yang sangat rendah. Aku terdiam. “Kau bisa memakainya dengan ini kan?” usul Kak Jojo sambil meraih halter neck oranye yang tadi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Wow! Bagus juga hasilnya! Pikirku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kuraih 2 potong atasan itu. “&lt;i style=""&gt;You’re a genius&lt;/i&gt;!” kataku sambil tersenyum senang, Kak Jojo mengedipkan matanya padaku sebelum keluar dari kamarku. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Setelah memakai atasan yang diusulkan Kak Jojo dan skinny jeans, aku memulas bedak dan lip gloss pada bibirku lalu mengikat rambutku menjadi satu kunciran utuh di atas kepala. Ku-blow kuncirannya ke dalam dan menyelipkan jepitan berbentuk pita pink di sisi kepalaku. &lt;i style=""&gt;Done&lt;/i&gt;! Manis, pikirku sambil berputar di depan kaca, meneliti setap bagian diriku berulang-ulang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Tiba-tiba ponselku berdering dengan nyaring. “Halo?” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;“Aku sudah di depan nih!” kata Fred. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;“Oh. Ok! Aku akan segera turun. Tunggu sebentar!” ujarku lalu segera mematikan sambungan dan lari keluar kamar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;“Kau mau kemana?” tanya Mama yang sedang menonton serial Desperate Housewives di channel langganannya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Uh. Ke sekolah! Ada urusan!” kataku sambil mengobrak-abrik tumpukan dus sepatu untuk mencari sepatu flatku yang baru kubeli kemarin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Jangan bohong pada Mama. Mama tahu kamu tidak akan ke sekolah serapih itu. Kau tampak cantik.” Ujar Mama lagi. Aku menarik napas dan membuangnya, waktunya mengungkapkan kebenaran.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Ok. Sekarang di depan rumah sudah ada Fred sedang menungguku. Dia teman sekolahku dan juga lawan mainku tahun lalu saat aku menjadi cinderella dan juga partner tugas kimiaku....dan yang mengantarku ke stasiun waktu itu. Mama masih ingat?” tanyaku dengan wajah sangsi. Pertemuan kilat di stasiun itu tidak cukup meyakinkan, kalau mau jujur.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;“Yah, sedikit. Kemana kau akan pergi?” tanya Mama tanpa menolehkan wajahnya dari film serialnya. Aduh, cerewet sekali sih! Kayak nggak pernah muda saja!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;“Nonton. Aduh udah ya Ma! Aku pergi dulu!” kataku sambil meraih gagang pintu dan mendengar Mama berkata, “Jangan pulang lewat jam 12! Jangan lupa kunci pintu!” lalu suara berikutnya adalah suara pintu depan yang kututup. Fred menyalakan lampu mobil saat aku masuk ke dalam mobilnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;“Hai!” sapaku. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;“Hai! Waw! Kau tampak......” aku menaikkan alis, “...beda..” katanya akhirnya. Aku mengulur senyum termanisku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Kita mau nonton apa?” tanyaku padanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Terserah kau.” Jawabnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Aku tidak tahu ada film apa yang sedang main di bioskop.” Jawabku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;“No Reservations, Resident Evil, Get Married, aku lupa apa lagi,” katanya sambil mulai mengegas mobilnya. Mobil yang kami tumpangi berjalan dengan mulus dan pelan sepanjang jalan-jalan Jakarta yang mulai berkelip lampu-lampu jalanan khas Jakarta. Kami sudah memutuskan untuk menonton Resident Evil 3 berhubung kami sama-sama pecinta film horor.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sesampainya kami di gedung bioskop, aku segera mengantri tiket dan Fred membeli popcorn dan ice lemon tea pesananku. Setelah mendapatkan semuanya, kami segera masuk ke dalam studio 3 dan menduduki kursi nomor E3 dan E 4. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Resident Evil berakhir setelah kira-kira 2 jam pemutaran. Tidak ada sesuatu apapun yang terjadi selama kami menonton, tidak ada pegang-pegangan tangan ataupun bagian tubuh lainnya. Well, mungkin tadi bahu kami saling bersentuhan dan membuatku bisa merasakan napasnya. Aku takut tubuhku gemetar karena gugup, dan benar saja, dia menyadarinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Kau kedinginan? Kau gemetar tadi.” Katanya sambil meremas tanganku di tengah-tengah film. Tidak ada zombie yang muncul saat itu, sehingga aku tidak bisa menghindari pertanyaan itu. “Ah nggak kok. Memangnya aku gemetar?” tanyaku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;“Loh, memangnya tidak ya? mungkin aku salah.” Katanya. Lalu dia kembali bersandar dan membiarkan bahunya menyentuh bahuku lagi. Aku tidak tahu harus merasa gugup, senang, atau ragu. Yang jelas aku merasa lega setelah film itu selesai. Aku tidak takut sama sekali pada zombie-zombie itu, aku lebih takut pada Fred dan bahunya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;“Aku tidak mau ke klub loh!” ujarku saat kami sudah berada di dalam mobil dan dia tidak mau memberitahu kemana arah tujuan kami. Dia tersenyum geli mendengarku, “Aku juga tidak mau kok ke klub. Tempat orang-orang bodoh menghabiskan waktu,” katanya. Aku bernapas lega. Tapi tepat saat itu mobilnya berbelok ke sebuah jalan yang sangat familiar denganku, terlalu familiar. Di tengahnya adalah gerbang sekolahku, jelas dan besar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Mobilnya menepi dan berhenti. “Mau apa kita disini?” tanyaku dengan heran. Maksudku, apakah seumur hidupku tidak bisa lepas dari sekolah? Bahkan kencan pun harus ke sekolah kah?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Ikut aku.” Katanya sambil mengunci mobilnya dan berjalan ke arah gerbang dan memanjatnya setengah jalan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Begitu caranya. Kau dulu!” katanya sambil melompat turun lagi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Apa? Memanjat gerbang? Aku..aku tidak bisa memanjat!” kataku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Tenang saja, ayo panjat. Aku akan ada di bawah kalau kau takut,” ujarnya dengan senyum menenangkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;“Tapi...untuk apa kita ke sekolah?” tanyaku lagi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link style="font-family: arial;" rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5COwner%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;span style="font-family: arial;" lang="IN"&gt;“Nanti kau akan tahu.” Katanya. Aku tahu detik itu juga kalau aku bisa mempercayainya, dia tidak akan mencelakaiku tentunya. Maka akupun mulai melepas sepatuku dan memanjat naik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memanjat gerbang lebih sulit dari yang kukira. Angin dingin menerpa wajahku saat aku melompat turun dengan selamat di sisi lainnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;“Bagus!” puji Fred. Aku nyengir. Dia memanjat seperti pemanjat professional sambil membawa sepatuku lalu melompat dan mendarat di sisiku lalu meletakkan sepatuku di tanah dengan lembut dan membiarkanku memakainya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia berjalan memasuki gedung, aku mengikutinya. Lampu-lampu di dalam gedung menyala dengan terangnya, suasananya terlihat sangat berbeda dari hari-hari biasanya. Tidak ada keramaian, tidak ada celotehan anak-anak, tidak ada orang berlalu-lalang. Lorong loker dan lorong kelas sepi namun lampunya menyala terang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fred menaiki tangga 3 kali dan aku hanya bisa mengikutinya dalam diam. Lantai 4 adalah lantai tertinggi di sekolahku. Tidak ada atap penutup di atasnya, hanya ada tempat lapang yang kosong dan dibatasi dinding tembok setinggi paha orang dewasa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengigil kedinginan saat Fred membuka pintu yang menuju atap, angin dingin seperti menusuk tubuhku, namun aku hanya bisa terperangah. “Waaw!” itulah kata-kata pertama yang bisa kuucapkan saat itu. Pemandangan seluruh kota terlihat jelas dari atap, dan langit malam itu....bertabur bintang. Bintang gemintang banyak sekali, seolah berlomba memenuhi langit yang berwarna hitam gelap dengan bulan bulat putih seperti lampu menggantung di salah satu sisi langit. Aku serasa terjun bebas, menyerahkan diri dalam keindahan malam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dingin?” tanya Fred sambil berjalan dan mengambil tempat di sampingku. Aku sudah lebih dulu sampai di perbatasan dinding rendah itu, batas antara aku dan langit, aku dan lampu-lampu di bawah, aku dan semua keindahan ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“mmhm.” Jawabku tanpa berpikir. Masih terperangah dengan semua ini. Tiba-tiba tangannya mengait tanganku, menggenggamnya erat. “Mau turun lagi?” tanyanya. Aku menoleh padanya, matanya berbinar tepat di sampingku. Bagaimana mungkin aku ingin kembali ke bawah pada saat-saat seperti ini. Aku menggeleng. Adakah yang lebih baik lagi?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ternyata ada...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengangkatku dan mendudukanku di atas tembok pembatas itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah! Apa-apaan ini?!” tanyaku panik. Kakiku mengayun di udara, di bawahku adalah jalanan dengan lampu-lampu indah berkelap kelip, bila aku maju sedikit saja pasti aku akan jatuh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lebih indah kan, bisiknya?” dia tetap berdiri di belakangku, tangannya berjaga di sisi kiri dan kananku. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, lebih indah. Aku menengadahkan kepalaku ke langit dan merentangkan kedua tanganku. Indah. Lalu kututup mataku dan merasakan udara malam di pipiku. Indah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku selalu kesini...” kata Fred memulai “kalau aku lagi kesal, suntuk, marah, atau perasaan-perasaan buruk lainnya.” Katanya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memangnya kau kesal kenapa?” tanya menoleh ke belakang, mellihat wajahnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Banyak. Kebanyakan mungkin karena Papaku.” Katanya santai, dengan nada suara seolah-olah berkata ‘aku ingin makan’&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa Papamu?” tanyaku lagi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Well, dia bukan tipe Papa yang untuk dijadikan pedoman kalau mau jujur,” katanya sambil tersenyum. “Dia pemabuk. Sering pulang malam dan tidak bekerja,” katanya lagi, kini matanya terbuang ke arah lain. Aku membalik posisi dudukku, menghadapnya, membelakangi langit.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi Mamaku bekerja. Dia seorang pekerja keras, kerja siang malam di sebuah perusahaan pengiriman barang. Tidak digaji dengan baik, semua gajinya tampaknya hanya dihabiskan untuk membayar bir-bir Papa. Sehingga aku dan kakak perempuanku bekerja, tapi sekarang kakakku sudah menikah dengan seorang pengusaha dan sering kali mampir ke rumah dan memberikan kami uang..” katanya panjang. Aku terdiam. Tiba-tiba teringat pada July, yang hidupnya juga tidak seberuntung diriku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh..aku juga punya teman, yang kurang lebih sama sepertimu,” kata-kata itu tiba-tiba keluar dari mulutku. Aku tidak tahu mengapa, padahal apa kesamaan Fred dan July?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh ya? siapa?” tanyanya. Kepalanya kembali menengadah menatapku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yah, pokoknya ada lah.” Jawabku seadanya, membuang muka. Aku tidak mau dia menginterogasiku lebih jauh, apalagi tentang July.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dingin,” ucapku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ok, kita turun!” katanya. Dan dia mengangkatku lagi. Merasakan hembusan angin terakhir kalinya saat dia menurunkanku lalu kami berjalan menuju pintu dan merasakan kehangatan di dalam gedung.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita ke Ruang Teater yuk!” ajakku tiba-tiba. Dia terlihat heran. Aku langsung menarik tangannya sepanjang jalan menuju Ruang Teater yang terletak di ujung lantai 3.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8007565526840934248-2048827278750347411?l=beyondureyes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://beyondureyes.blogspot.com/feeds/2048827278750347411/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8007565526840934248&amp;postID=2048827278750347411' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8007565526840934248/posts/default/2048827278750347411'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8007565526840934248/posts/default/2048827278750347411'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://beyondureyes.blogspot.com/2008/09/enam.html' title='Enam'/><author><name>Dandelion</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01021338332393636313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8007565526840934248.post-1501452686451092078</id><published>2008-09-09T07:54:00.000-07:00</published><updated>2008-09-10T03:04:50.225-07:00</updated><title type='text'>Lima</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5COwner%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5COwner%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Why do birds suddenly appear&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Everytime you’re near&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Just like me they long to be&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Close to you....&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Why do stars&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Fall down from the sky&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Everytime you walk by&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Just like me they long to be&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Close to you...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Mulutku sejak tadi tak bisa berhenti menyenandungkan lagu kesukaanku sambil membalik-balik halaman mengilap majalah Bride. Sejak tadi mataku sudah cukup dimanjakan dengan melihat berbagai gaun-gaun pengantin yang indah dengan detail yang unik sampai yang paling simpel. Dilanjutkan dengan melihat-lihat kue pengantin yang memiliki berbagai macam bentuk, rasa, dan hiasan.&lt;/span&gt;&lt;o:p style="font-family: arial;"&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;i  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I definitely want to be a bride! Definitely!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah menyenangkan memilih-milih gaun yang akan dipakai, kue yang akan diingat seumur hidup, merencanakan suatu acara akbar yang akan menjadi peristiwa sekali seumur hidup? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kak Jojo tampak seperti seorang malaikat saat ini. Maksudku, memang saat ini. Wajahnya berseri-seri sambil membalik-balik halaman per halaman. Tubuhnya yang semampai dibalut summer dress berwarna pink muda dan tangannya memegang pastel buatan Mama yang sedang dimakannya. Tidak ada tekanan pada dirinya, terlihat dari wajahnya. Dia seperti anak kecil yang bebas dari apa saja, tidak ada tugas yang harus dikerjakan, bisa bermain sepanjang hari. &lt;/span&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kak, lihat deh! Ini bagus banget yah!” kataku sambil menunjuk gambaran seorang model memakai gaun pengantin karya Marc Jacob yang sangat simpel tapi terlihat manis dengan aksen pita yang besar di sebelah kiri pinggangnya dan kerutan-kerutan di sepanjang &lt;i style=""&gt;train&lt;/i&gt; nya yang panjangnya hanya tepat di bawah lutut. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah! Iya ya bagus!” komentar Kak Jojo menyetujuiku.&lt;/span&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aduh, kayaknya sejak tadi Mama nggak pernah dengar komentar jelek deh! Daritadi selalu bagus!” ujar Mama sambil memotong-motong tomat di meja dapur yang letaknya berdekatan dengan ruang tengah.&lt;/span&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aduh, iya nih Tante! Susah sekali memilih yang pas!” kata Kak Jojo.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana kalau kalian pergi langsung ke penjahit gaun pengantin dan pembuat kue pengantin?” usul Mama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hmm, boleh juga tuh Kak!” kataku bersemangat. Bagaimana tidak? Bukankah menyenangkan melihat semua barang-barang cantik itu?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Setengah jam kemudian, aku dan Kak Jojo sudah di depan toko besar bertuliskan ‘Bride&amp;amp;Groom’. Kak Jojo menarik napas lalu membuangnya sebelum akhirnya melangkah memasuki toko besar dengan dinding yang dipenuhi gaun-gaun pengantin yang berjejer rapi. Toko ini sudah terkenal dengan pelayanannya yang memuaskan dan tak lupa juga, harga gaunnya selangit!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kak Jojo dan aku langsung mendapat sambutan yang hangat dari karyawan-karyawan yang menebarkan senyum hangat, membuat kami merasa lebih nyaman ketika memasuki ruang besar yang penuh dengan gaun-gaun yang semuanya indah dan bukan buatan sembarang orang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Aku tidak bisa berhenti membelalakkan mata sambil menggeser-geser hanger gaun-gaun pengantin yang menakjubkan. Ternyata semuanya tampak lebih indah daripada di gambarnya. Mulutku tidak bisa berhenti mengatakan, “Wah! Yang ini bagus!”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 150%;font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 150%;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;“Ada yang bisa saya bantu?” suara ramah di belakangku membuatku terlonjak sebentar sebelum membalikkan badan. Seorang wanita dengan senyum yang hangat dan pakaian yang rapi berdiri di belakang kami.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 150%;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;       &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 150%;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;“Eh, iya. Saya sedang mencari-cari gaun pengantin untuk 3 bulan lagi.” Ujar Kak Jojo menjelaskan maksud kedatangan kami.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 150%;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link style="font-family: arial;" rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5COwner%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 150%;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Kalian bisa menuju ruangan yang disana bersamaku jika tidak keberatan,” ujar wanita itu sambil menunjuk sebuah pintu kayu yang menuju entah kemana. Tanpa mengatakan apa-apa, aku dan Kak Jojo segera berjalan dengan patuh menuju pintu yang menuju ruangan yang lebih ramai dengan banyak meja bulat dan kursi yang hanya untuk 3 orang satu mejanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 150%;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 150%;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Rasanya kami sudah memasuki satu atmosfir yang berbeda saat itu, semua orang berceloteh dengan sopan walaupun ada nada-nada bersemangat dalam percakapan mereka. Ada sekitar 5 meja lebih yang terisi dan aku bisa yakin bahwa semua orang-orang disini adalah para calon pengantin. Mereka sedang membalik-balik album-album besar yang menunjukkan berbagai macam gaun-gaun pengantin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 150%;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 150%;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Silakan duduk. Saya Lila, perencana gaun-gaun pengantin. Saya akan membantu anda memilih gaun idaman anda, tidak ada kata tidak mungkin untuk kami disini. Apapun jenis gaun yang anda inginkan, kami bisa berikan untuk anda!” Ujar wanita itu sambil menyodorkan tangannya untuk dijabat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link style="font-family: arial;" rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5COwner%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Tepat saat itu ponselku berbunyi, nama “Julian” berkedip-kedip di layarnya. “Halo?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cres? Kau dimana?” suara July terdengar terburu-buru.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku sedang menemani saudaraku melihat-lihat baju pengantin. Ada apa?” tanyaku padanya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku sekarang sedang berkumpul dengan para pengurus kostum dan properti di sekolah. Kami akan berpencar untuk melihat-lihat kostum dan penjahit-penjahit termurah. Kau dimana?” tanyanya lagi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh. Aku sedang menemani saudaraku. Bagaimana kalau kau kesini dulu? Ke Bride&amp;amp;Groom? Nanti akan kita bicarakan lagi dan kalau harus pergi, aku akan pergi denganmu.” Hanya itu yang bisa terpikir olehku saat ini. Dia menyetujuinya lalu akhirnya sambungannya dimatikan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tia, lihat deh yang ini...” kata Kak Jojo menunjuk gambar sebuah gaun yang berada dalam salah satu album besar yang diberikan Lila sebagai referensi, dan aku selalu mengatakan gaun itu indah, karena pada kenyataannya memang indah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tentu tidak akan berkata “itu sangat buruk!” karena menurutku tidak ada yang membuat gaun pengantin jelek. Tidak akan ada yang memilih gaun pengantin yang jelek juga. Para penjahit juga pasti tahu bagaimana sebuah gaun pengantin akan menjadi sangat berharga bagi pemakainya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak berapa lama kemudian July tiba di Bride&amp;amp;Groom. Mulutnya menganga melihat semua koleksi-koleksi gaun pengantin yang berjajar rapi di sepanjang dindingnya. Sama seperti reaksiku saat pertama kali memasukinya.”Waw!” hanya itu yang dapat keluar dari mulutnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kemudian kejadian itu pun terjadi. Satu hal yang terlewatkan dari perhitunganku, satu hal fatal. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;July berjalan perlahan ke arah gaun pengantin, bukan ke arah jas pengantin! Pandangan matanya melembut saat jari-jarinya menyentuh gaun demi gaun yang indah itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh tidak! Aku harus menghentikan ini!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini semua karyawan yang berada di dalam Bride&amp;amp;Groom memperhatikan July seperti orang aneh. Mereka pasti melihat seorang laki-laki remaja dengan tubuh yang semampai, memakai jaket cokelat dan jeans besar sedang melihat-lihat gaun pengantin, menyentuhnya, membelai teksturnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya aku ingin berkata, “Ayo, kita pergi!” tapi tidak ada suara yang bisa keluar dari mulutku. Aku tidak suka pandangan semua orang ini! Aku tidak mau July dipandangi dengan aneh seperti ini!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 150%;font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 150%;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Rasanya aku lebih tidak berdaya lagi ketika July meraih satu gaun pengantin dan berkata, “Hey Cres! kau harus melihat ini. Bukankah ini indah?” aku hanya bisa menelan ludah. Aku tahu pasti apa yang harus kulakukan, menariknya keluar sekarang juga! &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 150%;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link style="font-family: arial;" rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5COwner%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 150%;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Ka..kau..ayo kita pergi!” ujarku terbata-bata. Dia terlihat bingung saat itu, namun akhirnya dia menyadarinya. Semua mata tertuju padanya, semua! Perlahan mukanya memerah dan dengan terlalu cepat, dia berjalan keluar dari Bride&amp;amp;Groom.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 150%;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 150%;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 150%;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 150%;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Aku tidak mengatakan komentar apapun terhadap kejadian yang baru saja terjadi, begitu juga dengan July yang jelas malu sekali dan dia tidak ingin membicarakannya. Aku tidak tahu harus marah atau kecewa, yang jelas dia sudah bertindak kelewat kontrol tadi, kalau hanya mengagumi dan berkomentar sih tidak masalah untukku. Tapi tadi dia berjalan ke arah rak gaun dan memegangnya dan mengomentarinya!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 150%;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;       &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 150%;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Apakah kurang mencurigakan untuk ukuran seorang laki-laki yang berumur sekitar 16 tahun untuk melihat-lihat gaun pengantin? Sepertinya July tahu aku juga malu dan marah, karena dia pun tidak bersuara sedikitpun&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link style="font-family: arial;" rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5COwner%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-indent: 0.5in; line-height: 150%;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Tidak ada yang berbicara setelah aku menelepon Kak Jojo dan berkata bahwa aku harus pergi untuk mencari referensi dalam penyelesaian proyek drama tahunan ini. Kak Jojo pun sama sekali tak keberatan, katanya sekarang dia sudah berpindah dari Bride&amp;amp;Groom karena harga bajunya terlalu mahal, dan sekarang sedang berada di Watson Cakery untuk melihat-lihat contoh kue.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-indent: 0.5in; line-height: 150%;font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Beberapa penjahit sudah kami lewati tapi dia tetap tidak menghentikan mobilnya. Aku tidak tahu kemana dia ingin pergi, kemana dia ingin membawaku pergi, atau kemana pikirannya pergi, yang jelas sejak tadi kami tidak berhenti, bahkan saat melewati toko penjahit terkenal dan toko kostum natal yang paling diminati setiap tahun&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link style="font-family: arial;" rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5COwner%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:arial;"&gt;“Kau mau kemana?” tanyaku akhirnya, tidak tahan dengan semua kesunyian yang tidak memberi petunjuk apapun kemana dia membawaku pergi. Dia hanya diam, larut dengan pikirannya sendiri. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita akan kemana?” ujarku mengulang pertanyaan, seperti sedang berbicara ke anak kecil. Dia melirikku dari sudut matanya, ada suatu pandangan yang tidak bisa kuartikan, antara kecewa, malu, marah, dan penuh harapan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba dia menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Dan menutup matanya. Aku hanya bisa memperhatikannya, tidak berani bertanya lebih jauh. Dia menengadahkan kepalanya dan bersandar pada sandaran kursinya. Matanya tetap terpejam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku...aku memang bodoh.” Katanya dengan suara yang hampir mirip bisikan. Aku tetap diam. “Bodoh! Dasar bodoh!” bentaknya pada udara. Dia tersenyum sekilas namun dia menunduk dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;perlahan sekali, setetes air mata bergulir di pipinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isakannya keras dan jelas di telingaku, ingin rasanya aku menjulurkan tanganku, merangkulnya, atau melakukan apa saja untuk menenangkannya. Aku sungguh tidak biasa melihat seorang laki-laki menangis seperti ini walaupun aku tahu yang menangis itu July, bukan Julian. Atau mungkin kedua pribadi itu. Aku tidak tahu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya dia tampak lebih tenang setelah menangis dan menumpahkan semua perasaannya lewat tangisannya. Dengan mulut gemetar dia mulai bercerita padaku, “Aku sejak dulu...memang bodoh....selalu saja kehilangan kontrol! Selalu! Ini bukan kejadian pertama yang terjadi, sudah berulang kali! Berulang kali!” ulangnya seakan untuk memperjelas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak tahu...mungkin aku gila. Sampai tidak bisa mengendalikan diriku. Entahlah, aku memang terlahir dengan keadaan seperti ini, bukan aku yang menginginkannya, tidak akan ada orang yang menginginkan terlahir menjadi seorang perempuan yang terperangkap dalam tubuh laki-laki” kali ini suaranya lebih pelan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Dia kemudian tediam beberapa saat lagi sambil menunduk. Aku ingin mengucapkan kata-kata penyemangat, tapi tidak pernah ada kata yang pas untuknya. “Maaf.. maaf, aku lepas kontrol,” katanya dengan nada menyesal padaku. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak apa-apa.” Kataku, terkejut dengan suaraku sendiri yang parau. Dan saat itu rasanya jelas sekali, saat itu seperti ada yang membuka mataku, melihat kenyataannya. Bahwa July tidak pernah diterima disini, atau dimanapun. Dia hanya khayalan yang nyata, khayalan jiwa seorang perempuan yang merindukan kebebasan untuk menjadi sekedar, normal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-indent: 0.5in; line-height: 150%;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-indent: 0.5in; line-height: 150%;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8007565526840934248-1501452686451092078?l=beyondureyes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://beyondureyes.blogspot.com/feeds/1501452686451092078/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8007565526840934248&amp;postID=1501452686451092078' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8007565526840934248/posts/default/1501452686451092078'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8007565526840934248/posts/default/1501452686451092078'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://beyondureyes.blogspot.com/2008/09/lima.html' title='Lima'/><author><name>Dandelion</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01021338332393636313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8007565526840934248.post-5741679436993684944</id><published>2008-09-08T02:21:00.000-07:00</published><updated>2008-09-08T02:27:05.679-07:00</updated><title type='text'>Empat</title><content type='html'>“Kau masih marah padaku?” tanyaku pada Sierra saat makan siang di kantin. Dia hanya terdiam. Aku tahu dia masih marah, dan aku tidak tahu kenapa. “Apa salahku sih?” tanyaku akhirnya. Aku sudah berada dalam posisi siap bila tiba-tba dia membentak atau semacamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Salahmu adalah..” dia terhenti, “kau mendekati 2 orang cowok.” Jawabnya singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukankah aku sudah bilang? Aku dan Julian hanya teman, partner kerja, itu saja, titik. Ada apa sih denganmu? Apa masalahmu dengan itu?” tanyaku lagi. Dia terdiam. Dan tiba-tiba pikiran itu muncul di otakku seperti ada lampu yang tiba-tiba dinyalakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau suka padanya?” tanyaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan urusanmu!” jawabnya sinis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah wah, kalau jawabannya begini berarti kau suka padanya kan?” tanyaku lebih lanjut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku kan sudah bilang bukan urusanmu!” balasnya sinis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah. Bukan urusanku kan? Aku bisa saja mengatakan pada Julian kalau ada&lt;br /&gt;“kemungkinan” kau suka padanya,” ujarku dengan nada santai. Dia memelototiku. “Fine! Aku suka padanya, ok?” ujar Sierra akhirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini tidak boleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi...” aku berusaha menemukan kata-kata yang tepat. Aku tidak bisa mengatakan, “Kau tidak bisa suka padanya karena dia seorang perempuan!”dan aku juga tidak bisa mengatakan alasan yang bagus kenapa dia tidak boleh menyukai Julian seperti cewek-cewek yang tidak tahu apa-apa tentang dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi apa?” tanya Sierra mengharapkanku melanjutkan kata-kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak. Tidak apa-apa. Maaf kalau aku membuatmu kesal, tapi untuk meperjelas keadaan, aku tidak suka Julian, OK?” kataku, “Lagipula kemarin Fred mengantarku pulang ke rumah,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak mungkin!” kata Sierra, matanya terbelalak tidak percaya. “Serius!” kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ceritakan!” katanya dengan ekspresi tidak sabar. Saat itu aku tahu, aku dan Sierra sudah kembali normal. Kuceritakan semua yang terjadi kemarin dan dia menanyakan lebih detil ceritanya. Maaf Sierra, akan kuceritakan tentang July, suatu hari nanti. Tidak bisa sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cres?” suara July memotong ceritaku tepat saat aku sedang dipayungi Fred ke teras rumah. Sierra langsung memasang senyum terbaiknya, dan July juga membalasnya dengan seadanya. Senyum pura-pura!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa?” tanyaku padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Um, ada yang ingin kubicarakan.” Katanya, “tentang skrip The Miracle,” tambahnya, untuk mengurangi kecurigaan Sierra. “Oh. Bisa di tunda sebentar? Aku sedang dalam pembicaraan serius.” Ujarku padanya. Dan jawabannya di luar dugaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Boleh ikut pembicaraan kalian?” tanyanya. Tidak! Jangan July! Jangaaaann!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tentu! Silakan duduk!” ujar Sierra sambil menunjuk bangku kosong di sebelahnya. Aku mengerti bagaimana July ingin terlibat pembicaraan “cewek” yang selalu dia inginkan, tapi tolong jangan sekarang! Orang-orang akan memandangi kami dengan heran karena “si keren” duduk bersama Sierra dan aku, dan yang lebihnya lagi, Erica akan mencegatku nanti untuk menanyakan apa yang kami bicarakan. Aku benci ini!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bisa merasakan pandangan Erica dan geng noraknya memelototi kami dari seberang ruangan. Aku tidak tahan lagi, “Maaf, umm, sebaiknya aku kembali ke kelas, ada...ada pr mat yang belum kukerjakan.” Ujarku terdengar tak meyakinkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“PR mat? Sejak kapan kau mengerjakan PR mat?” tanya Sierra curiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sejak sekarang.” Jawabku, lalu aku segera mengambil tas dan meninggalkan ruang makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bisa merasakan pandangan curiga Sierra dan pandangan July yang ingin mengikutiku keluar tapi kalah cepat dengan mulut Sierra yang langsung mengajaknya mengobrol dengan gaya cewek yang sedang flirting ke cowok cakep macam Julian.&lt;br /&gt;Langkahku berhenti di depan lokerku dengan angka 37 besar di bagian atasnya. Kuambil kunci lokerku dan kuputar kuncinya, selembar kertas melayang dengan lembut saat kubuka pintunya. Kupungut kertas itu dari lantai dan membaliknya. Sederet tulisan disana membuatku tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-family: webdings;"&gt;&lt;br /&gt;Dear scriptwriter of The Miracle,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mau pergi bersamaku untuk minum kopi sepulang sekolah? Dan aku akan sangat senang bila kita tidak hanya membicarakan soal-soal kimia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak bisa menahan keinginanku untuk melompat dan tersenyum sepanjang hari. Sesekali mengecek jam tanganku dan memperhatikan si penulis surat. Dia tidak menyambut tatapan mataku walaupun aku tahu pasti, dia merasakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bel pulang sekolah berbunyi dengan suara yang terdengar merdu di telingaku. Kumasukkan buku-bukuku sambil bersenandung kecil, hari ini akan jadi hari terindah tentunya! Tak berapa lama kemudian kelas sudah kosong. Hanya ada aku dan Fred, “Ayo.” Gumamnya sambil meraih tanganku lalu berjalan keluar kelas. Tangannya menggenggam tanganku, dalam detik itu panik menaiki tubuhku, rasanya sangat tidak nyaman, tapi menyenangkan. Ada letupan-letupan kecil kesenangan yang membuat wajahku panas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini pertama kalinya aku benar-benar berdua dengannya. Setelah memesan kopi, kami mencari 2 bangku kosong, hanya 2! Hanya untuk kami berdua, tidak ada orang lain. “Kau sudah membuat skrip drama?” tanyanya tiba-tiba, memecah keheningan di antara kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah sih tapi baru setengah. Aku berniat menyelesaikannya, tapi belum ada waktu.” Jawabku, lalu kusedot Caramel Ice Blended ku dalam-dalam. Merasakan manisnya caramel bermain-main di dalam mulutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Butuh bantuan?” tanyanya. Aku berpikir sejenak. Well, kenapa tidak? Pasti akan menyenangkan menyusun skrip bersama dengannya. “Boleh. Tidak keberatan nih?” tanyaku padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sama sekali tidak,” katanya sambil menggeleng, “kau akan terkagum-kagum nanti karena ternyata aku mempunyai bakat terpendam menjadi penulis naskah.” Katanya. Aku tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak akan!” balasku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setengah jam kemudian, kami sudah asik membuat skrip naskah untuk The Miracle. “Tidak! Jangan! Aku tidak akan berbicara seperti itu!” protes Fred tidak setuju saat aku buatkan dialognya. “Jadi maumu apa?” tanyaku akhirnya setelah mengganti-ganti dialognya berulang-ulang kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Begini saja. Ceritanya Freya masuk dan aku akan berkata ‘Selamat Datang, selamat datang. Aku Sir Ethan dari Norwegia, dan ini istriku bla bla bla’.” Usulnya. Aku berpikir sebentar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya boleh lah.” Jawabku akhirnya. Dia tampak senang karena tidak harus berkata “Akulah yang membuatnya. Oh iya, ini istriku Giselle dan kami baru menikah. Bulan madu kami, kami habiskan di kepulauan Karibia” Karena menurutnya terlalu, “sombong”, padahal kesan itulah yang ingin kutunjukkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba ponselku berbunyi, Mama meneleponku. “Maaf, Mama menelepon,” kataku pada Fred, lalu aku segera menghindar dan bersandar pada dinding belokan toilet. “Halo?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tia? Kamu dimana?” tanya Mama dengan suara yang tak terlalu jelas. Berbagai suara bising melatarbelakangi suara Mama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku lagi sama temenku, Ma. Lagi minum kopi sambil ngobrol-ngobrol. Kenapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bisa nggak kamu ke stasiun? Kak Jojo mau mengunjungi kita disini!” katanya dengan suara yang sudah berusaha menimpali bisingnya suara di latar belakangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kak Jojo? Siapa itu?” tanyaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu lupa? itu kakak sepupu kamu, waktu kecil kan kalian suka main bareng! Anaknya Tante Debby, gimana sih kamu ah!” aku berusaha mengingat-ingat. Kak Jojo?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah nggak pernah ah Ma!” bantahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya ampun Tia! Kak Jojo! Yang tinggal di Solo! Josephine Satya Atmadja!” ujar Mama tidak sabar. Aku berusaha mengingat-ingat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kak Jojo!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya sudah lamaaaa sekali sejak terakhir kali aku bertemu dengannya. Mungkin ketika aku berumur 9 tahun itu terakhir kalinya. Dulu dia masih SMA dan sering menemaniku bermain dan sering membantu Mama membujukku kalau aku sedang ngambek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh ya? Dia mau datang Ma? Kapan?” tanyaku tidak sabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya beberapa menit lagi, mungkin sekitar 15 menit lagi. Makanya Mama suruh kamu ke stasiun sekarang!” kata Mama tidak sabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, okok Ma, tunggu ya! Aku ke sana sekarang!” lalu kumatikan sambungan. “Maaf Fred, aku harus ke stasiun sekarang, saudaraku akan datang berkunjung, maaf sekali.” kataku sambil menunduk, lalu mengambil tas dan bersiap pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah tidak apa-apa. Bagaimana kalau kuantar saja?” tawarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak usah, aku bisa kok sendiri,” kataku sambil tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak, daripada harus naik taksi, kan lebih aman denganku, ayo, kuantar saja, sekalian lalu aku pulang,” katanya. Akhirnya ajakan itu  kusambut juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langit sudah mulai gelap ketika aku sampai di stasiun. Mama sudah menelepon beberapa kali, memastikan bahwa aku sedang dalam perjalanan ke sana. Fred yang rencana awalnya hanya menurunkan aku akhirnya ikut mengantarkanku sampai bertemu Mama. Orang-orang berlalu-lalang dengan sibuk di stasiun kereta. Sesak dan panas. Berbagai macam orang dari berbagai latar belakang tumpah ruah di stasiun yang besarnya tidak cukup untuk menampung orang dengan jumlah yang sangat banyak seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fred menggenggam tanganku dengan erat sejak tadi, tapi aku pun tidak berani melepaskannya walaupun jantungku sudah deg deg an dan tanganku berkeringat. Bagaimana kalau nanti aku terpisah? Mataku menyipit mencari-cari sosok Mama di tengah keramaian, begitu banyak orang disini, terlalu banyak. Akhirnya kuhubungi Mama dan kutanyakan dimana dia berada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya aku melihat sosok Mama di tengah keramaian, sedang berbicara dengan seorang wanita muda yang cantik dan berpakaian rapi layaknya businesswoman, rambutnya diikat rapi dan senyumnya sangat sempurna. Tanpa pikir panjang aku menghampirinya, “Mama!” panggilku. Mama menoleh dan saat itu semua kekhawatiran di wajahnya berganti dengan kelegaan yang terpancar jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu dari mana saja?” tanyanya dengan nada khawatir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mencari Mama, orang-orang berdesakkan, aku juga tidak bisa melihat Mama,” jawabku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah! Ini Tia ya? Sudah besar sekali!” ujar wanita muda yang berpakaian rapi itu “pacarnya juga cakep loh!” tambahnya dengan nada menggoda. Aku terpaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh tidak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangan Mama tiba-tiba berubah, bergeser dari wajahku ke wajah Fred yang tangannya buru-buru dilepas dari tanganku. “Oh ya Ma, ini temanku, Fred.” Kataku mengenalkannya pada Mama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Malam Tante.” Kata Fred sambil tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia yang mengantarku ke sini,” kataku dengan senyum yang bisa diartikan senang, gugup, dan malu. “Umm, sebaiknya aku pulang sekarang sebelum Mama menelepon dan mulai menanyakan dimana aku.” Kata Fred. Aku mengiyakan dan melihatnya tertelan keramaian orang di stasiun.&lt;br /&gt;Ada keheningan sesaat sebagai jeda bahwa kini, hanya ada aku, Mama, dan wanita muda itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tia, ini Kak Jojo, ingat kan?” tanya Mama, merujuk pada wanita muda itu. Aku melihat wajahnya, berusaha mengingat-ingat. Beda sekali dari Kak Jojo yang dulu, sekarang dia bertambah tinggi, kurus, dan tentunya tambah cantik!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini Kak Jojo? Wah, beda sekali! aku hampir tidak mengenali!” kataku. Kak Jojo tertawa, “Iya! Kakak juga heran loh melihat kamu! Sudah besar sekali! rasanya dulu masih susah makan ya? Sekarang gimana?” tanyanya menggoda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah Kakak! Itu kan sudah lama sekali. sekarang aku jagoan makan!” kataku. Dia tertawa lalu Mama mengajak kami pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kak Jojo kesini untuk mencari referensi, Ti. Kamu harus bantu Kak Jojo ya!” kata Mama saat kami sudah berada di dalam mobil menuju rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hah? Referensi apa? Untuk proyek?” tanyaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, bisa dibilang untuk satu proyek besar,” kata Mama sambil menukar senyum penuh arti dengan Kak Jojo. Apa sih maksudnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maksudnya?” tanyaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kak Jojo kesini untuk mencari-cari baju pengantin dan kue pernikahan, jadi kamu harus bantu dia ya!” kata Mama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hah? Kok sampai cari baju pengantin segala? Proyek untuk meneliti permintaan konsumen dalam mencari baju pengantin?” tanyaku lagi. Mama dan Kak Jojo tertawa. Bukan hanya sekedar tertawa, tapi tertawa lepas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa sih? Apanya yang lucu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aduh kamu tuh Ti! Maksud Mama, Kak Jojo akan segera menikah! 3 bulan lagi! Makanya sekarang dia lagi sibuk mencari-cari baju pengantin dan mempersiapkan segalanya!” kata Mama memperjelas. OH! Ternyata begitu..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah menikah? Dengan siapa Kak?” tanyaku penasaran. Akhirnya Kak Jojo menikah, tentu pasangannya sangat ideal, bisa kubayangkan kira-kira seperti apa rupa calon pengantin laki-laki itu Laki-laki yang tinggi, bersih, wangi, sopan, dan mempunyai masa depan yang cerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu pasti nggak akan menyangka deh Ti. Kakak akan menikah dengan Kak Sean!” ujar Kak Jojo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kak Sean? Kak Sean yang dulu jadi musuh kakak? Yang gendut dan kata kakak nyebelin itu kan?” tanyaku. Seingatku dulu pernah ada seseorang yang sangat dibenci Kak Jojo, namanya Sean. Kata Kak Jojo dia itu sangat resek, sering menggoda cewek-cewek, dan malas. Aku tidak percaya Kak Jojo akan menikah dengan orang seperti itu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya! Kak Sean yang itu!” katanya. Aku terdiam. “Tapi dia sudah berubah kok, Ti!” kata Kak Jojo seakan bisa membaca pikiranku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya! Berubah jauh!” tambah Mama meyakinkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini fotonya,” Kak Jojo menunjukkan foto seseorang pada ponselnya. Seorang laki-laki yang menyerupai gambaranku akan calon mempelai pria, pasangan Kak Jojo. Laki-laki yang tinggi, tegap, berkulit terang, dan terlihat ramah, dia tersenyum pada kamera sambil merangkul Kak Jojo. Senyumnya lepas dan terlihat bahagia bersama dengan Kak Jojo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang dia sudah menjadi manager distribusinya Regal!” kata Mama lagi, menyebutkan nama supermarket terkenal yang sudah membuka cabang di berbagai negara. Waw! Kalau begitu sih memang pantas jadi pasangannya Kak Jojo. Hanya saja, dia berubah sekali, sangat berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarkah seseorang bisa berubah sepesat itu?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8007565526840934248-5741679436993684944?l=beyondureyes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://beyondureyes.blogspot.com/feeds/5741679436993684944/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8007565526840934248&amp;postID=5741679436993684944' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8007565526840934248/posts/default/5741679436993684944'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8007565526840934248/posts/default/5741679436993684944'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://beyondureyes.blogspot.com/2008/09/empat.html' title='Empat'/><author><name>Dandelion</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01021338332393636313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8007565526840934248.post-5359085478476495274</id><published>2008-09-07T01:37:00.000-07:00</published><updated>2008-09-07T01:42:06.278-07:00</updated><title type='text'>Tiga</title><content type='html'>Aku tidak akan membicarakan cuaca! Tidak akan! Jantungku semakin berdegup kencang sambil otakku berputar mencari topik obrolan. Fred duduk di sebelahku, tangannya menulis soal-soal kimia di papan. Aku tidak tahu harus berkata apa. “Penghapus.” Aku terlonjak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“A..apa?” tanyaku bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Penghapus.” Ulangnya dan saat itu semua kepanikan hilang. OH, dia hanya minta penghapus. Segera kubuka kotak pensilku dan kuambil penghapus dari dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa denganmu hari ini?” Tanya Fred, melihat kepanikan dan kegugupanku sejak tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Entahlah. Mungkin efek samping karena terlalu stress mengerjakan tugas.” Kataku asal. Dan herannya dia tertawa kecil. Apanya yang lucu? Aku serius, pikirku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi, kau pemimpin pementasan The Miracle?” tanyanya tiba-tiba. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, begitulah. 3 minggu yang lalu semua orang sudah diberitahu dan kini tidak ada cara bagiku untuk menghindar” Jawabku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menghindar? Kenapa menghindar?” tanyanya heran sambil terus mengkopi soal-soal membosankan penuh angka di papan untuk tugas kelompok. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Uh, well, aku memang suka berakting, tapi aku tidak yakin aku bisa mengatur dan mengorganisir keseluruhan pementasan. Bagaimana kalau gagal? Bagaimana kalau orang-orang yang kutunjuk untuk mengerjakan sesuatu tidak setuju dan mereka membicarakanku di belakang sebagai pemimpin yang tidak baik?” ujarku apa adanya. Pertanyaan-pertanyaan semacam itu memang sudah menghantuiku semenjak hari pertama aku diberitahu akan memimpin keseluruhan pementasan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sssst! Jangan berkata begitu! Kau kan belum mencoba, memangnya kau mau menyerah begitu saja?” tanyanya. Aku termenung mendengarnya. Memang benar aku belum pernah mencoba, tapi bagaimana kalau “percobaan” itu melibatkan banyak pihak dan aku gagal? Aku tidak akan mungkin bisa keluar rumah selama sisa hidupku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selesai.” Katanya sambil meletakkan penanya. “Kau boleh mengerjakannya,” ujarnya lagi. Kuambil pena dan mulai memikirkan jawaban nomer 1 yang ternyata lumayan sulit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bisakah kau membantuku mencari jawabannya di buku?” tanyaku padanya. Dia segera duduk dengan posisi lebih sigap dan mulai membalik-balik halaman bukunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah ini hanya aku, atau memang dia sejak tadi memperhatikanku? Tapi setiap kali kulirikan mataku, dia sedang melihat ke arah lain, atau dia baru saja melihat ke arah lain? Karena bila aku mulai mengerjakan soal-soal lagi, aku merasakan matanya lekat menatapku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selesai.” Ujarku akhirnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Coba ku cek.” Katanya sambil mengambil bukuku dan mulai mengeceknya. Aku tidak tahan bila tidak melihatnya dari dekat seperti ini. dia tampak lebih ganteng dari biasanya. Seorang kapten sepak bola, gitaris band, dan actor yang hebat, apakah yang kurang dari dirinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Crescentia, kau memperhatikanku sejak tadi.” Ujarnya tiba-tiba, membuat pernyataan. Tapi matanya masih terpaku pada jawaban-jawabanku di buku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh, mm, tidak kok.” Ujarku gugup sambil mengalihkan mataku ke luar kelas. Dia tersenyum. Senyum malaikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi intinya?” Tanya Darren padaku. Aku terdiam. Sejak tadi aku berbicara hal apa saja secara acak dan kalau mau tahu intinya, aku belum memikirkan siapa orang-orang yang akn kupilih sebagai pemimpin seksi dekorasi, seksi kostum dan properti, maupun penulis skrip.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Intinya adalah…” aku menarik napas, 50 pasang mata menatapku dengan penuh harap, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“aku pikir kita harus merencanakan ini bersama-sama. Rasanya tidak adil kalau hanya aku yang menunjuk dan ternyata orang yang kutunjuk tidak suka dengan tugas yang kuberikan..” ujarku menyudahi pidatoku sebagai pemimpin pementasan drama tahun ini.&lt;br /&gt;Tepat pada saat itu pintu terbuka dan July memasuki Ruang Teater, masih basah oleh keringat hasil latihan basketnya. “Julian! Kemana saja kau?” Tanya Erica dengan nadanya yang dibuat-buat. Aku muak mendengarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Latihan basket.” Jawab July singkat dan tidak memperdulikan puluhan pasang mata cewek-cewek yang menatapnya dengan penuh kekaguman. Dia langsung mengambil posisi di sampingku dan bertanya apa saja yang sudah dilewatkannya sejauh ini. Erica mengarahkan pandangan mematikannya padaku, aku tidak memperdulikannya. July tidak akan suka padamu. July hanya suka padamu jika kau operasi plastik menjadi cowok ganteng, dengan suara berat, dan jantan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah! Siapa yang tertarik untuk mengurusi bagian dekor harap berkumpul di samping kiriku, yang tertarik pada kostum dan properti berkumpul di samping kananku!” ujarku. Dan yang mengejutkanku adalah, mereka menurutiku!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata inilah rasanya menjadi Geraldine. Bertanggung jawab sepenuhnya pada nasib pementasan sehingga harus bisa membuat keputusan dengan benar karena semua orang akan selalu siap mendukung dan siap melakukan yang diinginkan si pemimpin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah. Seperti yang sudah diumumkan Bu Tracy 3 minggu yang lalu, Julian bertugas sebagai asistenku, sehingga bila akan ada yang ingin pindah ke bagian yang lain harap menghubungi Julian atau aku.” Ujarku mengumumkan, sebenarnya pengumuman itu lebih bertujuan untuk membuat Erica kesal. Aku senang membuatnya kesal karena tahu aku dekat dengan July dan July selalu berada dekatku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berunding sebentar dengan July untuk memutuskan siapa penulis naskah dan siapa-siapa saja yang akan menjadi tokoh utama. Dan kami setuju untuk melakukan voting supaya adil. Ada 4 orang tokoh utama dalam drama The Miracle ini, Freya, Drew, Mathilda, dan Merlin. Setelah dilakukan voting dengan adil dan bersih, terpilihlah Julian (dengan hasil voting terbanyak) menjadi Drew, sang jagoan, dan dengan voting lainnya, terpilih lah Erica sebagai Freya, gadis berkebangsaan Swiss yang cantik, kaya dan sombong, yang menurutku memang pas untuk dirinya, lalu terpilihlah Giselle sebagai Mathilda, nenek tua yang menyimpan banyak rahasia, dan Adrian sebagai Merlin, si penyihir yang terbangun karena ulah Freya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sisanya akan menjadi pemeran pembantu: orang-orang kerdil, penari dan penyanyi, sahabat-sahabat Freya, dan orang-orang kaya yang bodoh. Tentu saja semua cerita drama ini hanya rekaanku saja, karena memang aku hanya diberi judul, dan ceritaku haruslah berhubungan dengan judulnya The Miracle.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dilakukan voting lainnya, aku terpilih menjadi penulis skrip. Well, agak mengejutkan memang, tapi aku tidak merasa risih atau apapun. Selama ini aku selalu menjadi actor, sekali-sekali aku juga ingin bekerja di balik layar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah kalau begitu, kita akan mulai latihan adegan pertama besok, aku akan berusaha menyelesaikan skrip adegan pertama malam ini, untuk bagian properti dan kostum, harap mulai mendesain kostum yang akan digunakan, dan untuk bagian dekor, nanti akan kuberikan setting-setting yang akan dipakai dan harap segera mengerjakan outlinenya dan rincian biaya yang akan dikeluarkan,” ujarku menutup pertemuan hari itu dan satu per satu mereka bangkit dan meninggalkan Ruang Teater.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua, kecuali aku dan July. “Aku tunggu di depan gerbang ya!” kata Sierra sebelum menutup pintu Ruang Teater. Begitu semua tampak hening, aku segera menghembuskan napas legaku sekeras-kerasnya. Rasanya semua yang kukatakan tadi hanya berupa kilasan-kilasan ingatan yang tidak jelas dalam kepalaku. Aku sendiri merasa seperti orang lain tadi, itu sungguh bukan aku! Sangat bukan aku!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selamat ya!” kata July mengulurkan tangannya padaku. Aku menjabatnya lalu segera terduduk di panggung, July duduk di sebelahku. “Bagaimana latihan basketmu?” tanyaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yah, seperti biasa. Cowok-cowok bermain kasar, dan mereka mengatai permainanku gay karena aku tidak mau membuat lawan jatuh atau kesakitan dengan tipuan-tipuan. Tapi mau bagaimana lagi? aku memang seperti ini.” Katanya dengan sederhana. Aku hanya bisa menatapnya, tidak sanggup mengutarakan betapa kagumnya aku padanya. Betapa aku sangat ingin memuji betapa tangguhnya dia, tapi semua puji-pujian itu tidak bisa keluar. Aku hanya bisa menatapnya, dan tidak melepaskan pandanganku darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa?” tanyanya sambil menoleh padaku. Matanya bertemu dengan mataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak. Tidak ada apa-apa….hanya saja….kau sangat tabah,” kudengar diriku berbicara demikian, lalu bibirku terurai menjadi sebuah senyum tertulus yang pernah kuberikan mengiringi pujian tertulus yang pernah kuucapkan. Lalu aku segera mengambil tas dan meninggalkannya sendirian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dasar plin plan!” seru Sierra tiba-tiba saat kami sudah berjalan pulang bersama, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“..katanya kau suka Fred? Kenapa malah sering menghabiskan waktu dengan Julian?” Tanya Sierra dengan galak. Aku tergagap, tidak sanggup berkata-kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau…kau tahu pasti kan…aku…ah sudahlah, sekarang kau sebenarnya mau yang mana sih? Jangan plin plan!” omel Sierra lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Plin plan gimana? Aku tidak suka July, maksudku, Julian! Aku dan Julian hanya teman, tidak lebih! Aku tetap suka Fred, bukan Julian.” balasku pada Sierra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Teman? Tapi kenapa Julian selalu menghampirimu? Kenapa akhir-akhir ini kau sulit sekali kutemui dan setiap kali aku menemukanmu, kau pasti sedang bersama Julian?” Tanya Sierra. “Mana aku tahu?! Mungkin karena pertemuan kami hanya selalu membicarakan pementasan drama yang memang butuh untuk dibicarakan.” Kataku berbohong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hanya pementasan drama?” Tanya Sierra memancing. Aku diam beberapa saat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Well, memangnya apa yang kau harapkan?” tanyaku balik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pembohong!” ujar Sierra, lalu dia berjalan menjauh dariku. Dan aku tidak bisa memanggilnya, dan juga tidak ingin. Saat itu ada banyak pertanyaan berputar-putar di kepalaku, dan semua tanggung jawab di pundakku rasanya semakin berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa Sierra harus marah sih? Dia tidak ada hak apa-apa untuk marah! Ini kan urusanku dan July dan aku tidak akan memberitahu rahasia July padanya. Terserah dia berpikir apa, tapi July tetap July, dia seorang perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan rintik-rintik mulai membasahi bumi menemani perjalananku ke halte bus. Langit mendung sore ini. kurapatkan jaketku dan terus berjalan, dingin menusuk tubuhku, tapi kubiarkan. Memang selalu seperti ini, aku benci hujan. Benci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah mobil tiba-tiba berhenti tepat di sampingku lalu kaca gelapnya diturunkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mau ikut?” Tanya sebuah suara. Aku benci ditanya seperti ini, kayak aku akan ikut mereka saja! Aku bukan perempuan murahan yang akan ikut mobil penuh cowok-cowok murahan yang menghisap ganja di pojokan jalan dan menghabiskan uang orang tuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak ada orang lain bersamaku di dalam sini.” Ujar suara itu lagi. Aku tetap berjalan dengan kekeuh, aku tidak akan menoleh tidak akan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku bukan penghisap ganja dan orang-orang jahat seperti dalam bayanganmu,” katanya lagi, mobilnya berjalan perlahan seiring dengan langkah kakiku. Aku tidak peduli! Walaupun sepertinya orang ini bisa membaca pikiranku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan semakin deras membasahi bumi saat suara itu berkata, “Kalau kau tidak mau ikut, aku tidak jamin tugas kimia akan kuselesaikan hari ini.” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutolehkan kepalaku. Fred nyengir dari dalam mobil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau!” aku kehabisan kata-kata. Dia memberi tanda agar aku masuk ke dalam mobil. Aku tidak bisa berhenti tersenyum sepanjang jalan. Jalanan dimana orang-orang kebasahan dan menggerutu karena baju mereka basah dan mereka kedinginan. Tapi tidak denganku, setidaknya kali ini. aku dan Fred, berada dalam mobilnya. Nyaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Umm, rumahmu dimana?” tanyanya tanpa menolehkan matanya dari jalanan di depan sana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak jauh dari sini. Jujur saja, aku tidak bisa menghapal jalanan dengan baik, karena itulah aku selalu naik bus walaupun Papa sudah memberikan mobil untukku.” Jawabku apa adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tidak bisa menghapal jalan? Darimana kau tahu dimana rumahmu?” tanyanya setengah terkejut, setengah tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Well, karena selalu ada rumah besar berwarna merah yang baru saja kita lewati. Bila aku sudah melewatinya, artinya rumahku masih 2 belokan lagi.” Jawabku. Dia tertawa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Waw! Cara baru menghapal jalan!” katanya menyindir lalu dia tertawa. Aku memandangnya dengan tatapan memprotes, tapi dia hanya tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mobilnya berbelok ke satu lorong jalanan dimana rumahku menjadi salah satu dari rumah-rumah yang berjejer di sini. Nomor 7 tepatnya. “Itu rumahku,” kataku sambil menunjuk sebuah rumah yang sangat familiar untukku. Dia memberhentikan mobilnya tepat di depan rumah dan membuka payung lalu turun dari dalam mobil dan berjalan ke sisi lain mobilnya untuk memayungiku berjalan menuju teras rumah. “Terima kasih.” Ujarku, tidak mampu menahan senyum. “Tidak masalah!” balasnya sambil menampilkan deretan giginya yang rapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kak Tia diantar oleh seorang cowok!” tiba-tiba terdengar suara Lilian di balik pintu. Oh tidak! Dia mengintip dari lubang pintu! Ini berarti nanti malam aku akan habis diledek satu keluargaku karena kejadian ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf, itu Lilian adikku.” Ucapku sambil menunduk, tidak berani menatap matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak apa-apa.” Jawabnya. Lalu dia kembali ke dalam mobil. Lilian keluar tepat saat aku sedang melambai pada Fred. “Cieee...” ledeknya, aku langsung menggelitknya dan dia berlari ke dalam rumah, meneriakkan kata-kata itu lagi, “Kak Tia diantar cowok ke rumaaaahh!!!” dan aku segera membungkam mulutnya dan dia menghindar, aku mengejarnya dan kami akhirnya tersungkur ke sofa bersama, kehabisan napas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya aku ingin meralat ucapanku tadi. Aku suka hujan. SUKA SEKALI.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8007565526840934248-5359085478476495274?l=beyondureyes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://beyondureyes.blogspot.com/feeds/5359085478476495274/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8007565526840934248&amp;postID=5359085478476495274' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8007565526840934248/posts/default/5359085478476495274'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8007565526840934248/posts/default/5359085478476495274'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://beyondureyes.blogspot.com/2008/09/tiga.html' title='Tiga'/><author><name>Dandelion</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01021338332393636313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8007565526840934248.post-5491171793070656905</id><published>2008-09-04T04:57:00.000-07:00</published><updated>2008-09-04T05:01:17.662-07:00</updated><title type='text'>Dua</title><content type='html'>Transgender. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah dia menyebut penyakit dalam dirinya. Bukan penyakit, hanya suatu getaran psikologis yang sudah menghantuinya sejak kecil. Julian July Julian July. Aku tidak bisa membedakan yang mana. Aku tidak bisa merasakan menjadi dirinya. Seorang perempuan yang terperangkap dalam tubuh laki-laki. Bagaimana rasanya itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;July pasti sering menangis selama 16 tahun hidupnya yang penuh dengan kepura-puraan. Dia tidak bisa menyukai laki-laki dengan terang-terangan. Aku pun tidak bisa membayangkan tubuhnya yang berupa laki-laki direngkuh oleh seorang laki-laki sungguhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah 2 minggu berlalu sejak dia menawarkan diri menjadi asistenku dalam mengurus drama sekolah, dan sekarang dia sudah menganggapku teman baiknya. Seringkali aku merasa tidak nyaman bila harus berbicara langsung dengannya, aku lebih suka berkomunikasi dengannya lewat SMS atau chatting di computer, karena saat itu, dia adalah dia yang sesungguhnya, seorang July. Bukan Julian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada seorang pun yang tahu tentang dirinya ini selain aku. Sudah pernah kutanyakan kenapa harus aku yang menjadi tempatnya bercerita, dan dia hanya menjawab, “Kau terlihat seperti teman yang bisa diandalkan.” Katanya singkat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang tidak ada bedanya saat menjadi Julian ataupun July adalah basket, dia sangat menyukai olahraga itu dan itulah sebabnya dia mengikuti tim basket. Sebagai sosok bertubuh dan berwajah laki-laki yang bisa dibilang lumayan ganteng sudah banyak cewek-cewek yang mendekatinya, mengajaknya pergi, bahkan menyatakan rasa suka mereka pada July, dan mereka tidak ada yang tahu betapa risihnya July yang harus menerima semua pengakuan itu. Dia ingin sekali tampil sebagai seorang July apa adanya di depan semua orang. Tapi tidak pernah ada cara yang bagus untuk menyalurkannya, kecuali satu itu, drama. Kepura-puraan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maukah kau menemaniku jalan-jalan malam ini?” begitulah pertanyaan July padaku sedetik yang lalu, walalupun suaranya tetap suara Julian, aku tahu dia adalah July.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lagi? Aku bosan jalan-jalan malam terus. Memangnya kau sudah menyelesaikan laporan kimiamu?” tanyaku padanya. “Tidak ada cowok anak tim basket yang menyelesaikan laporan kimia,” katanya, lalu kami tertawa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia sering menjadikan ini alasan, terkadang memang ada sedikit banyak enaknya menjadi tubuh laki-laki walalupun jelas lebih banyak tidak enaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu kecil, dia selalu merasa berbeda dengan orang lain, dia merasa pertumbuhannya berbeda dan selalu berbeda dari anak-anak perempuan kebanyakan. Kenapa dia tidak diijinkan main boneka saat semua anak perempuan memainkannya? Kenapa dia harus mendapat hadiah ulang tahun mobil-mobilan atau pedang-pedangan yang tidak pernah diinginkannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa dia selalu mendapat sesuatu yang tidak dia sukai? Dan kenapa dia tidak bisa memiliki semua yang diinginkannya seumur hidupnya? Make-up, rok-rok manis, tas-tas tangan yang lucu, kuteks beraneka warna, anting-anting berkilauan yang mahal, semua, semuanya! Semua yang selalu diinginkan seorang perempuan seumur hidupnya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia sendiri tidak mengerti apa yang terjadi dirinya hingga dia berusia 12 tahun dan mulai mencari tahu kelainan dirinya, browsing di internet, pergi ke psikolog diam-diam, bertanya biaya operasi plastic,semuanya pernah ia lakukan, dan tidak ada jalan yang mudah dan enak untuk dilaluinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana kalau aku ke rumahmu saja? Aku ingin bercerita padamu.” Katanya tiba-tiba. “Cerita apa?” tanyaku sambil mengetik di keyboard komputerku, menyelesaikan laporan kimia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak tahu. Pokoknya cerita.” Ujarnya lagi. Aku bingung sesaat. Mama bisa marah kalau tahu ada teman laki-laki mengunjungiku semalam ini. “Bagaimana kalau kita bertemu di Starbuck’s saja?” usulku, “Mama bisa marah kalau ada teman laki-laki mengunjungiku jam segini.” Sambungku. Dia setuju. Dan aku pun segera bersiap-siap menuju Starbucks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cerita apa?” tanyaku saat kami sudah duduk dan menikmati kopi masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ceritakan tentang dirimu.” Katanya sambil menatapku. Inilah yang tidak kusukai dari bertemu langsung, aku harus menatap dirinya yang berwujud laki-laki dan aku tidak bisa bercerita dengan bebas seperti ketika aku berbicara dengan Haylie atau Sierra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku? Aku tidak punya kisah apapun. Hanya kehidupan biasa. Hidup normal semua orang.” Jawabku. Aku jelas tidak akan menceritakan bahwa aku seorang perempuan yang sedang jatuh cinta pada seorang Fred dan tadi kami baru berdiskusi sebelum July memanggilku keluar dan merusak suasana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maksudku, yah, kau kan seorang perempuan yang terlihat dari luar juga seorang perempuan, pernah kah kau jatuh cinta?” tanyanya padaku. Oh aku benci ini!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Umm..aku tidak yakin.” Lalu kuseruput kopiku, hanya sekedar untuk mengulur-ulur waktu sambil berpikir topik lain. July tampak ingin berkata sesuatu lagi, tapi aku sudah menyelanya, “Kau sendiri? Pernah jatuh cinta?” tanyaku. Aku tahu pertanyaan ini akan menyakitinya, tapi mau tidak mau dia harus hidup dengan sakit itu kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yah, pernah. Sekali. Dan aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Kalau aku mendekatinya seperti “kalian” mendekati lawan jenis, aku bisa dianggap homoseksual. Dan untuk memperjelas, aku BUKAN homoseksual. Aku seorang perempuan. Benar-benar perempuan…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“…yang secara tidak beruntung berada dalam tubuh laki-laki?” sambungku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya.” Jawabnya. Lalu kami terdiam. Aku tahu kami berdua saling berpikir untuk menanyakan beberapa hal, tapi takut akan salah omong, takut menyinggung, atau takut terdengar aneh. Ini sangat tidak mengenakkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi…Ibumu sama sekali tidak tahu soal “ini”?” tanyaku padanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Well, bukan benar-benar tidak tahu sebenarnya. Selama 16 tahun aku tinggal dengannya tentu saja dia menyadari beberapa keganjilan pada diriku. Tapi dia berusaha menutupinya, karena aku punya seorang adik laki-laki yang benar-benar laki-laki, dan Mama selalu berusaha mengalihkan perhatiannya pada Gary, adikku. Dia takut menerima kenyataan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya mendengarkan. Tidak berani berkata apa-apa. “…tapi Papa tidak bodoh. Dia tahu aku memang “beda” dan dia tidak menyalahkan itu. Asalkan aku tetap mau tampil sebagai “laki-laki” dan tidak menunjukkan identitasku sesungguhnya.” Ujarnya secara blak-blakan. Saat itu aku melihat seorang July yang sesungguhnya. Cewek normal yang sedang curhat pada sahabat yang dipercayainya.&lt;br /&gt;“Jadi Mamamu tetap tidak bisa menerima kenyataan?” tanyaku berlanjut. Aku tidak bisa menahan rasa penasaranku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Semacam itulah. Dia menganggap seolah-olah aku tidak ada, tidak terlihat. Dia tidak ingin mengakui bahwa dia melahirkan seorang anak perempuan, bukan laki-laki. Dan dia tahu dia akan merasa sangat bersalah bila akhirnya dia bisa menerima ini semua. Dia akan menyalahkan dirinya karena tidak makan dengan baik, tidak mengikuti nasihat dokter, atau semacamnya. Padahal Papa bercerita bahwa Mama sudah melakukan yang terbaik yang seorang Ibu bisa lakukan untuk memastikan anak pertamanya lahir sehat dan normal.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku sendiri tidak terlalu sering bertemu dengannya. Dia pun menganggap aku tidak ada. Jadi kau tidak akan bisa membayangkan bagaimana suasana di rumahku saat makan malam. Disana ada kami berempat, Papa akan menanyakan bagaimana hariku dan hari Gary, lalu setelah kami bercerita, Mama akan menanggapi cerita Gary dan membiarkan ceritaku tertelan waktu.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak bisa menjawab dengan kata apapun. Hidupku terlihat sangat indah bila dibanding dengan hidupnya. Aku dan Lilian, kakak dan adik, lahir normal, keluarga normal. Walaupun Papa jarang berada di rumah, tapi tiba-tiba hidupku terlihat sangat indah. Hidup normal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Darimana kau dapat nama July?” tanyaku setelah diam beberapa saat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak tahu, hanya saja kupikir seharusnya namaku memang July, bukan Julian. Seharusnya di akte lahirku tertulis nama itu. Dan aku sudah merasakannya sejak aku kecil. Saat aku berusia 7 tahun, saat ditanya siapa namaku, aku akan menjawab July, bukan Julian.” Katanya panjang lebar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila dilihat dari caranya bercerita yang blak-blakan, terlihat sekali bahwa dia memang membutuhkan seseorang uintuk tempatnya bercerita, menumpahkan semuanya, tidak ada kepura-puraan. Dia butuh setidaknya satu orang yang bisa diajaknya berbicara sebagaimana dirinya apa adanya setelah berpura-pura satu harian. Entah lah, aku tidak bisa membayangkan berpura-pura selama 16 tahun. Pasti sangat melelahkan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8007565526840934248-5491171793070656905?l=beyondureyes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://beyondureyes.blogspot.com/feeds/5491171793070656905/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8007565526840934248&amp;postID=5491171793070656905' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8007565526840934248/posts/default/5491171793070656905'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8007565526840934248/posts/default/5491171793070656905'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://beyondureyes.blogspot.com/2008/09/dua.html' title='Dua'/><author><name>Dandelion</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01021338332393636313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8007565526840934248.post-5100834993096721685</id><published>2008-09-04T04:27:00.000-07:00</published><updated>2008-09-04T04:29:02.382-07:00</updated><title type='text'>Satu</title><content type='html'>Pelajaran biologi belum pernah menjadi sebosan ini. sejak tadi hanya dijelaskan mengenai bakteri dan virus dan aku jelas tidak tertarik untuk mempelajari sesuatu yang tidak bisa dilihat dengan jelas bentuk fisiknya selain dengan mikroskop. Kenapa mereka harus menjadi sangat kecil? Dan kenapa juga orang-orang tampak tertarik mempelajarinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2 lembar kertas sudah menjadi korbanku untuk kocoret-coret dengan hal-hal yang bisa kulakukan saat aku sudah pulang nanti. Kuketuk-ketukkan penaku di atas meja dengan bosannya ketika tiba-tiba kurasakan kepalaku ditimpuk oleh sesuatu dari belakang. Aku mengangkat kepalaku dan melihat Peter nyengir dari 2 bangku belakang, kubuka kertas yang dilemparkannya dan di sana tertulis dengan tulisan berantakannya, “JAM 3 DI RUANG TEATER”. Kutengokkan kepalaku menghadapnya, “apa?” ujarku dengan tidak bersuara, tapi dia bisa membaca bahasa bibirku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pertemuan!” katanya dengan bahasa bibir juga. Aku membalasnya dengan ber”oh” yang juga tanpa suara. Pertemuan drama untuk perencanaan pementasan “The Miracle” memang sudah menjadi rutinitasku akhir-akhir ini. Tidak pernah ada kata bosan untuk drama, rasanya hidupku hanya untuk berakting di atas panggung, ditepuki, dan mendapat pujian dari hasil kerja kerasku untuk berpura-pura menjadi orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan aku menyukainya. Sangat menyukainya. Bahkan teman-temanku menyebutku “Drama Freak” dan aku tidak keberatan, aku memang suka drama dan aku rela mengorbankan waktu berpegianku demi latihan drama. Bel menandakan pelajaran harus berganti menjadi pelajaran Kimia bersama Bu Ross, dan aku jelas juga membenci pelajaran kimia, bukan gurunya loh! Karena Bu Ross menjadi salah satu pembela anak-anak teater untuk mengadakan pementasan di depan publik waktu tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bu Ross memasuki kelas dengan gaya khasnya, sepatu tinggi dengan rambut diikat ala French Twist dan memakai setelan yang selalu senada dari atasannya hingga antingnya, aku tidak pernah melihatnya memakai baju yang berbeda warna dengan bawahan atau sepatunya atau antingnya sejauh ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selamat pagi semuanya!” ujarnya riang. Kami hanya menjawabnya setengah-setengah. &lt;br /&gt;“Hari ini kita akan mengadakan diskusi, maka ibu memerlukan kalian untuk menjadi 16 kelompok, satu kelompok terdiri dari 2 orang, coba berhitung!” katanya, lalu kami pun berhitung mulai dari anak pertama di sebelah pintu hingga anak terakhir yang hampir tertidur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah! Siapa yang kelompok 1?” Tanya Bu Ross, Alina dan Rifki mengangkat tangan mereka, dan merekapun duduk berdua di bangku terdekat. Semuanya sudah berdua-dua hingga sampailah kelompok 15, yaitu aku. “Siapa yang kelompok 15?” Tanya Bu Ross, kuangkat tanganku sambil membereskan buku, siap pindah tempat duduk untuk berdiskusi dengan partnerku. Dan untuk sekilas aku melihat sekeliling untuk melihat siapa partnerku, dan sebuah tangan mengacung di udara, bersama dengan tanganku. Napasku serasa sesak. Fred! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan reflek aku segera merapikan rambut dan berpura-pura tidak tahu saat dia menghampiriku untuk duduk di sebelahku. “Disini?” tanyaku berusaha tenang, masih dengan posisi berdiri karena kupikir aku akan harus pindah ke tempat partnerku, bukan partnerku yang biasanya mengalah untuk duduk di dekatku karena umumnya semua orang malas pindah-pindah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, kalau kau ingin pindah ke tempat lain juga nggak apa-apa.” Katanya. Matanya yang tajam menatapku, membuatku gugup setengah mati. “Oh, eh, disini aja deh.” Kataku sambil duduk kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dasar payah! Kenapa aku harus gugup jika berada dekatnya? Dia hanya seorang Frederick yang tak lebih hanyalah pasanganku dalam memerankan Cinderella tahun lalu, dan kebetulan dia terpilih menjadi pangerannya. Harusnya dia yang gugup berdekatan dengan senior drama dan pemenang “Best Expression of The Year” dalam penghargaan akting tingkat provinsi sepertiku, tapi kenapa harus aku yang gugup? Dia cuma satu dari sekian banyak pendaftar yang kebetulan lolos dan menjadi lawan mainku. Walau harus kuakui, aktingnya lebih hebat dariku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ok, jadi yang harus kita lakukan adalah?” tanyaku padanya, berusaha membuka obrolan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Well, aku tidak tahu, aku tidak mendengarkan.” Katanya. Lalu kami tertawa. Setengah jam kemudian, aku dan dia sudah terlibat dalam diskusi dan pengerjaan soal-soal kimia untuk estimasi hasil percobaan dengan “serius”, walaupun sedikit banyak aku berusaha menunjukkan kalau aku juga bisa sepintar dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh iya, nanti jam 3 kita latihan loh di ruang teater” kataku berusaha mengingatkannya. “Oh ya? Tidak ada yang memberitahuku. Omong-omong, drama tahun ini apa ya?” tanyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“The Miracle.” Jawabku singkat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, tentang apa itu?” tanyanya. Aku baru hendak membalas ketika terdengar suara pintu kelas diketuk dan seorang anak yang entah siapa di luar pintu itu berkata dia membutuhkanku untuk keluar kelas saat ini juga, Bu Ross menyampaikan pesan itu dan memanggilku keluar.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Oh aku benci ini! aku sedang berusaha menikmati waktu bersenang-senang dengan Fred, apakah ada yang lebih baik selain ini? dan sekarang aku malah dipanggil untuk keluar kelas. “Maaf, aku harus pergi,” kataku, lalu segera berjalan meninggalkannya menuju pintu kelas.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dan reaksiku jauh lebih terlihat bahwa aku kaget daripada kaget sewaktu aku tahu bahwa aku sekelompok dengan Fred tadi, karena ternyata sosok yang menungguku di luar tak lain adalah Julian dengan proporsi tubuhnya yang tinggi menjulang dan wajah nan ganteng. Aku tidak tahu apakah aku masih bisa menyebutnya ganteng.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Julian? Ada apa?” tanyaku seolah malam di lapangan basket itu tidak pernah ada. Seolah sebuah pengakuan yang sangat jujur itu tidak pernah keluar dari mulutnya, seolah aku dan dia hanya dua dari sekian banyak orang yang berlalu lalang di dalam gedung ini. Dia menatapku lekat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Bu Tracy membutuhkanmu.” Katanya. Lalu dia memimpin jalan menuju ruang teater dan aku hanya bisa terdiam sepanjang jalan. Diapun juga terdiam. Aku tidak tahu aku harus menganggapnya apa mulai sekarang. Sebagai Julian, atau July? Aku bingung harus bersikap apa padanya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kaki Julian berbelok dan tak lama kemudian kami sudah berdiri di dalam ruangan besar berlantai kayu dengan panggung kecil yang langsung terlihat saat membuka pintu. Kesan yang ditimbulkan ruangan ini selalu menyenangkan untukku. Langit-langitnya tinggi dan lantai kayunya selalu memberi atmosfir hangat. Di sisi kanan panggung terdapat sebuah pintu menuju backstage yang langsung terhubung ke ruang make-up dan ruang kostum. Inilah Ruang Teater yang selalu kusuka.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Ibu memanggil saya?” tanyaku pada Bu Tracy, guru dramaku, yang sedang sibuk mengatur properti-properti. “Oh kamu datang juga!” katanya saat sudah berbalik menghadapku.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Ibu memanggilmu saat ini, karena….” Dia terdiam sesaat, “karena Ibu ingin memberitahu bahwa drama tahunan sudah dekat dan beberapa pertemuan sudah sering kita lakukan, Ibu juga sudah menanyai hampir semua orang yang tahun lalu terlibat drama Cinderella untuk memilih penerus Geraldine, dan semua orang setuju bahwa kamulah yang pantas menggantikan Geraldine berhubung dia sudah lulus, jadi ibu ingin kamu memimpin drama tahun ini,”Katanya dengan tenang, lugas, dan jelas. Nada bicaranya seolah sedang membicarakan apa yang sebaiknya menjadi pilihan makanannya di restoran.&lt;br /&gt;Aku terdiam untuk mencerna semua perkataannya. Aku? Memimpin drama? Suka sih suka, tapi kalau dalam hal memimpin, aku tidak yakin.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Kamu akan mengurus pembagian tokoh, menunjuk pengurus naskah, menunjuk pengurus dekorasi, dan juga membentuk tim untuk mengurusi kostum dan propertinya.” Katanya lagi. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi..tapi aku tidak yakin aku bisa mengurus keseluruhan drama ini, Bu! Maksudku, aku memang suka berakting, tapi…” &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Bagaimana kalau dia dan saya saja yang mengurus semua ini?” Tanya Julian tiba-tiba, menyela kata-kataku. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kupelototi matanya, tapi dia malah membuang muka. Bu Tracy terdiam beberap detik lalu berkata, “Ide yang bagus Julian! Ide yang bagus! tapi bagaimana dengan latihan basketmu? Kamu kan juga anggota tim basket?” Tanya Bu Tracy. Aku ingin memprotes lagi tapi tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutku.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Saya pikir saya bisa menjalankan keduanya, karena basket tidak akan mengadakan latihan kecuali bila sudah mendekati musim tanding, dan itu masih 2 bulan lagi.” Katanya menjelaskan. Aku benar-benar kehabisan kata-kata. Apa yang kudengar ini benar? Untuk apa sih orang ini susah-susah mengangkat dirinya menjadi pemimpin pementasan drama, bersamaku, sementara aku sendiri ingin sekali menukarkan posisiku dengan orang lain. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Aku keluar dari ruang teater diikuti oleh Julian. Saat sudah sampai di depan kelas, kubalikkan badanku menghadapnya. “Kenapa kau mau mencalonkan dirimu menjadi partnerku untuk mengurus pementasan ini?” tanyaku dengan nada suara se-normal mungkin.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Kenapa tidak? Mengurus keseluruhan pementasan kan tidak mudah, dan aku memang berniat membantu,” katanya lagi dengan simple sambil mengangkat alisnya. Ok, sekarang aku benar-benar tidak bisa membedakan yang mana Julian yang mana July. Dia tampak seperti sangat “laki-laki” dan aku tidak bisa melihat July dalam dirinya saat itu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Sungguh kau sangat Julian!” ucapku sambil membuka pintu kelas. “Aku tetap July,” katanya padaku sebelum aku menutup pintu di depan mukanya dan kata-kata itu hanya aku yang bisa mendengar, dan hanya aku yang mengerti&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8007565526840934248-5100834993096721685?l=beyondureyes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://beyondureyes.blogspot.com/feeds/5100834993096721685/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8007565526840934248&amp;postID=5100834993096721685' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8007565526840934248/posts/default/5100834993096721685'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8007565526840934248/posts/default/5100834993096721685'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://beyondureyes.blogspot.com/2008/09/satu.html' title='Satu'/><author><name>Dandelion</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01021338332393636313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8007565526840934248.post-5846769820039691424</id><published>2008-09-04T03:01:00.000-07:00</published><updated>2008-09-04T03:03:23.069-07:00</updated><title type='text'>epilog</title><content type='html'>Angin tidak bertiup dan tidak ada bintang di langit saat aku bertemu untuk pertama kalinya dengan Julian yang sebenarnya, atau harus kupanggil July? &lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;“Memang ini lah aku, tidak salah kan?” tanyanya dengan mata penuh harap padaku, matanya yang bulat dan besar dan cokelat gelap menatapku. Aku tidak berani menatapnya, kubuang mukaku sejak tadi darinya. Akhirnya aku menggeleng. Dia tersenyum lalu berkata lagi, “Baguslah. Aku sudah takut kau akan meninggalkanku seperti orang-orang lainnya, tapi ternyata kau memang beda” katanya lagi. Aku hanya terdiam, tak mampu berkata-kata. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Suara bola basket yang dipantulkan di atas lapangan malam hari itu terdengar lebih jelas dari apapun. Tidak ada orang lain, hanya aku, dan July…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8007565526840934248-5846769820039691424?l=beyondureyes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://beyondureyes.blogspot.com/feeds/5846769820039691424/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8007565526840934248&amp;postID=5846769820039691424' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8007565526840934248/posts/default/5846769820039691424'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8007565526840934248/posts/default/5846769820039691424'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://beyondureyes.blogspot.com/2008/09/epilog.html' title='epilog'/><author><name>Dandelion</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01021338332393636313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
